Snack Box Nasi Tumpeng sebagai Inovasi Bisnis Kuliner Masa Depan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Foto tersebut berada di Jalan Kendalsari Nomor 18-A, Rungkut, Surabaya.

057_Alivia Nur Azizah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 November 2021

Senin, 13 Desember 2021 14:38 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Snack Box Nasi Tumpeng sebagai Inovasi Bisnis Kuliner Masa Depan

    Pandemi Covid-19 yang melanda di Indonesia mengakibatkan perekonomian turun drastis. Hal seperti itulah yang dirasakan oleh perempuan asal Pacitan tersebut. Usaha katering mengalami stagnan karena turunnya minat pembeli. Tidak tanggung-tanggung berkat kecanggihan teknologi, munculah ide untuk memasarkan secara online seperti whatsapp.

    Dibaca : 737 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kuliner apa yang membutuhkan modal kreativitas? Pasti salah satunya adalah nasi tumpeng. Pembuatan nasi yang identik dengan warna kuning itu dibuat dengan membentuk bangunan kerucut dan dikeliling berbagai lauk. Bagi pencinta nasi tumpeng, pastinya tidak asing dengan ‘Nasi Tumpeng Bu Tun’. Gerai tersebut dimiliki oleh Suratun atau akrab dipanggil ‘Bu Tun’. Perempuan paruh baya itu lahir pada 4 April 1958 di Pacitan. Sebelum menjalani usaha katering nasi tumpeng, perempuan dengan tujuh anak itu pernah merintis jualan es untuk anak-anak di depan rumah. Akibat pendapatan yang kurang akhirnya memutuskan untuk membuka usaha nasi kuning.

    Perempuan berambut putih tersebut menjalani bisnis katering pada 1990 dengan modal Rp500.000,00. Terhitung 30 tahun, bisnis tersebut sempat mengalami pasang surut bagaikan ombak di laut. Nasi tumpeng selalu digunakan ketika ada pesta atau hajatan tertentu. Pesanan nasi tumpeng berdasarkan kemauan pembeli dan biasanya harga ukuran satu tampah (wadah) besar berkisaran Rp400.000,00. Warga kampung pun banyak yang suka karena rasanya enak dan harga tidak terlalu mahal. Realitanya, usaha nasi tumpeng tidak selamanya berjalan mulus dan hanya berdasarkan pesanan saja. Alhasil omzet yang diperoleh pun sedikit dan tidak cukup untuk biayai kebutuhan keluarga.

    Pandemi Covid-19 yang melanda di Indonesia mengakibatkan perekonomian turun drastis. Hal seperti itulah yang dirasakan oleh perempuan asal Pacitan tersebut. Usaha katering mengalami stagnan karena turunnya minat pembeli. Tidak tanggung-tanggung berkat kecanggihan teknologi, munculah ide untuk memasarkan secara online seperti whatsapp. Kenyataannya, usaha yang dijalankan kurang mendapat respon dari warga. Katering yang hanya dibutuhkan ketika pesanan saja itu membuatnya banting setir dengan berjualan sayur dan sembako online. Pada Era new normal perekoniman sudah mulai bangkit namun tidak sama sebelum pandemi. Hal itu yang menjadi permasalahan dan muncul pertanyaan, bagaimana menghadapi bisnis yang stagnan tersebut? Berikut konsep jitu menjalankan bisnis ala miliader Jack Ma.

    Menurut Ma pengusaha harus terbiasa menerima penolakan dan belajar mengatasi tanpa rasa takut. Sifat pemberani membuat orang selalu optimis dan terus maju meskipun hidup sangat sulit. Hal yang sama dirasakan Ma ketika merintis usaha yaitu mengalami banyak penolakan dalam hidupnya. Pendiri Alibaba itu juga berpendapat bahwa perlu ada pergeseran pola pikir jika ingin mengembang sikap berani khususnya dalam berbisnis.  

    Kegagalan merupakan kunci kesuksesan. Tidak ada ceritanya orang sukses tanpa melalui proses kegagalan. Kegagalan dalam hidup tidak selamanya berbuah pahit. Justru dengan kegagalan itu yang mengantar menuju jalan kesuksesan. Hal itulah yang menjadi prinsip Jack Ma. Menurut pebisnis kebangsaan Tiongkok tersebut meraih kesuksesan itu perlu belajar dari kesalahan orang lain dan jangan belajar dari kisah suksesnya. Alhasil dengan belajar dari kesalahan orang lain dapat memberikan tips-tips mengenai hal yang tidak boleh dilakukan. Itulah yang cara agar berhasil memetik buah kesuksesan. Lantas bagaimana solusi terbaik menghadapi bisnis yang stagnan? Berikut alternatif jitu menjalankan bisnis di era new normal.

    Pertama, evaluasi dan kelola kembali. Bisnis lama atau baru yang telah sukses tentu mengalami masa stagnan pada titik tertentu. Faktor stagnan itu dipengaruhi oleh kurangnya pengelolaan dan evaluasi bisnis secara berkala. Tanpa disadari evaluasi dalam bisnis itu sangat penting. Hal itulah yang menjadi penilaian secara maksimal agar bisnis yang ditekuni tidak berjalan di tempat.

    Kedua, tingkatkan kualitas produk dan harga jaul. Produk yang tidak mengalami perubahan maka sangat mungkin mempengaruhi kurangnya jumlah kosumen di masyarakat. Seiring berkembangnya waktu, konsumen juga menginginkan perubahan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Cara itulah dapat meningkatkan kualitas produk melalui penyesuaian harga jual yang menguntungkan.

    Ketiga, terapkan promosi dengan pemanfaatan digitalisasi bisnis yang tepat dan baru. Strategi promosi yang tepat sangat diperlukan dalam menawarkan produk kepada konsumen. Terlebih lagi, sektor bisnis akan berkembang pesat bila diiringi dengan teknologi digital. Ada beberapa akses komunikasi dengan pelanggan diantaranya whatsapp, instagram, dan e-commerce (Gojek dan Shopee Food).

    Bisnis yang paling menjajikan era masa kini adalah bisnis kuliner. Makanan merupakan kebutuhan pokok yang wajib bagi setiap orang. Alhasil, bergeraklah usaha kuliner yang memiliki peluang besar untuk terus maju dan berkembang. Salah satunya yaitu snack box nasi tumpeng mini. Berbeda dengan nasi tumpeng yang hanya disajikan di atas tampah saja. Nasi tumpeng kini disajikan dalam ukuran lebih kecil atau mini dan dikemas secara berbeda.

    Tumpeng mini merupakan inovasi terbaru dengan mengutamakan kualitas produk sehingga masyarakat tidak perlu cemas bila sajian tidak habis. Berbeda dengan nasi tumpeng mini pada umumnya, kini dapat dikemas secara modern. Modifikasi snack box ala nasi tumpeng mini tersebut sangat cocok dan simpel ketika disajikan pada hajatan tertentu. Selain itu, menu-menu asal Indonesia juga dapat diterapkan dalam pengelolaan nasi tumpeng mini. Terlebih lagi dengan motif batik dan harga terjangkau yang dapat menggiurkan lidah konsumen. Indonesia sebaiknya perlu menghadirkan produk kreativitas kuliner unik itu agar mampu bersaing dengan negara lain.

    Ikuti tulisan menarik 057_Alivia Nur Azizah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.