Sepenggal Kisah Pendekar Sekolah - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Zaki Zillan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 20:24 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sepenggal Kisah Pendekar Sekolah

    Menceritakan sebuah realita kelam yang kerap terjadi di lingkungan sekolah

    Dibaca : 284 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bocah remaja itu berjalan santai bersama geng kelompoknya menikmati setiap langkah sambil menatap langit jingga setelah lolos dari mata pengawasan satpam yang menjaga gerbang sekolah, dengan rasa bosan yang memuncak dilihatlah sebuah kaleng kosong tergeletak ditanah, berniat mengurangi kebosanannya dia iseng menendang kaleng itu hingga melambung melewati pagar sebuah lapangan olahraga.“Tung!” tak disangka kaleng tadi mengenai remaja sebayanya yang sedang ‘nongkrong’ di lapangan itu, remaja dalam lapangan itu langsung menatap sekumpulan bocah tadi,

     “Woy maksud lo apa? … jagoan dari mana lu?” tanya remaja lapangan itu dengan nada agak membentak.

    Sorry gue nggak sengaja bro,” balas bocah iseng itu dengan nada santai.

    “Kalau iseng pake mata goblok … anak mana lo!”

     “Bro dia udah minta maaf, lo jangan nambah masalah,” dijawab teman bocah iseng tadi.

    “Lo pikir siapa yang bikin perkara duluan bajingan!”

    “Terus mau lo apa! berantem?“  bocah iseng tadi mulai tersulut emosi

    “Ayo, disitu ada lapangan sepi, satu lawan satu!” bocah dalam lapangan itu semakin melotot.

    Duel sengit pun tak terhindarkan kedua remaja itu babak belur penuh luka disekujur tubuh mereka. Beberapa hari setelah pertandingan itu anak seorang remaja berpakaian jaket Hoodie membawa segerombol pasukannya menghampiri kumpulan si bocah iseng yang kebetulan berada di belakang sekolah mereka.

    “Lo kemarin nyari rebut sama temen gue, kumpulin kelompok lu, gw tantang besok di jalan sepi situ, selesaikan masalah kita goblok!” tantang bocah jaket Hoodie itu.

    “Ayo, lo pikir gue takut nyet!” jawab si bocah iseng itu menerima tantangan.

    Esok hari menjelang siang saat para pelajar SMA menikmati waktu istirahatnya. Diluar pengawasan satpam sekolah seorang remaja berumur 17 tahun mengenakan seragam SMA bermotif garis pena hitam  yang berjalan masuk ke sebuah warkop, gayanya seperti preman pasar, dua karibnya telah menunggu duduk santai sambil menghisap rokok mereka. “Udah siap nih entar langsung samperin aja TKP… bocahnya udah pada disana, lu bawa gergaji sama rantai gue pinjem golok.” Ia merogoh tas yang dibawa karibnya itu yang lebih mirip kantung coklat yang berisi alat eksekusi mati. Beberapa saat kemudian mereka mengeluarkan smartphone dari kantung celana lalu menghubungi para pasukannya untuk bersiap di tempat, “kuy OTW.” Warkop kecil itu menjadi saksi bisu tempat pertemuan untuk mengumpulkan pasukan tempur sebelum menuju ke medan perang.

    Sesampainya di tempat perjanjian kedua belah pihak memeriksa tempat itu memastikan benar benar aman dan sepi, tak lama kelompok si iseng muncul. “Maju lo keparat!” teriak anak berseragam SMA motif cat semprot itu diiringi derap dan suara lantang sekutunya berlari penuh kharisma menghunuskan moncong senjata pamungkas mereka, dari lawan arah terdengar teriak balasan penuh kebencian “sini lo goblok!” dipisah jarak kurang dari 100 meter sebelum para pendekar itu ‘bentrok’.

    Sekejap surau suara mereka saling beradu bagai kampanye geng motor. Derap kaki menderu nyaring,, celurit itu dihempasnya memberi karya bersejarah pada raga mereka, merasa kurang puas menumpahkan amarahnya dilemparlah batu oleh mereka yang berdiri di garis belakang, batu dibalas dengan beling melayang, saling menimpuk sasaran bocor kepala meninggalkan cipratan darah dan rasa dendam, tak rela kawan terlena mata dibalas mata. Pukulan, tangkisan, sayatan dan tendangan memenuhi suasana sekitar jalan sunyi itu, seragam yang mereka pakai hanya menjadi sebuah busana belaka yang kian merah pekat terbalut darah.

    Dengan opini yang mereka bela para pendekar itu bertindak menghiraukan norma adab yang berlaku disana, melepaskan segala amarah mereka tak peduli konsekuensi yang akan mereka timbulkan segala cara dilakukan dengan membabi buta, yang penting kita benar kita harus menang pikir para jagoan itu, mereka pasang badan siap terbunuh siap juga membunuh,  mengorbankan seluruh jiwa dan raga, entah apa yang menjadi tujuan sejati para pendekar itu tapi begitu aneh melihat wajah mereka menyeringai penuh gairah seperti buta dengan mayat didepan mereka yang berjatuhan satu demi satu, enang atau sedih tetap saja memandang perbuatan tak lazim mereka membuat resah, yang dipikirkan mereka hanya bertanding yang berarti menang atau kalah adalah mutlak.

    Para saksi mata yang kebetulan berada di sekitar kejadian itu sontak langsung menghubungi kantor polisi untuk melapor berjaga jaga takut kena imbasnya juga, mereka memantau ambil bersembunyi mennggu petugas polisi hadir untuk menghentikkan mereka.

    Beberapa saat muncullah mobil pasukan pengamanan polisi  menebakkan pistol ke udara “Berhenti!” teriak polisi itu menggunakan alat pengeras suara lalu menebarkan bom air mata, seketika mimik wajah pendekar berseragam itu berubah drastis, kerumunan anarkis itu pecah panik berlari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran, beberapa dari mereka terangkap pasrah karena kehilangan arah. Di jalanan sepi itu tertinggal kenagan yang kelam seperti bekas medan perang, tercoreng darah sampai terkapar tubuh tak bernyawa.

    Polisi membawa para pelajar itu sebagai tersangka, setibanya mereka dikantor polisi para petugas sigap mengawal mereka ke ruang interogasi didorong mereka dengan langkah tegas kemudian para pelajar itu mentup wajah mereka dengan tangan karena malu, hingga polisi mulai menanyakan tentang perkara itu.

    “Kenapa kalian melakukan kegiatan seperti ini?” tanya polisi itu tegas.

    “Kami kurang tau pak asal usulnya gimana tapi katanya ada yang bilang gara gara saling lempar kaleng, kami tak terima pak temen kami diremehkan,” jawab remaja tersangka itu.

    “Berarti ini kamu tidak tau sebab pastinya terus alasan kamu membela teman?”.

    ‘Iya pak”.

    Ikuti tulisan menarik Zaki Zillan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Itha Abimanyu

    4 hari lalu

    Rindu dan Cinta

    Dibaca : 133 kali