x

Iklan

ef fattah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 November 2021

Selasa, 30 November 2021 14:33 WIB

Bagaimana Kita Memandang Uang

Kita membenci mereka yang rakus,haus,lapar,tamak,serakah pada uang dengan menggunakan cara-cara licik untuk menggapainya. Orientasi hidup berlandaskan materi menjadikan manusia berbondong-bondong mengejarnya. Namun,uang bukanlah sesuatu yang jahat dan tidak semestinya dipandang demikian.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Wajah saya mengernyit dan otak saya membuntu mencoba mencari alasan yang masuk akal mengapa seorang ibu di Sulawesi tenggara tega ‘menjual’ anaknya ke dukun demi kekayaan. Sekalipun di-scan menggunakan mesin MRI tidak akan ditemukan bagian pada otak yang memuat alasan untuk membenarkan perilaku keji tersebut, karena kejadian itu memang tidak masuk di otak sehingga tidak bisa ‘diakali’.

Inilah kebodohan yang sesungguhnya. Persetubuhan dengan iming-iming harta? ’Kerjasama’ semacam ini memang menghasilkan uang tapi sepertinya si Ibu ini terlalu ‘polos’. Ia mendefenisikan secara berbeda ‘kerjasama’ dengan kebanyakan dari kita. Lagipula mengapa hal-hal ajaib semacam ini sering kali terjadi di negara kita yang mayoritas ber-Tuhan? Sepicik itukah pandangan mereka tentang harta sehingga akidahnya rela digadaikan?

Secara pribadi saya sangat membenci segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hitam, merah, kuning, hijau, silahkan tambahkan sesukanya. Kategori alim masih jauh dari jangkauan saya tapi kata ‘tumbal’ sangat mengganggu. Selalu ada hal yang harus dikorbankan untuk menggapai sesuatu itu memang betul. Kita tidak membutuhkan motivator yang handal untuk menceramahi. Tapi, mata dicongkel dan mengizinkan dukun menyetubuhi seorang anak bukankah sebenarnya sudah cukup untuk membuat seseorang berfikir bahwa ada yang ganjal dengan ritual ini?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebenarnya kita memandang harta dengan lensa yang sama. Powerfull. Banyak hal yang bisa digapai dengan uang meskipun tidak segalanya. Namun, tidak semuanya harus dikorbankan demi uang karena belum tentu segalanya akan digapai.

Saya yakin kita semua pasti marah dan kesal ketika ketamakan dan sifat rakus terhadap materi mengorbankan anak-anak dan mereka yang kurang beruntung. Para mahasiswa yang idealis jangan percaya diri bahwa mereka nantinya akan kebal terhadap pengaruh tahta dan harta ketika berstatus pejabat. Mereka yang korupsi awalnya baik-baik saja sampai merasakan betapa nikmatnya berharta .Ada celetukan “seandainya saya kaya saya akan menyumbangkan banyak uang”. Itulah kenapa Anda tidak kaya-kaya karena percaya dengan keutamaan dan kekuatan sedekah namun menangguhkan protokol kebaikan itu sementara ajaran islam yang diyakini menyarankan untuk bersedekah baik dalam keadaan lapang ataupun sempit.Manusia memang tau bagaimana menyombongkan diri diatas kelebihan orang lain.Jika mereka kaya harta saya harus kaya hati. 100% akurat .Orang harus memahami bagaiamana sesuatu bekerja agar bisa mengambil keuntungan dan membuang kemudharatan padanya. Nilai melebihi bentuk.Uang hanya secarik kertas sampai kita menaruh angka didalamnya.

Bagaimana sebenarnya cara terbaik memandang uang? Beberapa diantara manusia memandang picik manusia yang lain karena harta.Yang kaya sering diasosiasikan dengan kecongkakan, hedonism, riya, dan segala atribut buruk sebagai afirmasi bahwa yang menyampaikan jauh lebih baik dibanding mereka.

“Dia memang kaya,tapi….”

“Percuma kaya harta,kalau…”

“Harta tidak akan dibawa mati,mereka akan di…”

“Mereka berperilaku seenaknya karena memiliki banyak uang”

“Ah,yang kaya juga orang tuanya”

Seberapa banyak dari kita yang sering mendengar orang berkomentar mengenai kelebihan seseorang kemudian menambahkan ‘tapi’ yang pada akhirnya mengubur kebaikan dari orang tersebut.Keramahan yang terselubung.Ia memuji orang lain untuk mengangkat dirinya sendiri.Kesombongan tidak terbatas pada harta.Jika ia tidak memiliki kekayaan yang melimpah,maka ia membanggakan ibadatnya ataupun ilmunya yang luas.Apakah kekurangan membuat kita membenci yang lainnya?Sangat mustahil rasanya menjadi sosok yang menyenangkan bagi setiap orang.Akan selalu ada orang yang menjadikan olok-olok sebagai senjata untuk merendahkan orang lain dan menjunjung dirinya sendiri.”ah..ternyata saya masih jauh lebih baik dibanding mereka” inilah narasi yang ada di otak para pecinta gossip.

Setiap manusia tentunya menginginkan kehidupan yang berkecukupan.Sekalipun bagaimana kita memaknai ‘kecukupan’ berbeda antara satu dengan yang lainnya.Kemiskinan berbanding lurus dengan kejahatan.Sekalipun kejahatan tidak selalu lahir dari kemiskinan.Kekayaan dan kemisikinan sama-sama berpotensi mendorong seseorang untuk berperilaku jahat,kotor,dan hina.Bukankah para koruptor itu memiliki aset yang berlimpah?Bayangkanlah.Apakah Anda lebih memilih menjadi pejabat kaya korup dengan merampas hak orang lain atau menjadi orang miskin yang ingin kaya dengan metode pesugihan?Jika si miskin kaya mungkinkah ia secara otomatis meninggalkan dunia magi tersebut?Sebaliknya jika si pejabat miskin mungkinkah ia akan lebih rendah hati dan mencukupkan hak orang lain?Hmm..maaf..saya lupa,memang ada yah pejabat yang miskin?

Saya pikir bagaimana kita memandang uang menjadi penting.Uang bukan setan dan semestinya tidak dianggap seperti itu.Meskipun mengundang kejahatan tapi kita punya pilihan bukan untuk tidak menghadirinya?Memang banyak kisah-kisah yang menceritakan bagaimana seseorang rusak karena kecintaannya yang berlebihan terhadap harta.Tapi diujung dunia lain kita melihat bagaimana tokoh filantropi seperti Warren Buffet,Bill Gates,Jeff Bezos,Mark Zuckerberg menyumbangkan banyak dana untuk kegiatan amal.Kita punya pilihan untuk menengok contoh yang baik dalam memanfaatkan harta dan kekayaan.Meskipun ada juga sosok-sosok yang memonetisasi kedermawanan.No judging.Tertutup dan terbuka sepenuhnya menjadi hak mereka.Menurut Imam Al Ghazali memberikan sedekah dengan sembunyi-sembunyi dapat terselamat dari riya dan kemasyuran.

Sangat penting bagi kita untuk menyadari bagaimana cara memperoleh harta dan membelanjakannya.Waktu adalah objek tumbal yang legal.Pencapaian apapun membutuhkan waktu,tenaga,kerja keras,dan doa.Yang instan tetap instan.Tidak ada kebaikan didalamnya melainkan cuma sedikit.Kita menghargai sesuatu yang diperjuangkan dan merawatnya secara hati-hati.Pernahkah Anda menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menikmati momen kekenyangan?Santapan makan siang yang begitu lezat sanggup menghempaskan Anda kebelakang kursi sebagai bentuk kepuasan dan seketika sirna ketika pikiran Anda kembali ke meja kerja dengan tumpukan berkas yang menggunung.

Di level manapun kita saat ini jika ditinjau dari sisi kepemilikan harta baiknya menanamkan secara seksama dan menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa setiap hal yang kita kerjakan baik ringan maupun berat,sedikit ataupun banyak,konsekuensi akan selalu menyertainya.Kekurangan uang memang menyakitkan sementara kita menyaksikan sebagian yang lain begitu ‘mudah’ memperolehnya.

''Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.''

 

Ikuti tulisan menarik ef fattah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan