Bantengan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Aditya Wardhana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 November 2021

Rabu, 1 Desember 2021 21:26 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bantengan


    Dibaca : 166 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    BANTENGAN

     

    “Pasukan, bubar.. Jalaaan!!!”

     

    Perintahku yang terakhir kali sebagai pemimpin upacara menggema di lapangan sekolah. Duduk di bangku kelas tiga SMP, aku harus fokus menghadapi EBTANAS, Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Pihak sekolah sudah memilih pemimpin upacara yang baru dari junior kelas dua. Sebagai pemimpin upacara aku merasa berwibawa dan bisa memerintah orang, tidak hanya siswa tapi juga para guru, termasuk guru olahraga sadis yang dulu pernah menggunduli rambutku ketika ada beberapa helai rambut memanjang melewati daun telinga.

    Selepas upacara Hari Kesaktian Pancasila, sekolah usai. Tidak ada pelajaran. Hari yang tepat untuk melampiaskan keinginan bermain karena setelah ini, hari-hariku akan dipenuhi belajar, belajar dan belajar. Demi nilai NEM yang tinggi agar bisa menembus SMA favorit.

     

    SMP ku juga favorit, nomor wahid se kabupaten. Gedungnya sudah berumur tua, peninggalan Belanda, masih kokoh bercokol di pinggir jalan utama kabupaten, jalan yang menghubungkan dua keraton besar Jawa. Di sebelah kiri, berdiri Markas Kodim sedangkan di sebelah kanan, berbatasan dengan tembok perkasa Lembaga Pemasyarakatan yang dimahkotai kawat berduri. Coba bayangkan kemana para siswa SMP ini bisa bolos sekolah. Belajar, belajar dan belajar adalah kegiatan utama. Hanya segelintir siswa yang berkategori nakal. Kriterianya adalah pernah bolos pelajaran dan merokok. Celah membolos terdapat di tembok belakang. Ada secuil bagian yang bolong, bisa menjadi celah kabur dari sekolah. Tujuan kabur adalah warung soto di samping stadion. Merokok di warung soto ini aman karena di dapur ada tungku besar berbahan bakar kayu yang tak henti mengepulkan asap pekat. Dijamin badan dan baju bau sangit ketika nongkrong di depan tungku. Jejak asap rokok hilang dilumat aroma kayu terbakar.

     

    Setiap bulan puasa, Dinas Pendapatan Daerah menyelenggarakan turnamen sepakbola di stadion itu. Peserta turnamen adalah klub-klub se-karesidenan. Meski kelas amatir, kadangkala ada klub yang ngebon alias menyewa pemain professional. Mataku pernah menyaksikan kecepatan lari Tugiyo atau lincahnya Ribut Waidi merumput di stadion. Sampai dewasa, aku tak bisa mengerti mengapa turnamen yang menguras keringat dan mengeringkan tenggorokan itu digelar di bulan puasa. Yang jelas, para pemain yang berlaga tak ada yang berpuasa. Sebagian penonton asyik bertaruh di bawah tembok batu yang melingkari stadion, entah yang bertaruh itu puasa atau tidak. Memang di kabupatenku, kelompok abangan sama kuatnya dengan kelompok santri.

     

    Selepas upacara Kesaktian Pancasila, aku mengajak Ino untuk main ke rumah Syawal. Kami bertiga bersepeda. Aku naik sepeda Phoenix warna hijau, memboncengkan Ino. Syawal mengendarai Federal Streetcat bercat biru muda yang masih bau toko alias anyar gres. Kami mampir ke rumah Ino yang reyot. Temboknya hanya selutut, seterusnya sampai ke atap menggunakan gedek yang dilapisi kapur tebal. Jangan coba-coba bersandar jika tak ingin tubuh berlumuran kapur. Ino hidup berdua dengan Ibunya, Mak Laksmi. Tidak banyak barang di dalam rumah Ino yang remang itu. Satu set kursi rotan dan lemari dengan kaca buram penuh tempelan stiker. Di atas lemari tergeletak foto kusam. Gambarnya seorang pria berambut ikal, kedua tangannya mengangkat bayi ke udara. Wajah si pria tertawa bangga. Badannya gempal hanya mengenakan rompi jeans. Di dada kanan tergambar tatto Kelabang. Di samping pria itu, berdiri seorang perempuan yang turut tersenyum bahagia. Foto itu seperti adegan Diego Maradona yang mengangkat trofi Piala Dunia setelah mencetak gol tangan Tuhan. 

     

    Foto itu satu-satunya jembatan yang menghubungkan Ino dengan bapaknya, Saiman. Dulu, Saiman adalah tukang jaga sepeda di Mbaben, lokalisasi di Kabupaten kami. Disebut Mbaben karena sebagian warganya memelihara babi. Sebagian lagi membuat ciu, arak tradisional dan membuka rumah bordil. Biasanya Saiman pulang ke rumah dalam keadaan mabuk ketika matahari terbit. Selalu pulang, lalu tidur lelap di rumah. Tiba-tiba, suatu hari Saiman menghilang tanpa jejak, tanpa pamit, tak ada kabar. 

     

    Di bawah foto itu, tergeletak buku gambar bersampul kuning. Di dalamnya dipenuhi gambar gunung, botol-botol, perempuan muda setengah telanjang, tong sampah, kandang babi, parkiran yang penuh sepeda, macam-macam gambar. Aku mengagumi bakat menggambar Ino. Tersisa satu lembar halaman terakhir yang masih kosong. Entah gambar apa yang akan dilukis Ino dengan sebatang pensil.

     

    Untuk menyambung hidup, Mak Laksmi menerima jahitan. Sekali dua kali, Mami menjahitkan seragam ke Mak Laksmi. Jika lebaran, Mami juga mengirimkan bingkisan.

    “Hati-hati Den. Salam buat Kanjeng Mami,” pesan mak Laksmi sewaktu kami pamitan. Namaku bukan Raden, tapi Mak Laksmi selalu memanggilku Den. Aku satu-satunya teman yang diijinkan Mak Laksmi untuk mengajak Ino, anak semata wayangnya pergi. Syawal sekalipun tak bisa.

     

    Kami bertiga akrab sejak kelas satu SMP. Ino dan Syawal duduk sebangku di deretan kedua dari belakang. Deretan yang strategis sebab jarang diperintah guru untuk maju mengerjakan soal. Sedangkan sebagai ketua kelas, aku duduk di bangku paling depan, dekat pintu. Di sela-sela libur semester, kami mendaki gunung di sekitar Kabupaten kami. Kami pernah mendaki Gunung Merapi, Merbabu dan Lawu. Suatu ketika, darah muda kami bergejolak. Kami berambisi menaklukan gunung kembar, Sindoro - Sumbing. Untuk merayakan kegagahan kami, aku membawa sebotol ciu. Namun, keperkasaan alam mudah sekali menundukkan nafsu remaja kami yang baru merekah. Setelah turun dari Sindoro, kaki Ino keseleo, tak sanggup lagi mendaki Sumbing. Ino merutuki dirinya. Untuk menghibur Ino, aku membuka ciu, yang seharusnya diminum ketika di puncak Sumbing, yang gagal kami capai. Syawal tidak pernah ikut minum Ciu dan merokok. Setengah teler, kami tertawa-tawa dan bercerita apa saja. Meski tidak mabuk, Syawal mengakui naksir teman sekelas yang paling manis. Aku ceritakan rahasia dua orang guru yang bercumbu di ruang UKS ketika Persami, Perkemahan Sabtu Minggu. Sebagai pemimpin regu, aku hendak ke ruang UKS untuk mengambil obat karena ada anggota yang sakit. Dari balik pintu UKS, aku mendengar suara lenguhan persetubuhan. Kelamin Ino dan Syawal menegang mendengar ceritaku. 

     

    “Mungkin isih mendem, lali ngomah (mungkin masih mabuk, lupa pulang ke rumah)” tiba-tiba Ino nyeletuk. Kami lalu terdiam. Beberapa kali Ino bicara begitu jika teringat bapaknya yang hilang lebih dari 10 tahun silam. Terdengar getir tapi juga mengandung pengharapan suatu hari Saiman akan kembali pulang, jika sudah sadar dari mabuknya. 

     

    Rumah Syawal ada di pedesaan. Lumayan jauh. Kami bersepeda melewati sawah-sawah yang subur akibat kemurahan hati Gunung Merapi. Pepohonan yang rindang di pinggir jalan dan gemericik air irigasi yang jernih. Tetapi kami juga harus melalui Kali Bantengan. Jalannya menikung ke kanan lalu turun curam sampai jembatan lantas menanjak naik tinggi. Kali Bantengan terkenal wingit. Dulu, orang-orang yang dituduh PKI, ditangkap, dibantai lalu mayat-mayatnya dibuang ke Kali Bantengan. Ada yang mati dipenggal kepalanya. Ada yang disuruh berbaris tiga-tiga lalu perutnya ditusuk bambu runcing sampai tembus, seperti sate. Setelah puluhan tahun, cerita-cerita memedi pun merebak ke seantero Kabupaten. Arwah-arwah penasaran itu menjadi penunggu Kali Bantengan. Yang dipenggal kepalanya menjadi hantu gundul pringis, penampakan kepala sambil meringis kesakitan. Yang ditusuk bambu, menjelma menjadi setan sate, jalan beriringan dengan perut tertusuk bambu runcing dan usus terburai. Barisan memedi di Kali Bantengan bertambah beberapa tahun kemudian. Setelah aku lahir, muncullah Petrus, penembakan misterius. Penguasa memburu para gali, bromocorah, preman, begundal, pria bertato lalu dor...door..dooor!! Tanpa pengadilan, nyawa mereka dicabut dan mayatnya dicampakkan ke Kali Bantengan.

     

    Dari cerita mulut ke mulut, nama Kali Bantengan sendiri konon berasal dari kebiasaan seniman Bantengan tapa kungkum di sungai, demi meraih ilmu kebal. Berendamnya pun sembari mendekap topeng Bantengan yang akan mereka kenakan untuk berpentas. Jika berhasil menamatkan semedi, para seniman Bantengan beserta topengnya bakal tampil kesetanan disertai atraksi di luar nalar. Aliran sungai berarus deras dengan bebatuan besar. Kali Bantengan merupakan batas alam yang memisahkan daerah perkotaan dengan pedesaan di Kabupaten. Tak ada yang berani melintasi Kali Bantengan jika senja tiba.

     

    Deru mesin penggiling padi menyambut kami di rumah Syawal. Orangtua Syawal punya sawah luas dan penggilingan padi satu-satunya di desa itu. Rumahnya besar dengan banyak kamar-kamar. Lebih besar dibanding rumah kepala desa. Sebagai anak bungsu dari banyak saudara, Syawal kebagian kamar paling belakang dekat dapur dan sumur. Kami senang di kamar ini sebab sejuk, tidak bising dan dekat sumber makanan. Bu Haji, Ibunya Syawal menyediakan jajan pasar dan kopi untuk para pekerja penggilingan padinya. Sedangkan pak Haji tak pernah beranjak dari singgasananya, meja kasir. Sebelum adzan berkumandang. Pak Haji bergeser ke masjid di samping rumah yang dibangun di atas tanah wakafnya. Mimbar khatib adalah singgasananya yang kedua. Ceramah pak Haji bermacam-macam. Di bulan berakhiran ber-ber, pak Haji selalu berceramah bahaya kebangkitan komunis. Dulu ketika prahara 65, di bawah perlindungan tentara, pak Haji muda berjihad, memburu orang-orang yang dicap anti Tuhan. Jihad paling besar bagi orang yang berTuhan.

     

    Selepas sholat asar di Masjid samping rumah Syawal, aku membalik kaset Nirvana dari side B kembali ke side A. “Load up on guns, bring your friends. It’s fun to lose and to pretend

    Teriakan Kurt Cobain dari tape Sony, aku timpa sembari menghembuskan kepulan asap rokok kretek.  Syawal mengutak-atik rangkaian speaker yang rusak. Ino juga merokok dengan wajah gelisah. Beberapa kali Ino mengajak pulang. Aku masih enggan meninggalkan keasyikan ini.

    Mesak’e ibukku (kasihan Ibuku)” pinta Ino.

    Sik tho, isih penak iki (sebentar dong, masih enak niih),” ujarku yang malah menambah kegelisahan Ino.

     

    Matahari mulai rebah ke barat. Kami berdua berpamitan ke bu Haji untuk pulang. Aku menggenjot Phoenix sekencang mungkin. Ino diam saja tapi sorotnya mengiba agar kami lekas sampai di rumah. Di ujung jalan yang akan menurun ke arah Kali Bantengan, aku mengerem Phoenix. Dadaku bergemuruh, di bawah sana terbentang Kali Bantengan yang angker. Rembang petang yang redup. Jalanan sepi. Hanya kami berdua dan si Phoenix. Cerita-cerita memedi berkelebat di kepalaku. Bulu di tengkuk meremang. Ino masih diam saja. 

     

    “Bismillah…” ucapku sambil menggenjot pedal. Ino tetap diam saja.

     

    Phoenix meluncur deras di turunan, aku tidak mengerem agar kami bisa melaju cepat melewati jembatan Kali Bantengan dan segera meninggalkan tempat jahanam itu. Aku memandang lurus ke depan, tak berani melirik dari sudut mata. Roda belakang Phoenix meninggalkan batas jembatan, aku berdiri di atas sadel, saatnya menggenjot yang kuat karena tanjakan yang curam. 

     

    Di tengah tanjakan, tiba-tiba Ino turun dari boncengan lalu berlari mendahuluiku. Aku kaget sekali. Kupanggil-panggil namanya, Ino terus berlari kesetanan. 

     

    Di ujung tanjakan, Ino berhenti. Aku segera menghampirinya. Badan Ino penuh keringat, nafasnya memburu. Wajahnya ketakutan. Matanya melotot. Tangan kanannya menunjuk ke arah Kali Bantengan. “Aaaah...aaaah…” suaranya tercekat di tenggorokan. Aku melempar pandangan ke arah jembatan. Tak ada siapa-siapa dibawah sana. “Aaaah...aaaaah” Ino tiba-tiba roboh tak sadarkan diri.

     

    Sejak kejadian petang itu, Ino menjadi bisu dan linglung. Ia tak lagi bisa bersekolah. Sehari-hari hanya di rumah dengan tatapan mata yang kosong. Aku masih rajin mengunjungi Ino. Sambil merokok, aku melihat Ino menggambar. Tapi Ino menggambar hanya satu goresan per hari di halaman terakhir buku gambar sampul kuning. Setiap tahun, barulah jadi gambar utuh. Tahun pertama, Ino menggambar jembatan Kali Bantengan. Di tahun kedua, Ino menambahkan gambar seseorang yang duduk di jembatan sambil memangku kepalanya yang meringis kesakitan. Di tahun ketiga, pas aku lulus SMA, Ino menambahkan gambar tiga orang yang berjalan melewati jembatan dengan tusukan bambu panjang di perut mereka. Aku tercekam melihat gambar Ino sampai tanpa sadar api rokok kretek membakar jariku.

     

    Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah ke luar pulau. Di bangku kuliah, pikiranku selalu menebak-nebak gambar apa yang sedang digoreskan Ino. Ketika Lebaran, aku pulang kampung. Aku bergegas ke rumah Ino. Seperti biasa, Ino membisu di pintu rumah. Aku segera masuk dan mengambil buku gambar dari atas lemari. Pelan-pelan kuletakkan foto keluarga Ino agar tak sobek.

     

    Aku menahan napas sembari membuka lembaran terakhir buku gambar.

    Kali Bantengan, hantu gundul pringis yang duduk di jembatan, serangkai setan sate yang berjalan beriringan dengan bambu menancap di perut mereka. Lalu, di ujung jembatan ke arah tanjakan, Ino menggambar sosok pria berambut ikal yang berdiri melambaikan tangan. Rompi jeansnya terbuka. Di dada kanan ada tato Kelabang. Di dada kirinya, ada lubang peluru yang terus mengucurkan darah.

     

    Aditya Heru Wardhana, penulis

    Ikuti tulisan menarik Aditya Wardhana lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    13 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali