x

Iklan

Shabina Salsabilla

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Desember 2021

Minggu, 5 Desember 2021 13:01 WIB

Perihal Langit dan Konspirasi Semesta

Ketika semesta tidak lagi mempertemukan, lantas bagaimana lagi aku bisa pulang? Menyisikan sabda yang tak sempat terucap.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perihal Langit dan Konspirasi Semesta

Kita; adalah kata,

Hanya sepotong kisah asmara tentang Kala dan penantiannya kepada Angkasa, dua asing pengagum jingga yang tidak sengaja dipertemukan oleh semesta; Mereka adalah dua asing yang dipertemukan, dibawah indahnya jingga yang diberi nama swastamita. Kini keduanya saling bersitatap, saling menaruh atensi sampai-sampai telinga tak lagi dapat mendengar suara disekitar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Lantas pertemuan mereka selayak swastamita. Mungkin, salah satu dari dua insan tersebut tidak mengetahui apa dan mengapa. Namun bagi Kala, pertemuan singkat mereka adalah permintaan terakhirnya pada langit sengkala itu.

Namun, jika Kala ingat-ingat pertemuan mereka bukanlah sekedar kebetulan semata. Bahwa dirinya serasa yakin bila semesta mempertemukan keduanya semudah membalikan telapak tangan, sangat mulus dan terlampau sempurna. Tak apakan, apabila Kala berharap lebih? Dalam benak ia bertanya.

“Kasa, kamu tahu nggak? Kalau eksistensimu selalu mengingatkanku pada pelangi.” Saat itu Angkaasa tak merasa dirinya perlu menjawab, ia hanya terdiam membiarkan angin menghembus – meniup tiap-tiap surai sang pemuda.

“Kau singgah namun tak sungguh, indah bagi duri mawar. Tapi aku bahagia dapat bertemu denganmu,” Saat itu Kala merasa bahwa dirinya memang ditakdirkan bertemu dengan sosok pemuda yang kini tengah berjalan tepat disampingnya.

Tetapi, Kala setidaknya merasa cukup, kisahnya bukanlah sebuah epilog tanpa prolog. Ceriteranya mungkin singkat namun melekat, bukan takdir; ia hanya sekedar hadir jua bukan komitmen namun sekedar lembar kisah.

“Kalau begitu kenapa kau masih bertahan?” Rasanya Kala muak mendengar pertanyaan yang selalu terlontarkan pada bibir Kasa, namun ia tetap membalas dengan wajah masam.

“Entah sudah berapa kali aku bilang, kalau anak indie macam kamu itu sulit ditemukan.” Dan Angkasa terkekeh mendengar respon sang gadis.

“Tapi kau bahagia, kan?” Ia kembali membalas dengan intonasi yang seakan mengejek pernyataan seorang Kala.

“Sedikit…” Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali bersua, “Karena kamu tampan.”

Dengan rasa percaya diri tinggi serta dada yang dibusungkan ia berucap; “Tentu saja, lagipula mana mungkin ada manusia yang akan menolak pria setampan Svargaloka Angkasa?”

“Kemarin kamu baru saja ditolak.” Sahutan kali ini melahirkan sunyi yang seakan medekam.

Angkasa merotasikan maniknya malas, menghela nafas dengan kasar “Kamu pasti seru sekali untuk diajak berpesta.”

Kini keheningan menyapa indra, tak ada lagi percikan sua bising menghantam gendang telinga pada biasanya, hanya deru nafas saling berbentur, “Tapi emang benerkan, Sa?” Lanjut Kala seraya menatap penuh harap, seolah Kasa pastinya tidak akan menolak pernyataan miliknya,

Benar, Kasa paling kenal sifat seorang gadis yang tengah berdiri menatap nanar langit, dan ia tak akan pernah bisa menolak, walau harus menutupi asa miliknya; dalam seberapa dasa terlewat bagai pasir waktu.

* * *

Purnacandra menguning, bersinar gagah bersama ribuan bintang yang bersinar terang menerangi gulita. Kala tengah berjalan kecil, dirinya tak sadar ada yang menguntit. Sebelum sempat dirinya membela diri sosok pemuda tinggi berjalan semakin dekat, menghantam kepala belakangnya dengan tongkat.

* * *

“Yo, Angkasa. Lama nggak lihat lo, kemana aja?”

Kasa mendengus kesal untuk sekedar menjawab pertanyaan. “Banyak urusan.” Dirinya mengendik bahu, guna membuat lawan bicaranya terlihat yakin bahwa ia terlihat tertarik dengan arah pembicaraan. “Kenapa, ada yang nantangin?” Kemudian mengalihkan pembicaraan, menghentikan kalimat ramah-tamah yang malah terdengar seperti penjilat.

Pemuda hitam legam tersebut tersenyum licik, “Kita kedatangan tamu.” Telunjuknya menunjuk jajaran mobil serta motor balap yang tampak asing. “Tadi gue jelasin kehebatan lo, mereka setuju buat nantangin lo.”

“Taruhannya?”

“Lima ratus dollar, mobil. Katanya mereka juga punya barang bagus.”

Angkasa juga tak melewatkan fakta sang pemuda dihadapannya tengah menyeringai bagai serigala. “Barang, ya? Narkotik? Sorry, nggak tertarik.”

“Gadis, cantiknya kelewatan. Manis banget,”

Kemudian sang pemuda hitam legam menunjuk tribun yang dipenuhi kerumunan, dengan pekikan gemas terdengar, ia kembali menatap Kasa sebelum melanjutkan kalimatnya, “Lo pasti suka.”

Angkasa menyelip diantara semut-semut itu, agak sulit karena mereka saling menubruk satu sama lain. Sudut keningnya berkedut, sebegini hancurnya moral sehingga menjadikan manusia lain barang taruhan?

Purata dirinya dapat melihat dengan jelas, dirinya tertegun.

Disana, gadis manis yang menjadi bahan taruhan itu tengah berlutut dengan kedua tangan diikat tali rafia dan mulut dibebat saputangan. Dia memakai jeans serta hoodie hitam kebesaran. Menundukan kepala dan berkali-kali bergidik kedinginan.

“Gue terima, dengan syarat; selama gue balap jangan ada yang nyentuh dia sedikitpun. Lepasin ikatan, terus lo kasih dia selimut.”

Tidak ada balasan walau terpancar raut curiga, tetap mengikuti permintaan Angkasa lalu mengangguk. Angkasa adalah dewa disana, tidak ada yang boleh menolak perintahnya. “Gampang, lo tinggal urus soal balapan. Tapi-,” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Angkasa memotong.

“Dia manis, keknya gue jatuh cinta.” Tentu saja ia beralasan, di sirkuit illegal itu tentu ia berada diantara cinta benci. Jikalau mereka tahu, bisa-bisa hal yang lebih buruk dapat terjadi pada gadisnya.

Angkasa menyeringai, “Habisin semuanya?” Ia memandangi panorama yang menurutnya asing, peluangnya akan semakin menipis untuk menang apabila mereka semua ikut dalam balapan.

“Hanya Hadyan yang disebelah barang taruhan.”

Rasanya darah Angkasa semakin mendidih tiap detiknya, sesaat dirinya menemukan sosok yang dimaksud. Hadyan tengah mengusak dan menepuk pucuk kepala Kala seakan-akan dialah pemilik mutlaknya.

“Sialan.”

* * *

Siap?”

Sang pembawa bendera berdiri didepan Audi R8 milik Angkasa dan FD RX-7 Hadyan, mengulurkan tangannya kepada mereka, meminta benda yang mereka taruhkan; dua kartu kredit dan dua kunci mobil, satu untuk Lamborghini dan kunci mobil berlambang kuda – Ferarri.

Angkasa melempar pandang, menatap Kala yang dibalut slimut – sesuai permintaan dirinya, menatap cemas kearah sirkuit. “Hei, hoodie hitam.” Angkasa berteriak, berusaha membuat sua miliknya terdengar diantara suara musik berdentum. “Siap-siap jadi milik gue, ya.”

“Mending gue ngilang aja!” Kala balas berteriak, wajahnya telipat sebal, menghasilkan sorak sorai lebih heboh. Beberapa wanita memekik sebal, sebab siapa sih yang ingin menolak mentah-mentah dewa sirkuit itu?

Angkasa terkekeh, kemudian mengembalikan fokusnya ketika sang pembawa bendera itu meniup peluit menarik atensinya.

“Aturan adalah aturan. Berusahalah untuk sampai ke garis selesai dengan selamat.” Gadis itu kembali mengangkat benderanya. “Satu, dua, tiga!”

* * *

Angkasa semakin mempercepat kecepatannya, walau garis akhir sudah didepan mata. Dirinya bersumpah akan memenangkan balapan ini. Demi gadisnya, yang tengah mengatupkan jemari, mendoakan dengan cemas.

Dan dirinya melakukan, melewati garis akhir lebih dahulu. Menuai sorakan heboh dari para penonton yang menanti. Kini Kasa menarik nafas lega, juga Hadyan yang tiba beberapa saat itu juga ikut turun.

* * *

“Lo lebih hebat dari kata orang, ya?” Hadyan berjalan mendekati keduanya, membuat Angkasa menaiki lengan yang kemudian kemeja miliknya ditarik paksa sang gadis.

“Makasih, lo juga. Semoga kita dapat tanding lagi” Ujarnya sembari tersenyum, menahan diri untuk tidak meninju.

* * *

Kini Angkasa menatap sang gadis lekat-lekat memperhatikan tiap goresan, “Jelek banget, jadi banyak luka.”

Kala berdehem sebagai jawaban, tak berniat menjawab. “Tapi udah aku bilang, jangan ke sirkuit balap sendirian. Kamu tahu disana illegal.”

“Ayah kamu juga bilang, katanya udah delapan kali kamukabur buat terapi. Kamu tuh, kenapa sih?”

“Bukan urusan kamu buat tahu.” Kala menghela nafas, terdengar frustasi. “Dan bisa nggak sih, kamu berhenti?”

"Mungkin, apabila kamu menjelaskan persoalan yang ayahmu katakan."

* * *

Malam itu angkasa menangisi kepergian sang malaikat, menemani bagai alunan elegi bagi gadis yang tengah menatap tetes kristalis, entah mewanti untuk siapa, namun jemarinya ia dekapkan pada dadanya.

Guyuran tersebut makin deras tiap waktu, sedangkan manik masih setia menetap. Jantungnya berdegup kencang tapi dirinya tak sekalipun peduli, mungkin sebatas hilir angin berhembus didedaunan, mendekam kulit putih pucat miliknya.

“Kasa, nggak mungkin lupa, ‘kan?” Ia semakin mengeratkan, siraman November dan flannel Kasa bagai obat. Kala lupa, hubungan mereka sedang tidak berada dipuncak terbaiknya.

Dirinya terdiam, teringat sengkala pertama kali ia bertemu dengan Kasa. Maniknya seakan berbisik, “Apa kita pernah bertemu?” menyebrangi siluet diantara, percakapan menyenangkan itu dimulai seakan menyampaikan catatan rahasia.

Purata itu malam gemerlap, tersipu sepanjang perjalanan, menghabiskan selamanya bertanya, “Apa kau tahu? Aku terpesona denganmu.”

Pertanyaan tersisa, menari menghantui jalan pemikiran setiap jam dua malam “Siapa yang kamu cintai?” Bertanya-tanya sampai dirinya terjaga, berharap menemui Angkasa didepan pintunya lalu membuka dan berkata, “Hei.” seperti biasanya.

Kala hanya dapat berdoa, bahwa ini adalah halaman pertama dan bukan dimana alur cerita terhenti. Pikiran seakan menggemakan nama sang pemuda, sampai ia dapat bertemu dengannya lagi. Ini adalah kata-kata yang dirinya tahan, karena pergi terlalu cepat, “Aku terpesona bertemu denganmu, tolong jangan jatuh cinta dengan orang lain dan tolong jangan ada yang menunggumu.”

Walau Kala sebetunya sangat paham, tak seharusnya ia berharap lebih.

* * *

Kasa pikir dirinya pernah melihat film ini sebelumnya, dan dirinya tidak suka dengan akhir lembarnya. Sosok yang ia pedulikan bukan masalahnya lagi, jadi apa yang dirinya bela sekarang? Bagi Kasa, Kala adalah rumah miliknya. Sekarang ia merasa di pengasingan.

Atau dirinya yang terlalu berlebihan? Angkasa tidak tahu, tapi dirinya tak merasa tenang. Seperti sewaktu dirinya akan membuat buku-buku jari berdarah untuk seorang gadis yang paling penting di hidupnya. Peluang kedua, ketiga dan keseratus, menyeimbangkan pada cabang yang patah. Maniknya saat itu menambah penghinaan pada luka.

Lantas mengapa larik senja tak dapat lagi mempertemukan? Menjadikan segala kenangan, dalam sendu yang merindu saat kalbu berkelabu; jua ketika jemari tak dapat lagi mengenggam selain hela nafas berhembus sesak.

“Tunggu aku, Kasa.”

Purata itu awan hitam berkecamuk, merajut kelam nan menguasai bumantara Jakarta sebelum berakhir melepas rintik yang tersimpan dibaliknya. Obsidiannya bergulir, mengamati bagaimana cara rintik kristalis menguasai daratan. Pertanyaan demi pertanyaan menyirat, mengisi benak Kasa tiap kali sang cakrawala berbagi rintihan pada pertiwi.

“Detik dimana kamu menghilang, kemana lagi aku bisa pulang?” Kasa hanya terdiam, bibirnya kelu serasa pilu. Kenapa baru sekarang, dirinya merasa kehilangan? Ketika dialog kini menjadi monolog tak berarti.

“Jika semesta hanya tentang aku dan kamu, dan senja hanya untuk kita. Mungkin semua akan lebih mudah untuk memilih kenyataan daripada logika mereka.” Kini tak ada lagi sarira gadis yang tengah meledak penuh dialog serta menatap sendu manik miliknya.

Lantas mengapa saat Kasa jatuh cinta ketika ia harus mengikhlaskan bahwa peri bahagia miliknya dijemput Semesta yang mempertemukan?

“Kasa, jangan bersedih. Kala akan selalu ada dalam setiap harimu.”

Kasa tahu; pertemuan merupakan awal sebuah kisah, maka perpisahan merupakan penutup lembar, bagai juntai tali yang tak selalu menali, hingga menjadikannya kalimat selamat tinggal. Namun kenapa baru kini ia sadari?

“Antara aku, kamu dan waktu yang terus berjalan, sampai pada akhir; yaitu titik perpisahan yang menyakitkan.”

Kasa Kembali teringat, pada perihal yang sempat mereka diskusikan tidak lama, puing-puing memori seakan menarik genggamannya yang terhempas,

“Kasa? Kamu tahu tidak kenapa manusia selalu menyalahkan semesta?”

Dunia yang awalnya sebatas rangkaian kalimat, kini perlahan melebur dalam diri. Menjadikannya simfoni penanti klimaks. Kasa termenung sembari menatap kosong lembar halaman yang ia buka-tutup.

“Entah tapi Kala, kamu tidak sedang bertanya untuk mengisi bagan pada ceritamukan?”

“Bisa jadi.” Sang gadis menjawab seraya menaikan pundaknya, tanda tidak yakin.

“Kau ini, kenapa ingin sekali sih menulis kisahmu?” Kasa saat itu tidak yakin, hatinya bergumam meneriaki logika

“Menurutmu? Aku hanya ingin mengenang segala hal yang pernah aku lalui.”

“Kau selalu berkata begitu, seakan waktumu tidak lagi lama.” Kala menghela nafas panjang, menatap kesunyian yang menyapa.

Kini sang gadis bersua, bersitatap dengan pemuda; “Namanya waktu, tidak ada yang pernah tahu.”

Perihal langit dan konspirasi semesta; yang membuatnya tersadar bahwa setiap detik berdetak sangat berarti untuk dirayakan; entah sebagai parade patah hati atau jatuh cinta. Hakikatnya, semesta tidak pernah memihak pada siapapun, ia hanya menuliskan skenario yang kemudian memberi awal pada lembaran akhir untuk kisah tragis yang ia jadikan bagan untuk kesenangan tersendiri.

“Namun kau tahu, Kasa? Ketika dua insan dipertemukan, bukan berarti untuk mengukir kisah. Melainkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, itulah rencana langit serta semesta inginkan.”

“Kau benar, Perihal Langit dan Konspirasi Semesta. Kini beristirahat-lha.” Kasa berucap seraya mengelus pucuk gadis yang tengah diambang imaji, sebelum akhirnya mengecup pelipisnya.

“Terima kasih, dan selamat tinggal.” Kasa terdiam yang beberapa milisekon kemudian medesah penuh penyesalan, “Tapi seharusnya kau gunakan pundaku sebagai sandaran, bukan sebaliknya.”

juga dua penghuni hujan yang mana bertemu kerap pada tangisan. Sayangnya ketika telah reda, kita berpisah dengan matahari yang berbeda.

“Kala Kini dirinya terpatung jarinya masih mengelus serira Kala, maniknya menatap piringan hitam pada alat pemutar vinyl yang ditaruh diatas nakas dekat ranjang, vinyl tersebut sudah tidak pernah digunakan lagi ketika Kala memutuskan untuk memberikan kepadanya sebagai kenangan, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau perih, hingga seluruh pandangannya terasa buram.

“Andai kamu tahu, segalanya itu bukan salah milikmu. Semuanya karena skenario yang semesta buat, juga salahku.” Ia menghela nafas panjang,

Ah, Kala selalu benar. Kini Kasa selalu berandai bisa memutar balikan waktu, meminta kiat-kiat pada semesta untuk dapat kembali memeluk gadisnya jauh lebih lama.

 

 

Ikuti tulisan menarik Shabina Salsabilla lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler