x

Iklan

Annisa Salma Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Desember 2021

Jumat, 17 Desember 2021 15:56 WIB

Besok Aku ke Sini Lagi

Entah nostalgia atau Farrel yang sudah gila

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hoodie krem  dengan celana jeans sudah terpasang rapih. Jangan lupa parfum dengan aroma maskulin yang menenangkan dan tercium mahal sudah melekat di sela-sela kain dan pergelangan tangannya. Tepat di hari ini, tanggal 14 Februari, hari yang ditunggu-tunggu oleh semua kalangan remaja—dan juga dewasa—untuk merayakan Hari Valentine,  Farrel sangat menunggu dan menyambut hari ini dengan bahagia.

“Mau kemana??”

“Jalan sama Luna”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Kamu gak cape?”

“Apasih, Ma?!” Cetus Farrel singkat karena kesal dengan pertanyaan sang Mama.

Sebelum menuju rumah Luna, Farrel tidak pernah absen membeli bunga matahari yang menjadi bunga favorit sang puan. Dengan note kecil bertulisan gombalan receh yang selalu Ia berikan kepada wanitanya setiap mereka bertemu.

Mobil putih itu melaju mulus menuju rumah pujaan hatinya, Luna. Dari dalam mobil, terlihat dengan jelas Luna menunggunya di depan pagar rumahnya dengan drees berwarna putih selutut, dan rambut coklatnya yang tergerai.

“Permisi, Kak, dengan Kak Luna, ya?” Tanya Farrel begitu ia menghentikan mobilnya tepat di depan Luna.

“Iya, Mas, sesuai aplikasi aja, ya” Jawab Luna membalas lelucon itu.

“Hahahaha, udah buruan naik. Aku gak mau bukain pintu, maunya ciuman”

“Oke laksanakan, Tuan.”

Ciuman lembut Luna berikan untuk Farrel sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lupa dengan tangan yang selalu bergenggaman selama yang mereka bisa.

“Hari ini mau kemana?” Tanya Farrel.

“Nonton aja, gimana? Aku mau nonton Frozen 2 deh”

“Ayo, deh. Aku juga belum nonton. Dan mana mungkin aku udah nonton kalo kamu belum nonton”

“Hahaha tau nih kamu. Padahal aku gak apa-apa loh kalo kamu mau nonton duluan”

“Terus nanti aku pegangan sama siapa kalo aku nonton sendirian?”

“Gelas popcorn lah”

“Gak mau, ah. Gampang mleyot

“Hahahaha”

Volume canda dan tawa mereka melebihi ocehan Desta dan Gina di radio. Bahkan lagu-lagu favorit mereka pun tak terdengar saking asik dan hangatnya atmosfer di mobil hari ini.

Suasana ramai dengan pemandangan yang penuh dengan sepasang kekasih memenuhi area bioskop terasa sangat bising. Antrean panjang terlihat menyebalkan ketika mereka sudah sampai tujuan.

“Rame banget, aku gak mau ngantri” celetuk Luna.

“Ih aku juga gak mau” jawab Farrel spontan.

“Terus kita beli tiketnya gimana?”

“Kita suit aja, gimana?”

“Gak mau, aku takut kalah. Kita antre-nya barengan aja, ya?”

“Emm, aku beli popcorn, deh”

“Kamu gak mau antre kan, makanya kamu mau beli popcorn?!”

“Hahahaha yah ketauan. Yaudah ayo antre bareng”

“Hahaha I know you”

“I love you too”

Perdebatan mereka berakhir dengan miris dan melelahkan karena mengantre bersama. Setelah mendapat tiket dan menunggu waktu tayang sekitar 10 menit, akhirnya bioskop dengan pintu teater dua telah terbuka. Dua sejoli itu pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan bioskop.

Farrel menyenderkan kepalanya ke pundak Luna dan akhirnya terlelap dalam mimpinya ketika Olaf sedang mengoceh lucu di layar besar. Suasana dingin sejuk dengan wangi popcorn sangat terasa nyaman dan menyenangkan.

Farrel yang terbangun dari tidurnya menatap wanitanya lembut. Sorot mata Luna yang memancar riang dengan bibir tipisnya sangat terlihat cantik dan manis dan lucu dan cantik dan manis membuatnya gemas. Tak ia sangka bibir tipis miliknya juga ikut tersenyum melihat wajah puannya yang terpana menatap Elsa.

 Dua jam berlalu, akhirnya film animasi kesayangan sepuluh juta orang itu selesai. Farrel dan Luna sengaja tidak langsung keluar dari ruang bioskop menikmati wangi khas bioskop yang sudah lama tidak mereka kunjungi.

“Abis ini mau kemana?” Tanya Farrel yang masih menyenderkan kepalanya ke pundak Luna.

“IKEA-date mau gak?”

“Kamu mau beli apa emangnya?”

“Gak ada. Mau liat-liat aja. Mau ya?”

“Oke deh nanti kita ke sana, abis itu pulang, ya? Atau kamu mau makan dulu?”

“Langsung pulang aja deh aku makan di rumah aja”

“Oke baby”

Begitu ruangan bioskop sudah cukup sepi, barulah mereka berdua keluar dan menuju destinasi selanjutnya, IKEA. Luna sangat suka pergi ke tempat dekorasi ruang. Ia sangat ingin menjadi design interior suatu saat nanti. Katanya, ia akan menggambar sendiri rumah yang akan dirinya dan Farrel tempati suatu saat nanti ketika sudah menikah.

Design rumahnya memang sudah ia gambar dan hampir jadi, tetapi ia tidak mengijinkan Farrel untuk melihatnya sekarang karena ia ingin memperlihatkannya ketika design itu benar-benar sudah jadi.

Sekitar dua jam lamanya mereka berkeliling IKEA melihat lihat demo dekorasi ruang dan perabotan rumah tangga yang terlihat lucu dan mahal.

“Nanti kalo aku ulang tahun, beliin boneka hiu ini boleh, gak?” Tanya Luna iseng.

“Kamu mau boneka paus pun aku beliin, Lun”

“Hahahahaha okedeh! Sekarang, pulang yuk? Udah jam delapan”

“Ayo, kamu beneran gak mau makan dulu?”

“Engga, deh”

“Yaudah yuk kita pulang.”

“Ayoo”

Hari menunjukkan pukul 20.20 WIB di mana waktunya mereka kembali ke rumah masing-masing—meskipun Farrel sering mengulur waktu di rumah Luna.

Luna tertidur pulas di dalam perjalanan. Farrel menyalakan radio dengan volume cukup tinggi supaya tidak mengantuk. Waktu menunjukkan pukul 20.45 WIB, seikitar 20 menit lagi untuk sampai di rumah Luna.

Atmosfer dingin dan sunyi membuat Farrel meneteskan air matanya. Ia berkali kali menatap Luna-nya yang tertidur pulas dengan wajah yang terlihat sedikit pucat. Raut wajahnya yang lelah dengan balutan dress putih membuat Farrel mempercepat laju mobilnya agar lekas sampai.

15 menit berlalu, kini Farrel terduduk di rumah Luna setelah mengantarnya pulang. Ia menatap Luna-nya dengan lembut sambil melamun termenung. Jika saja pada hari itu ia mengendarai mobil dengan baik, ia tidak akan melihat tanah merah yang basah karena hujan sore tadi.

“Sayang, ini bunganya. Masih seger, loh. Baru di petik tadi pagi. Semoga bunga matahari kali ini beneran bikin kamu seneng, ya. Oiya tadi aku beli boneka hiu yang pernah kamu bilang waktu itu. Yang paus gak ada.” Tawa miris ditemani dengan air mata yang meluncur jatuh dari pelupuk matanya samar terdengar. Ia kemudian menyingkirkan beberapa ranting pohon yang berserakan di atas tanah merah basah yang menutupi Luna-nya.

“Katanya rancangan rumah kita hampir jadi, kapan kamu mau kasih lihat ke aku? Aku udah nunggu setahun, loh. Lama kamu, mah. Kita sewa arsitek aja nanti, ya?”

Farrel tersenyum miris sambil menyandarkan kepalanya ke batu nisan putih bertuliskan nama pujaan hatinya.

“Sayang, selamat ulang tahun, ya. Yang tenang di sana. Besok aku kesini lagi.”

Ikuti tulisan menarik Annisa Salma Putri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler