Hidupku Tak Seindah Kostumku

Minggu, 5 Desember 2021 12:58 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

cerita ini menceritakan perjuangan remaja putri yang menjadi seorang badut untuk membantu perekonomian keluarganya, Widuri adalah tokoh utama yang mempunyai karakter sabar dan bertanggung jawab. cerpen ini mempunyai pesan moral, sosial, agama yang dapat diambil hikmah bagi para pembacanya.

         Senja perlahan mulai menghilang, tanda malampun akan segera datang. Langkahku seakan begitu berat, dan kakiku seakan tak mampu menopang tubuhku yang terasa lelah. Aku berjalan sendiri menyusuri jalan yang terasa sepi walau kenyataannya terdengar lalu lalang dan suara kendaraan yang begitu riuh terdengar. Sejenak aku berhenti dan duduk dibawah pohon, ditengah kota yang begitu ramai dan terkenal akan pesona budaya dan pariwisatanya. Jogja, adalah kota kelahiranku 17 tahun yang lalu. Masih teringat jelas dalam ingatanku dimana aku sempat merasakan bahagia, Widuri itulah namaku. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan jauh dari kata berkecukupan. Bapakku dulu seorang kontraktor, ibuku seorang ibu rumah tangga pada umumnya, aku mempunyai seorang adik perempuan yang hanya terpaut 2 tahun dariku, namanya Ajeng. Hingga suatu hari perusahaan tempat bapak berkerja mengalami kebangkrutan, dengan begitu cepat semua berubah, sampai akhirnya aku harus menerima kehidupanku yang seperti sekarang ini.

       “Assalamualaikum” ucapku sambil membuka pintu rumah yang hampir 6 tahun ini kami kontraki. “waalaikumsalam” jawab bapak sambil memutar kursi roda, ya, sudah hampir 2 tahun ini bapak hanya dapat bergantung pada kursi roda setelah ia mengalami kecelakaan, “ibu belum pulang pak?” tanyaku sambil kuletakkan bungkusan nasi dan lauk yang sempat aku beli. “Belum katanya pulang agak malam, karena laundry tempat ibumu berkerja sedang ramai” jawabnya “bapak sudah makan?” tanyaku sambil kuambil piring dan kuletakkan meja “kamu makan dulu sama adikmu, nanti bapak menyusul” jawabnya singkat sambil memegang kepalanya. Ibu bekerja di tempat laundry didekat rumah kami, beliau berangkat pagi-pagi, bahkan jika sedang ramai-ramainya bisa pulang sampai malam. Sebenarnya aku tidak tega melihat ibu berjuang membanting tulang  untuk kami, tapi hidup harus terus berjalan, kita tidak bisa berpangku tangan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

         Pagi ini seperti biasa aku berangkat bekerja disebuah kebun binatang di Jogja untuk menjalani profesiku sebagai seorang badut setelah hampir 2 tahun aku memutuskan berhenti sekolah. Kulambai-lambaikan tanganku, sambil menari-nari kecil, awal-awal agak terasa berat kostum ini tapi sekarang aku sudah mulai terasa terbiasa. Hampir 6 jam setiap hari aku berada dalam tubuh badut ini, seolah tanpa letih aku menemani dan menyapa pengunjung terutama anak-anak, mereka sering meminta foto bersama kostumku dan seakan tiada beban, kulihat dari dalam kostum yang kurasa sangat gerah karena kebetulan saat ini sedang musim kemarau. “Senyum” ucap mereka yang selalu berfoto denganku, walau terkadang dalam hati aku ingin sekali menangis, tapi aku terpaksa menerima pekerjaan ini karena aku sadar lulusan SLTP sepertiku sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Putri, adalah nama temanku yang mempertemukan aku dengan kostum badut ini, ia adalah anak dari petinggi tempat aku bekerja sekarang ini, ia dulu teman waktu aku masih sekolah. Hanya ia satu-satunya teman yang tidak pernah menganggap aku beda, yang tidak pernah merendahkanku dari sekian banyak teman yang selalu menganggapku sebelah mata. Dalam ketidakmampuanku aku masih bersyukur, Allah SWT. Masih mengirim orang-orang baik untuk menolongku.

               Hari ini tugasku belum selesai, setelah menjadi badut di kebun binatang aku juga menjalani profesi pengamen pada lampu merah tentunya dengan kostum badutku. Lampu merah di perempatan kota telah menyala, pertanda aku harus bergegas mencari keping-keping rupiah untuk menambah rizkiku hari ini, dengan kostum badutku aku berjalan kearah para pengguna jalan yang sudah berhenti, ku goyang-goyangkan tanganku sambil menari-nari kecil, kusodorkan kaleng kecil berharap ada yang memberi rupiah padaku. Inilah pekerjaan keduaku setelah pulang dari menghibur orang-orang di kebun binatang. Baju badutku ini memang sengaja aku minta untuk aku bawa pulang agar dapat aku pakai untuk mencari tambahan uang. Dari lampu merah jalanan ini aku menemui begitu banyak sifat-sifat manusia ada yang memandang aku lucu, ada yang menghinaku bahkan ada pula yang menertawakanku. Aku tidak pernah memusingkan semua itu, yang aku tahu rizki halal yang aku peroleh bisa membantu keluargaku, walau dalam lubuk hatiku ada rasa yang tidak pernah satu orangpun tahu, kecewa, ya kata itu yang mungkin mampu mewakili perasaanku, kecewa pada takdir hidupku, pada keluargaku terlebih pada pekerjanku yang harus meminta belas kasihan orang lain.

“Assalamualaikum” ucap aku dan ibu sambil membuka pintu “waalaikumsalam” jawab Ajeng adikku. “Bapakmu kemana nduk?” Tanya ibu pada ajeng “dari tadi habis sholat isya bapak sudah istirahat di kamar Bu” jawab Ajeng sambil mematikan tv, “pyar……” terdengar jelas suara itu dari kamar tempat bapak beristirahat, seketika aku dan ibu pergi untuk melihat kondisi bapak, “ada apa pak? Bapak baik-baik saja to?” Tanya ibu sambil memungut serpihan-serpihan gelas yang pecah. “bu... tadi pemilik kontrakan datang, mau nagih uang kontrakan yang sudah 2 bulan lebih tidak di bayar, sampai kapan kita harus seperti ini terus bu, sampai kapan ibu mau jadi buruh gosok dan nyuci? Duh gusti kenapa aku harus mengalami takdir ini, kenapa aku hanya bisa berdiam diri dikursi ini, kenapa bu?” ujar bapakku sambil memukul kepalanya. “bapak… bapak yang kuat, yang sabar, Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya” ucap ibu perlahan. “kurang sabar gimana lagi bu?” suara bapak terdengar keras, aku masuk dan kudekati bapak sambil membawakannya segelas teh hangat untuknya “Ri… sampai kapan kamu mau jadi badut? Ditertawakan,direndahkan, apa nggak bisa kamu mencari pekerjaan lain yang lebih baik? Lebih terhormat dari menjadi badut?” ucap bapak sambil melotot padaku. Aku hanya diam mendengarkan ucapan bapak, aku tahu bapak sangat kecewa padaku karena pekerjaanku, sambil berlalu aku usap air mataku yang sedari tadi sudah kutahan.

                    Dalam sujudku aku selalu berdoa kepada Allah SWT. Ia Akan memberikan jalan untukku dan keluargaku, sejak kecelakaan itu bapak memang sering marah-marah ditambah lagi beliau mempunyai penyakit Asma yang sering kambuh bila beliau merasa sedih atau tertekan. Dan kami harus selalu sedia obat untuk persediaan bila sewatu-waktu Asma bapak kambuh, kalau harus memilih aku juga tidak ingin menjadi seorang badut yang selalu ditertawakan, yang harus selalu terlihat bahagia walau hatiku sedang terluka. “Mbak…. 3 hari lagi aku harus melunasi biaya untuk study tour ke bali mbak, kalau tidak aku tidak boleh mengikutinya” ucap Ajeng sambil menyodorkan selembar kertas padaku,”aku minta pada ibu katanya belum punya, buat bayar kontrakan aja belum ada” ucap Ajeng lagi. “sabar dek….nanti mbak carikan” jawabku. “sabar terus…. Sabar terus…. Kenapa sih mbak, hidup kita gini-gini saja, kenapa ibu harus jadi tukang cuci dan gosok? kenapa mbak harus jadi badut? apa enggak ada pekerjaan yang lebih besar gitu gajinya?” ujar Ajeng sambil menutup pintu kamarnya dengan keras. Lagi-lagi aku hanya    bisa terdiam, tanpa kata aku hanya bisa pasrah, kata-kata dari mulut Ajeng tadi memang bukan pertama kalinya aku dengar, apalagi kalau perasaan hatinya sedang tidak bahagia. Ia selalu melampiaskan kekesalan dan kemarahannya padaku, sebagai kakak aku mencoba menerima segala keluh kesahnya, walau sebenarnya aku tidak terima dengan segala perlakuannya padaku. Ajeng memang spesial dimata orang tuaku terutama ayahku mungkin karena aku bukanlah anak kandung dari bapak jadi sikap bapak berbeda kepadaku dan kepada Ajeng. Ibuku menikah dengan bapak sejak aku masih berusia 1 tahun, sedang bapak kandungku pergi meninggalkan aku dan ibu sejak aku masih dalam kandungan ibu. Tapi bagiku aku tidak pernah menganggap bapak sebagai bapak tiriku, karena sejak aku mengenal dunia ini yang aku tahu dia adalah bapakku.

                     Rasanya hari ini langkah kakiku begitu berat untuk menjalani profesiku. Aku masih terngiang-ngiang ucapan bapak dan Ajeng semalam. Tapi aku sudah berjanji pada Ajeng untuk melunasi biaya study tournya, sebenarnya hari ini aku libur, karena ditempat aku bekerja aku bisa mengambil libur 1 minggu sekali, kebetulan temanku tidak bisa masuk, jadi ia meminta aku untuk menggantikannya, tanpa berpikir panjang, kuterima tawaran temanku untuk menggantikannya, dalam benakku aku bisa mendapatkan uang tambahan lebih dan menemui pak Ihsan hari ini untuk meminta gajiku dibayar lebih awal, agar aku bisa membayar study tour Ajeng. Pak Ihsan sudah terbiasa dengan keadaaku. Sebelum berangkat aku sempatkan untuk melihat kondisi bapak, sepertinya bapak masih tertidur setelah semalaman beliau mengeluh pusing dan sulit tidur, aku tidak tega membangunkannya, tanpa berpamitan aku bergegas pergi, “bismillah” ucapku perlahan sambil menutup pintu rumah, karena Ajeng dari tadi pagi tidak terlihat, padahal hari ini hari sabtu, harusnya ia libur, pikirku dalam hati sambil terus berjalan, menyusuri gang-gang sempit yang sudah menjadi bagian dari rutinitas hidupku.

 

            Dari jauh aku seperti melihat Ajeng berjalan bersama teman-temannya, benar itu Ajeng, setelah membeli tiket aku melihat mereka berjalan menuju kearahku. “eh ada badut lucu ya” celoteh salah satu teman Ajeng sambil mengayun-ayunkan tanganku “geng…. Kalau kamu jadi badut kayak gini mau enggak? nanti aku kasih hadiah deh” celetuk teman Ajeng yang lainnya “ha….ha….ha” riuh kudengar Ajeng dan teman-temannya tertawa sambil memandangiku, jelas kudengar ucapan Ajeng “ya enggak mungkinlah aku jadi badut…. Aku tuh besok kalau dah gede jadi dokter tahu” ucapnya sambil pergi tanpa menghiraukanku. Sakit… hidupku seolah berhenti, adik yang aku sayangi, aku berkorban untuknya. Ia tidak pernah menghiraukanku,apalagi membalas kebaikanku,walaupun hanya dengan ucapan terimakasih bagiku itu sudah lebih dari cukup.

                    Untuk menghilangkan rasa sedihku biasanya kulampiaskan dengan menulis puisi.

Hidupku Tak Seindah Kostumku.

Senyumku dibalik tubuhmu

Sedihku tiada yang tahu

Yang terlihat hanyalah luarku

Tertatih-tatih aku berjalan dalam luka

Terluka aku merasa tak berdaya

Tak kuasa aku mengharap dalam doa

Seperti mimpi yang harus terbangun dipagi hari

Seperti harapan yang terkoyak akan keadaan

Hatiku seakan tak kuasa

Melihat apa yang kurasa

Aku ingin berjalan melihat kebelakang

Aku ingin menggepakkan sayap….

Seperti burung-burung yang hidup tanpa tekan

Malam tak lagi ditemani bintang

Pagi tak lagi berkawan dengan mentari

Oh tuhan….

Dimana aku dapat menemukan kedamaian

Dalam sujud malamku…

Dalam setiap untaian doa-doaku

Atau bahkan dalam lantunan ayat-ayatmu

Hanya engkau pelipurku

Hanya engkau yang mampu menuntunku

Dalam keras dan pahitnya hidupku

Aku ingin menemukan ridho-Mu

Walau hanya dibalik kostumku

                    Tanpa aku sadar ada seseorang yang dari tadi disampingku. “Ri… Ri” sapanya “eh… kamu put, dah lama? Tumben kamu kesini?” tanyaku “iya…. Pengen main saja lama enggak ketemu kamu, kamu sehat? Sedang nulis apa Ri?” Tanya putri sambil merebut kertas yang aku simpan di belakang punggungku “enggak Put, iseng aja, kamu tahukan aku suka nulis-nulis puisi kayak gini” jawabku lagi “taulah…. Eh Ri tak bawa boleh puisinya?” tanyanya “buat apa, puisi kayak gitu?” tanyaku. Tapi putri tidak menjawab, ia hanya tersenyum simpul padaku.

                    Beberapa hari terakhir ini bapak selalu marah kepadaku tanpa alasan ia selalu memintaku untuk berhenti dari pekerjaanku bahkan beberapa jam yang lalu beliau mengusirku. Dalam keheningan malam tanpa aku berpikir panjang kuputuskan untuk pergi ke Jakarta menyusul temanku menjadi ART disana. Aku pergi tanpa seorangpun yang tahu, tak terasa sudah hampir 1 minggu aku berada di Jakarta, tiba-tiba aku teringat ibu kemudian kuambil ponselku yang sudah 1 minggu tidak ku aktifkan, ‘innalillah’ ucapku dalam hati, ada kabar ibuku kecelakaan. Dengan perasaan yang berkecamuk aku putuskan untuk pulang ke Jogja. Setibanya dirumah sakit kudapati ibu terlihat sangat lemah dan terdapat jahitan pada kepalanya, tanpa berpikir panjang kupeluk ibu dan meminta maaf kepadanya. Dan akhirnya semua terasa lebih baik setelah Ajeng dan bapak meminta maaf kepadaku setelah bapak setuju aku menjalani profesiku menjadi seorang badut, hatiku terasa lebih tenang.

Sudah 2 hari berlalu, hari ini ibu sudah boleh pulang dari rumah sakit, tapi aku bingung dari mana aku mendapatkan biaya untuk melunasi pengobatan ibu selama dirumah sakit. Kupakai kostum badutku lagi aku harus ngamen lagi, pikirku dalam hati, bagamanapun caranya aku harus membawa ibu pulang. Kubuka pintu rumah, terlihat putri sudah diluar menungguku, kemudian ia menyodorkan 2 amplop padaku. Sambil berkata “ini hadiah dari puisimu, tanpa sepengetahuanmu kukirimkan puisimu ke sebuah lomba, dan mendapatkan juara, dan yang satu lagi ada sedikit bantuan dari ayahku. Aku hanya bisa memeluk putri dan berucap terima kasih. Ya Allah terima kasih atas nikmatmu dan rizki-Mu aku percaya akan kekuasaanmu dan bersama kesulitan pasti akan ada kemudahan.

                    Pagi ini terasa berbeda, tubuhku terasa ringan melangkah, dengan kostum badut seperti biasa kujalani hidupku dengan ikhlas walau ada sedikit keraguan dalam hatiku tentang profesiku tetapi aku percaya Allah akan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik untukku walaupun saat ini aku hanya bisa menjadi seorang badut

      

Bagikan Artikel Ini
img-content
airindhea alifah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Hidupku Tak Seindah Kostumku

Minggu, 5 Desember 2021 12:58 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua