x

Salah satu puisi karya Sapardi Djoko Damono dalam bukunya kumpulan puisi Hujan Bulan Juni.

Iklan

Lintang Milatama

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Desember 2021

Senin, 13 Desember 2021 07:36 WIB

Realisasi Diri Melalui Sajak Desember


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sapardi dengan karya-karyanya selalu menjadi penantian favorit para pembaca. Tak pernah bosan ia buat pembacanya mengagumi hingga mengapresiasi karyanya. Karena begitu erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari sehingga melekat di ingatan. Diksi-diksi yang terlihat sederhana namun mengandung banyak makna ia rangkai seindah mungkin. Melalui puisi-puisi beserta sajak yang ia tuangkan dapat mencerminkan kehidupan manusia. Bagai ribuan perasaan ia wakilkan dalam sebuah tulisan. Mulai dari bahagia, kecewa, amarah, sedih, haru dan lainnya. Hingga sempurnanya Sapardi menggambarkan lika-liku kehidupan dunia. Salah satunya adalah Sajak Desember karya Sapardi Djoko Darmono yang ditulis tahun 1961. Puisi ini mungkin jarang dibicarakan dibandingkan dengan puisinya yang paling terkenal yaitu Hujan Bulan Juni. Sebenarnya, Sajak Desember tidak kalah kuat dengan aroma kehidupannya. Namun faktanya, keduanya memiliki pesan dan keunikannya masing-masing.

Sajak Desember menjadi salah satu tamparan keras bagi penulis yang mendasari diangkatnya topik ini. Oleh sebab itu, menurut penulis, puisi ini mampu menjadi pengingat kecil kita sebagai manusia untuk selalu bersyukur dan sebagai realisasi diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Puisi ini begitu menitikberatkan kesadaran seseorang tentang kurangnya rasa syukur. Yang mana mencerminkan diri kita sebagai manusia yang selalu merasa kurang tanpa menyadari hal yang dimiliki. Hal yang sering kita alami namun tidak kita sadari. Sebab, kurangnya bercermin dan mengintropeksi diri. Keegoisan pada puisi ini juga muncul sebagai penyebab kurangnya rasa syukur. Manusia memang tidak pernah merasa cukup, selalu ingin yang lebih dan lebih. Melalui Sajak Desember, Sapardi mengajak kita untuk merealisasikan diri menjadi individu yang lekat dengan rasa kecukupan sehingga tidak egois dalam kehidupan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

SAJAK DESEMBER

Sapardi Djoko Damono

 

kutanggalkan mantel serta topiku yang tua

ketika daun penanggalan gugur:

lewat tengah malam. Kemudian kuhitung

hutang-hutangku pada-Mu

 

mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;

di luar hujan pun masih kudengar

dari celah-celah jendela. Ada yang terbaring

di kursi, letih sekali

 

masih patutkah kuhitung segala milikku

selembar celana dan selembar baju

ketika kusebut berulang nama-Mu: taram-

temaram bayang bianglala itu

 

Kata demi kata Sapardi rangkai dengan apik dan spesifik. Desember pada puisi ini melatarbelakangi puisinya sebagai bulan di akhir tahun yang identik dengan musim hujan. Seperti, pada bait pertama ‘kutanggalkan mantel serta topiku yang tua’ dan bait ke enam yaitu ‘di luar hujan pun masih kudengar’ yang mana pada kata mantel dan di luar hujan sebagai penanda bahwa hujan deras yang berkepanjangan. Hal ini juga menyadari penulis tentang bulan Desember yang identik dengan liburan akhir tahun. Di mana akhir tahun menjadi sebuah perayaan. Banyak orang yang berlibur merayakan akhir tahun di tengah derasnya hujan sambil berhura-hura, bercengkrama, dan bersenang-senang tanpa beban. Di samping itu, banyak orang yang memikirkan bagaimana cara membayar listrik, bagaimana cara membayar sekolah anak, dan ribuan pikiran bertumpu di otak dengan perut yang kosong selama berhari-hari. Mereka memikirkan hal tersebut tanpa memedulikan hari apa, tanggal berapa, bulan aoa, dan tahun berapa. Seperti yang dituliskan Sapardi pada bait ke tiga, empat, dan lima.

“Kemudian kuhitung hutang-hutangku pada-Mu. mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;”

Tidak hanya itu, Sapardi layaknya menghantam keras pembaca pada bait ke tujuh dan delapan, yaitu “Ada yang terbaring di kursi, letih sekali”. Ironisnya, dengan segala pikiran yang menghantui, kita terlalu sibuk menyalahkan keadaan. Merasa kurang, merasa tidak puas, dan merasa memiliki kehidupan yang paling tidak adil. Kenyataannya, banyak orang yang sulit untuk beranjak dari kasur, berjalan dengan terbata-bata, tidak mampu melontarkan kata-kata,  dan bahkan ada yang menghitung sisa hari hidupnya. Ada banyak hal yang patut kita syukuri dan cukupi. Sesederhana bangun pagi dengan mata yang berfungsi, kaki yang dapat berlari, dan mulut yang mampu berzikir. Semua itu merupakan anugerah Tuhan yang paling nikmat dan pantang disepelekan.

Melalui Sajak Desember, Sapardi mengajak kita untuk mensyukuri hal-hal yang dianggap kecil namun sangat bermakna bagi kehidupan. Sapardi menyentil kita bahwa yang kita miliki saat ini merupakan kesempatan emas, di mana tidak semua orang bisa merasakannya. Sering kali kita menyepelekan kecukupan hingga menyesal kemudian. Sugguh sejuk hidup berlapang dada menerima keadaan. Sajak Desember mengajarkan kita arti rasa syukur, keikhlasan, ketabahan, kebahagiaan, serta kepedulian. Realisasi diri melalui sajak ini adalah kita mampu menjauhi keegoisan diri, keserakahan, dan berpikiran buruk terhadap diri sendiri, yang mana sangat mempengaruhi pola hidup kita di masa depan. Dengan menanamkan pikiran-pikiran yang positif, duniapun akan merealisasikan kehidupan yang kita impikan.

Dengan Sajak Desember, penulis memahami bahwa hidup akan jauh lebih berwarna jika kita tidak memikirkan kekurangan, kesalahan, ataupun kejelekan yang ada dalam diri. Namun, alangkah sempurnanya hidup diisi dengan kebahagiaan yang memfokuskan rasa syukur terhadap apa yang kita miliki saat ini.

Menyebarkan aura positif kepada seluruh manusia. Kelak, memperbaiki segala kekurangan tanpa merasa dikhianati oleh keadaan. Apapun dan bagaimanapun keadaan kita saat ini, bukan berarti kita adalah orang yang paling sengsara di muka bumi. Jangan pernah berhenti beryukur, dan jangan pernah mencari kekurangan pada diri. Masih ada bulan di gelapnya malam hari.

Ikuti tulisan menarik Lintang Milatama lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler