x

Iklan

Fathya Madinatul Ilmi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Desember 2021

Rabu, 15 Desember 2021 15:01 WIB

Makna Terkandung dalam Puisi Kuhentikan Hujan Karya Sapardi Djoko Damono

Pengertian puisi adalah suatu karya sastra tertulis dimana isinya merupakan ungkapan perasaan seorang penyair dengan menggunakan Bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritma dalam penyusanan larik dan baitnya. beberapa ahli mendefinisikan puisi sebagai perwujudan imajinasi, curahan hati, dari seorang penyair yang mengajak oranglain ke dunianya. Meskipun bentuknya singkat dan padat umumnya orang lain kesulitan menjelaskan makna puisi yang disampaikan setiap bait.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pengertian puisi adalah suatu karya sastra tulis yang isinya mengandung ungkapan perasaan seorang penyair dengan menggunakan Bahasa yang bermakna semantis serta mengandung irama, rima, dan ritma dalam penyusanan larik dan baitnya. beberapa ahli mendefinisikan puisi sebagai perwujudan imajinasi, curahan hati, dari seorang penyair yang mengajak oranglain ke dunianya. Meskipun bentuknya singkat dan padat umumnya orang lain kesulitan menjelaskan makna puisi yang disampaikan setiap bait.

Hujan dalam puisi seolah menjelma menjadi tokoh yang sangat dekat dengan pembaca. anda juga bisa menjadi pembaca sendiri. Sebab tidak mungkin, pembaca memiliki rasa yang sama dengan yang dirasakan oleh kuhentikan hujan tersebut, yaitu merasakan rindu. Menjadi satu hal yang menarik dan patut dikaji karena Sapardi kerap kali menggunakan kata hujan sebagai judul puisinya. saya tidak tahu persis apa yang membuat Sapardi tertarik pada hujan, tapi memang benar kata hujan sering digunakan sebagai kata yang tepat dalam puisi beliau. Sebut saja Puisi Kuhentikan Hujan dan Hujan Bulan Juni, ternyata kata hujan dalam puisi tersebut memiliki satu makna yang sama yakni “ rasa cinta”.

Kuhentikan hujan

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut perlahan

Sebagai wujud dari rindu yang berubah menjadi temu, akhirnya ia (matahari) bersepakat dengan kabut pagi untuk seenergi. Matahari menciptakan pagi yang indah, diawal musim kemarau kala itu. Bayangkan bagaimana betapa indah nya pagi itu, air yang turun terus-menerus, akhirnya terhenti pada masa ideal. Kala keduanya (Tumbuhan dan Matahari) sampai pada titik rindu yang tak biasa. Mereka ditemukan kembali, setelah musim hujan selesai melaksanakan tugasnya, sekaligus dulu ia pun menggantikan tugas matahri di pagi hari. Tak ada cahaya hangat di pagi hari, tak ada udara yang segar bagi bebijian untuk proses perkecambahan, hingga akhirnya semua itu kini berubah. Ada matahari yang datang, sinarnya menyapa semua makhluk tumbuhan di segala penjuru bumi. Banyak daun yang layu, kembali menjadi lebar, banyak daun yang kuning kembali menjadi menghijau, setiap ranting menghasilkan Bunga yang warna-warni indah menyejukkan mata.

Ada yang berdenyut dalam diriku

Menembus tanah basah

Hidupku bukan untuk masa lalu. Bukan untuk menggantungkan harap masa depan. Hidup ku adalah saaat ini. Ketika jasad dan ruh masih bersama. Hidup adalah pemberian, kesempatan, menabung untuk hidup selanjutnya.

Tangisku mengering, sudah terlalu banyak berjatuhan. Hingga aku tak mendapatkannya kembali. Inilah ujung kesadaran? Atau karena lelah dan menganggap semua telah berakhir? Menganggap sudah hilang. Nyatanya, mengarat dalam hati terdalam.

 

Referensi

Arif poniman. 2017. Tema Hujan dalam Sajak Sapardi Djoko Damono. UPT Perpustakaan Isi Yogyakarta

https://dindinbahtiar.tumblr.com/post/157436545810/kuhentikan-hujan

 

 

Ikuti tulisan menarik Fathya Madinatul Ilmi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan