Panggilan Suara Dungu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Syahidin Pamungkas

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Desember 2021

Rabu, 8 Desember 2021 13:08 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Panggilan Suara Dungu


    Dibaca : 355 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ada semacam ketakutan yang seharusnya tidak datang malam itu, kau diam sejenak, berpikir kembali sampai kau menyadari "ketakutan" sendiri sebenarnya problematis untuk situasimu sekarang, anggap saja ini keterbatasan bahasa, lolongan anjing tidak sekeras malam malam biasanya. Genting-genting tersusun rapi, pot-pot rosemary dan bunga pukul empat sibuk berdebat siapa di antara mereka yang lebih membutuhkan basah. 

    Gelagatmu menunjukkan pertanda yang hampir pasti ketika situasi semacam ini menyergapmu seperti harimau lapar: mengendap-endap menunggu seekor kura-kura terbangun dari posisi terbaliknya.

    Sekali lagi, penglihatanmu masih tampak segar untuk penderita hypersomnia, kau berusaha keras mengkudeta lelap. Kebiasaan ganjil ini, sama sekali belum pernah kau alami, mulutmu komat-kamit dengan bau asap rokok mirip kecoa bakar. Tepat beberapa waktu lalu, di sela-sela pertimbangan antara iya atau tidak, tubuhmu menghendaki dikuasai oleh hasrat yang tertidur pulas bertahun-tahun.

    “Aku cuma mau mengkroscek saja”

    “Soal apa?

    “Kenapa tubuhku bisa berlaku demikian”

    “Sebentar...sebentar...kita coba tahap demi tahap ya”

    “Harus begitu ya? Kenapa? Bukankah kita melakukannya dengan penuh kesadaran”

    “Tentu, tapi harus kupastikan, kau akan baik-baik saja atau tidak setelah ini?”

    “Masih meragukanku?”

    “Tidak ada yang tahu, perkataan dan tindakan kadang tak sejalan”

    Pada ujung ranjang yang garis tepinya presisi segaris lantai, mereka hanyut dalam keadaan setengah sadar. Perempuan itu menyeka wajahmu dengan heran. Tak pernah ia menjumpai kewarasan yang tetap terjaga, ditengah keranjingan yang semestinya bisa membabi buta. 

    Mulutnya terbuka, sembari menandaskan pertanyaan

    “Apakah kau masih akan tetap waras setelah ini?

    Sekilas mulutmu tampak ancang-ancang, tapi tidak lama, kau memaksaku menjahit benda elastis bagian laringmu agar tak bersuara. sikapmu kikuk, hanya untuk meladeni satu pertanyaan. Kekikukanmu, membuat tokoh si tua jenkis dari film spongebbob squarepants menjadi lebih kesal, kau meludahi fantasi berkepanjangan dari ikan tua setengah pikun yang punya banyak versi itu. Antara laki-laki dan perempuan saling tatap, tapi terkesan sedang menonton film gaguk, masalahnya karena si tua jenkins punya penyakit budeg, jadi adegan itu hanya terkesan umik-umik saja. 

    ……………………………………………………………………………………………..

    Bagian titik-titik itu memang sengaja kosong, mau kalian isi apa saja terserah, siapa tahu kalian ingin turut andil dalam cerita ini. 

    “Aku ke kamar mandi sebentar ya”

    “Mau apa lagi?”

    “Memeriksa?”

    “Mau kau periksa berulang kali, bentuknya sama. Tak berubah”

    “Hihh...kamu memang tak faham”

    Bagi siapapun saat berhadapan di situasi semacam ini, sudah pasti kabur. Dari awal , Jun telah menghitung beberapa kali Mei ke kamar mandi. Ini sudah ketiga kalinya, mau berpuluh-puluh kali lagi pikirnya? kalau kejengkelanmu hendak menggugat, wajar saja. Kau seperti sedang berhadapan dengan penderita ocd yang tak membiarkan debu sekecil apapun bercokol di bulu-bulu intimnya.

    "Bentar...bentar..."

    "Apa lagi?"

    "5 menit...mau pipis"

    "Ini udah yang keempat kalinya lo"

    "Plis...plis...daripada aku nggak tenang"

    "Ya udah sana...."

    Dari nada bicaramu kau tampak kesal, Konyol sekali pikirmu, ternyata ada model manusia yang ketika dalam situasi “hanyut”,tiba-tiba bisa berhenti hanya untuk ke kamar mandi, nyatanya ada, bahkan sudah kau temukan sekarang, kalau boleh bilang mungkin ini adalah salah satu dari berjubel kegilaan di dunia ini. Ayolah.., hidup tidak secupet lubang sedotan plastik berdiameter 0,8 cm bukan?

    Soal jeda barusan, kau takut bila ada seseorang melihatmu sedang menulis cerita ini, kau tergagap hanya karena langkah kaki terdengar menaiki tangga kayu, kau seperti dikejar-kejar oleh Izrail, Summon Phantom, Bathara Yama atau apapun lah sebutan untuk makhluk pencabut nyawa itu.

    Langkahmu hampir terhuyung saat meninggalkan sandaran empuk berbahan spon dan beberapa per. Banyak orang menyebutnya bed tapi intinya tetap saja alas tidur. Kau terlihat mencari keberuntungan di balik pintu lemari es, hanya ada tersisa satu potong baguette tadi pagi. "Kejunya habis?" Sembari mengambil potongan terigu padat berbentuk setengah oval. Suara milik bentuk tubuh terlilit setengah kain, semakin jelas mendekat ke arahmu. "Kalau nggak ada, berarti ya habis". Sahutnya sambil menyerobot botol dingin berbusa, lalu meneguknya penuh urakan. Tenggorokannya naik turun, menghasilkan suara glek..glek.. bersamaan menipisnya cairan berbusa itu sedikit demi sedikit. "Ahhh....segar sekali bir ini" pungkasnya. Dia menyaksikan mulutmu terisi roti yang kau lahap dalam satu gigitan. Kegaduhan dalam tempurung kepala perempuan setengah baya itu mengisyaratkan perang salib akan meletus lagi. "Benarkah yang ada di depannya ini adalah laki-laki belia dengan jenggot dan kumis tebal sebagai gimmick dibalik wajah polos kebocahan." Pikirnya

    "Jangan lupa gosok gigi" tandasnya sambil berlalu. Masih dalam beberapa kunyahan, kau merasa rahangmu sulit berhenti, ujung syaraf-syaraf itu seakan menolak perintah sinyal otak sebagai nahkoda tubuh. Berhenti sejenak lalu kembali mengunyah. Begitu seterusnya, sampai kau mendapati dirimu seperti seekor sapi tersenyum sinis dari congor penuh lendir.

    Untuk ukuran manusia petualang sepertimu. Sekarang kau berada di tempat asing, bahkan sangat asing, aku tahu benar situasimu, karena aku terlibat dalam urusan-urusan pribadimu. Dan karena aku juga lah yang membuatmu berada di situasi menyebalkan semacam ini, "menurutku agak keterlaluan kalau kau menyebut situasi ini menyebalkan" belum usai kuteruskan, kau berdengung masuk entah dari mana. Sebut saja sudut mati. "Kalau tidak bisa memberi solusi, minimal diamlah" . Sahutmu, Kau mungkin membenciku, sangat. Ingin rasanya memembenamkanku di dalam ember berisi rendaman kaus kaki berbau busuk, dari loker Davy Jones selama seminggu. Tapi kupikir tindakan itu kejauhan, mustahil bahkan, karena aku sangsi kau bisa melakukannya. Membenciku sama saja mengutuk dirimu sendiri, secara tak sadar perlahan demi perlahan. "Sudah diam, nggak bosan nguping terus?"

    "Untuk ukuran tubuh dengan kemampuan bicara, kau cerewet juga" sahutku pelan

    "Apa katamu? cerewet? lalu bagaimana denganmu? Keberadaanmu bahkan tidak nyata.

    "Apa ukuran dari kenyataan sebenarnya?"

    "Tentu saja aku, tubuh yang hidup"

    "Hahahaha....lalu kau menganggapku tidak nyata, hanya gara-gara keberadaanku yang immaterial?”

    “Kau yang bilang lo, bukan aku”

    “Kalau begitu, berhentilah melibatkanku dalam setiap urusanmu. Maka selesai perdebatan kita”

    “ Hei kau tak bisa memutuskan seenak jidatmu”

    “Aku bahkan tak punya jidat”

    “Brengsek”

    "Kau tidak sedang upacara bendera kan?, kenapa berdiri disitu terus?" Teriakan dari dalam ruang kotak persegi berukuran 3,5x 4 meter, masuk seperti midroll ads saat kau asyik menonton youtube.

    "Sebentar Mei, perutku mules." Balasmu sedikit kencang

    “Pembicaraan kita belum selesai ya. Jangan kemana-mana” sahutmu dengan nada mengancam

    “Tenang saja, aku nggak kemana-mana.”

    Persoalan sebenarnya kau tidak benar-benar mules, kau hanya enggan menerima resiko dari balik kotak agak gelap,berisikan alas empuk itu. Demikian juga tak ada alasan dariku, selain "mules" yang bisa kusodorkan dari pengepul kata-kata kepalamu. Kau melangkah menuju pintu kaleng krupuk, menguncinya lalu melorotkan celanamu, mendudukkan bokongmu di atas penopang berbahan marmer dengan lubang besar di tengah. Meski begitu, tinja-tinja itu tidak kunjung keluar juga, lubang itu mengkerut seketika, saat kau hendak mengejan dengan raut muka berubah warna menjadi biru, sama seperti bintang laut yang merayakan hari kebalikan. Dari apa yang kulihat kau mengernyitkan kedua alismu, mengusap-usap jenggot tebalmu, kira-kira jawaban apa yang bisa kau temukan di tempat persembunyianmu sekarang ini. Toilet. Kau mendadak heran, melihat beberapa berita tentang ide-ide gila soal toilet. Bahkan saat kau mendaratkan kedua jempolmu di layar ponselmu; membuka Pinterest dan tarrraaaaa....suggest yang mencolok kedua matamu "+ 10 Bathroom Design Ideas 2021" kau tetap sinis melihatnya, bagimu toilet hanya sebuah ruang pembuangan segala jenis kotoran, atau sebagai tempat pelarian ketika kau tidak bisa menghadapi masalah sehari-hari. Tapi kenapa sampai ada orang menghabiskan setengah hidupnya hanya untuk bercokol di sana. Kau teringat cerita dari Nesia salah satu teman dekatmu yang sesekali mengingatkanmu pada iklan kondisioner televisi 80an, Dia bercerita tentang pengalamannya saat menghadiri acara di Jerman, bersama salah seorang teman yang memiliki kegilaan tentang toilet. Katanya, saat pagi-pagi buta setelah mereka tertidur pulas semalaman sehabis dari penerbangan panjang menuju kota Nazi itu. Mulailah mereka bicara soal konsep yang ingin diusung untuk pameran. Mereka bertiga berkumpul di restoran hotel untuk sarapan, salah satu teman laki-laki bernama Bob lama sekali tidak turun, menurut bisikan dari salah satu teman lainnya, dia di toilet. Singkatnya pembicaraan mereka hampir selesai, Memakan waktu hampir dua jam. Tetapi juga belum muncul tanda-tanda dari Bob bergabung di meja sarapan itu. Sampai diantara mereka bertiga menyeletuk "apa sih yang dilakukan bob di toilet, lama banget?" sahutnya. Kalau ingatanmu tidak salah, Nesialah yang berinisiatif memanggil Bob dari ritualnya. Belum selesai Nesia menghabiskan beberapa tegukan orange juice, lelaki toilet itu muncul dengan muka macam remaja baru puber, menyilangkan kedua tangannya di atas meja makan, menghela nafas sebentar lalu menerjunkan sebilah kata "Eh, aku udah dapat ide"

    Kau berharap saat ini lelaki toilet itu muncul di depanmu, memberikan tips dan trik cara mendapat jawaban dari toilet. Yang datang justru bukan dia, bukan juga jawaban, tetapi justru kedunguanmu sedang menertawaimu penuh lantang, berbarengan seekor lipan merambat  di tepi jari kelingking kaki kananmu. Wajahmu tampak pucat, penyakitmu datang lagi. Dalam posisi duduk setengah bersandar, gerakan tanganmu lamban tapi cukup mantap mencapai ponselmu tepat di pinggiran wastafel. Kukira ini bukan keputusan yang tepat.  Aku sudah memperingatkan, tapi kelihatannya penyakit ngeyelmu sudah masuk stadium 4, tidak perlu lagi kau membuka pesan-pesan dari Ra yang telah membuatmu kalah dalam peperangan. “Bantu aku me-recall kejadian itu” rengekmu kepadaku. “aku tak yakin setelah ini, kau akan bagaimana” jawabku. Kau masih terus memandangi layar ponselmu, membuka beberapa pesan-pesan lalu yang sejujurnya itu sangat menggangguku. 

     

            Jika pertanyaan soal ingatan perjalanan mengantarmu pulang

            Aku kira kepulangan itu lah pengingatnya

            Disaat bersamaan pula aku sadar : kegilaan tentang masa depan                        

            tidak kujumpai pada ujung bibirmu (22.19)

            Cinta dan kata-kata telah berubah menjadi kisah pilu abad modern

            Sampai-sampai kau merasa sekujur tubuhmu terbakar oleh panas;

            Dari api kecil, yang kau sulut bersama kawanku.  (23.53)

                                                                                                   

              Aku minta maaf atas sikapku tadi malam, nanti setelah kamu pulang ngantor ada      waktu? Aku mau bicara (09.19)

                          Iya nggak apa-apa, Nanti ya. (09.23)

    Panggilan suara tak terjawab pukul 21.52

    Panggilan suara tak terjawab pukul 21.59

    Panggilan suara tak terjawab pukul 22.59

    Panggilan suara tak terjawab pukul 23.00

    Panggilan suara tak terjawab pukul 23.15

    Panggilan suara tak terjawab pukul 23.45

     

               

    “Aku mau putus”

    “Kenapa?”

    “Karena lelah”

    “Tapi aku tak mau” 

    “Aku lelah, sangat.” 

    “Sama halnya denganku”

    “Lalu kenapa tidak kita akhiri saja hubungan ini?”

    “Kenapa "putus" jadi satu-satunya jalan keluar?”

    “Banyak cara sebetulnya, tapi cuma itu caranya” 

    “Oh”

    ..........

    “Sejak kapan mau putus?”

    “Setahun yang lalu”

    “Lama sekali ya”

    “Tak perlu aku perjelas kan?”

    “Tidak perlu”

    “Maksudmu?”

    “Memang tidak perlu ada yang dijelaskan”

    “Aku harap kau mengerti”

    “Tentu, aku mengerti. Kalau begitu kita akhiri pembicaraan ini.”

    “Pembicaraan ini bahkan sudah berakhir sejak setahun yang lalu”

    “Oh...oke, aku pergi ya”

    “Tunggu....”

    “Apa lagi? Ayolah. Aku sudah ada janji”

    “Tiga hari ini kau tidak pulang, kemana?”

    “Aku sudah bilang kan? aku tidur di tempat Pita”

    “Oh...cuma itu?”

    “Ya, cuma itu”

    “Kantung matamu itu, begadang lagi?”

    “Cuma insomnia biasa”

    “Terus saja begitu. Kamu memang tidak berubah”

    “Apa harus ada yang dirubah?”

    “It's your choice”

    “Aku mau cerita sedikit, mungkin bisa menjawab persoalan kantung  mataku. Kemarin malam aku tak bisa tidur, lalu aku pergi memutari jalan ring road, aku lupa pukul berapa. Tapi yang jelas tepat tengah malam aku berhenti di salah satu minimarket jl. Solo, aku bingung mau beli apa, sempat terbesit kondom karena......”

    “Jun!”

    “Iya, Ra?. Bentar aku lanjutkan”

    “Kau....mengetahuinya?”

    ................................

     “Simpan ini. Jangan meninggalkannya sembarangan, kalau tak mau ketahuan. Apalagi kau membelinya bersama sahabatku”

    “Jun...”

    Dari visualmu kau menahan bom yang seharusnya meledak saat itu juga, tetapi kau me-reset ulang, dan sekarang dengan sedikit bantuanku, dentuman keras meletus ke dalam dirimu, menyisakan satu rongga besar sukuran black hole, yang memicu bulu kuduk bergidik setiap kali melongoknya.

     “lalu, sudah kau pustuskan kapan bom waktumu bersama Mei akan meledak?

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Syahidin Pamungkas lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Itha Abimanyu

    4 hari lalu

    Rindu dan Cinta

    Dibaca : 136 kali