Peran Sastra Indonesia dalam Perspektif Multikulturalisme

Senin, 13 Desember 2021 17:23 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sastra tak dapat berdiri sendiri dan selalu berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat. Karena itulah sastra berperan penting dalam perspektif multikulturalisme. Masalah multikulturalisme dalam sastra Indonesia secara praktis muncul bersamaan dengan lahirnya sastra Indonesia modern. Apa faktor yang menumbuhkan hal itu?

Sastra merupakan ungkapan ekspresi manusia dalam bentuk karya sastra, baik itu berupa lisan maupun tulisan yang didasari dengan gagasan, ide, pemikiran, pendapat, pengalaman, ataupun imajinasi yang didapatkan dari kenyataan, cerminan kehidupan, ataupun data asli yang bersifat estetik.

Menurut Hutomo dalam Mutiara Yang Terlupakan: Pengantar Studi Lisan, Sastra lisan merupakan kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga dan kebudayaan yang disebarkan secara lisan atau dari mulut ke mulut. Sastra lisan memiliki nilai yang lebih luhur kedudukannya di masyarakat, terutama pada kebudayaan yang berlaku.

Sastra lisan merupakan salah satu perwujudan sastra yang memiliki kekhasan. Ciri khas sastra lisan yaitu jenis yang kehadirannya melekat pada “artis”. Hal ini sungguh berbeda dengan sastra tulisan. Karena sastra tulisan jika setelah selesai di tulis, maka sastra tersebut akan menjadi “yatim piatu” dan pengarang dianggap telah mati.

Kebanyakan ciri-ciri sastra lisan menggunakan bahasa yang panjang lebar, pola dan susunan teksnya juga baku, serta ceritanya tersusun dari beragam peristiwa yang benar-benar terjadi atau nyata, seperti pada dongeng khayalan atau teks keagamaan. Bentuk seni sastra lisan yang berkembang di Indonesia adalah mitos atau mite, legenda, epik, dan dongeng.

Sedangkan sastra tulisan merupakan sastra yang menggunakan media tulisan. Sastra tulisan dianggap sebagai ciri sastra modern. Karena bahasa tulisan dianggap sebagai refleksi peradaban masyarakat yang lebih maju dan berkembang.

Menurut Ayu Sutarto (2004) dan Daniel Dakhidae (1996), tradisi sastra lisan menjadi penghambat bagi kemajuan bangsa. Maka tradisi lisan harus diubah menjadi tradisi tullisan (menulis). Karena budaya tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan peradaban keilmuan.

Pada akhirnya, proses pergeseran dari tradisi sastra lisan menuju sastra tulisan tidak dapat dihindari. Karena tanpa disadari, bagaimanapun proses pertumbuhan sastra akan berusaha menemukan bentuk yang lebih maju dan sempurna sebagaimana terjadi pada bidang yang lainnya. Karena proses perubahan seperti ini merupakan sebuah perubahan yang dinamis.

Sastra tulisan mulanya berawal dari era Pujangga Lama. Pada masa itu terdapat karya satra tulisan berupa syair, gurindam, pantun dan hikayat. Kemudian, pada masa angkatan 2000-an, sastrawan mulai merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 90-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru.

Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kisah novel fiksi. Seperti pada novel yang berjudul Saman yang ditulis oleh Ayu Utami. Novel tersebut merupakan sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang yang lain.

Bentuk karya sastra tulisan yang berkembang di Indonesia saat ini adalah puisi, prosa, cerpen, novel, drama, dan lain-lain.

Sastra berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat. Karena sastra tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya masyarakat. Begitupun dengan masyarakat, kehidupan masyarakat tidak akan selaras dan sempurna tanpa adanya sastra dalam kehidupannya. Karena itulah, sastra memiliki peran yang sangat penting dalam perspektif multikulturalisme

Multikulturalisme merupakan suatu masyarakat yang terdiri atas struktur kebudayaan yang disebabkan oleh banyaknya suku bangsa. Karena itulah, Indonesia termasuk negara multikultural, karena memiliki beragam suku, etnis, dan budaya.

Masalah multikulturalisme dalam sastra Indonesia bisa dikatakan secara praktis muncul bersamaan dengan lahirnya sastra Indonesia modern.

Beberapa alasan yang melatarbelakangi pemikiran itu adalah: Pertama, sastra Indonesia lahir sebagai hasil pertemuan dengan kebudayaan Barat, lalu wujudnya dalam bentuk sastra tulis. Kedua, sastra Indonesia dilahirkan dari rahim sastrawan yang tidak dapat melepaskan dirinya dari kultur etnik yang membentuknya. Ketiga, sastra Indonesia ditulis dalam bahasa Indonesia, yaitu sebuah bahasa yang diangkat dari bahasa etnis Melayu yang penyebarannya di wilayah Nusantara telah mempunyai sejarah yang panjang.

Karya sastra yang dimiliki suatu bangsa dalam konteks kultural memberikan kesadaran tentang perspektif kultural dan sejarah yang terbentang di hadapannya. Karya sastra itu juga memunculkan kesadaran tentang identitas kultural yang melekat padanya, kesadaran tentang pandangan-pandangan dunia tertentu, dan nilai-nilai tertentu yang menjadi karakter bangsa tersebut. Semua itu ditawarkan oleh pengarang dalam karya sastranya sesuai dengan orientasi kebudayaannya.

Demikian pula dalam hal karya sastra, kecenderungan menuju pluralitas budaya merupakan keniscayaan yang sulit untuk dihindarkan. Karena sastra multikultural merupakan jawaban atas kehidupan masyarakat yang sedang berubah menuju pluralistik serta refleksi terhadap realitas sosial budaya yang berkecenderungan global-universal. Pengarang yang peka terhadap masalah-masalah masyarakatnya terpanggil untuk merespons dan menginterpretasikan dalam wujud karya sastra.

Di samping karya sastra, cybersastra juga merupakan media komunikasi antarbangsa dan antarkomunitas apa pun untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan nilai-nilai kehidupan yang multikultural. Selain memiliki sisi negatifnya terutama dari segi moralitas, Cybersastra juga memiliki sisi positifnya, yaitu kemudahan dalam mengakses informasi langka sehingga dapat memacu kreativitas dan mutu karya kreatif. Hanya saja diperlukan penguasaan berbagai bahasa karena informasi di internet disajikan dalam berbagai bahasa.

Melalui Cybersastra itu para pengarang muda mempublikasikan karya-karyanya untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya Perkembangan teknologi komunikasi yang membawa akibat membanjirnya informasi dari mancanegara ke negara kita tidak serta merta membuat karya sastra dijauhi masyarakat.

Selain itu, seiring dengan makin meningkatnya pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, ada kecenderungan karya sastra semakin diminati masyarakat. Meskipun untuk mewujudkan hal itu perlu upaya-upaya dari komunitas sastra untuk terus-menerus memperjuangkannya melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik. Dengan demikian, peran sastra Indonesia dalam perspektif multikulturalisme ini sangat bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari.

 

Sumber Referensi

Al Ma’ruf, Ali Imron. 2012. “Peran Sastra Multikultural sebagai Media Komunikasi Antarbangsa”, Jember: Universitas Negeri Jember.

Endraswara, Suwardi. 2018. Antropologi Sastra Lisan: Perspektif, Teori dan Praktik Pengkajian. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Suripan. 1991. Mutiara yang Terlupakan. Pengantar Studi Sastra Lisan. Jawa Timur: Hiski.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Nisa Aisyah

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler