Hujan di Bulan Desember - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Rilda Gumala

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Senin, 20 Desember 2021 08:13 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Hujan di Bulan Desember

    Kegelisahan seorang perempuan yang belum menikah di usia 30 tahun..

    Dibaca : 1.155 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    HUJAN DI BULAN DESEMBER

         

    Bukannya aku tidak  ingin menghadiri acara pernikahan , aku juga ikut berbahagia kalau ada undangan pernikahan dari sahabat atau kerabat namun terus terang aku malas saja hadir. Berat kaki rasanya melangkah sungguh aku  tidak siap dengan pertanyaan setiap kenalan yang bertemu di pesta pernikahan itu.

    “ Hei, Rani…kapan nyusul?” “Waduh..cantik.. nunggu siapa lagi?”

     “Jangan terlalu milih-milih ya…biasanya kalau terlalu milih dapatnya malah ..hm..hm”  suara-suara seperti itu berseliweran di telingaku.

    Setiap kali menghadiri acara pesta pernikahan aku bingung mau menjawab apa  Mau marah nggak pas juga masak di acara kawinan marahan ? …Malu … Makanya seringkali kalau menerima undangan seperti hari ini aku bingung banget  “ Pergi nggak ya…pergi nggak ya…” aku bingung

    Aku mondar mandir sambil menenteng undangan,…” Pergi nggak ya…pergi nggak ya…kalau pergi barengan siapa ya….?” pikirku

    Begitulah , di usiaku yang sudah  30 tahun  lebih..dan belum menikah. Boro-boro bicara menikah …calon aja nggak ada! Mama, sering kali bertanya, “Rani, usiamu sekarang sudah 30 tahun lebih 10 bulan dan tepat di bulan Desember tahun ini 31 tahun. Sudah ada calon atau belum? Kenalin dong sama Mamah…” Terpaksa saya senyum aja , habis nggak tau mau jawab apa. Mama menatapku, “Rani, mama serius!”

    “Iya, ma .. nanti Rani kenalin sama mamah.”

    “Kapan?” 

    “Tahun lalu jawabanmu juga begitu!”

    Aku pegang tangan mama dan kutatap matanya, “ Mama, jangan terlalu mencemaskan Rani, doakan aja ma ya..”

    Mama menggangguk , ada gurat kesedihan di wajahnya. Aku tidak sanggup melihat itu. “Ya, Tuhan…rasanya berat sekali usia 31 tahun ini…”

    Semua sahabat karibku, Santi, Titin, Citra, Desi sudah menikah dan punya anak. Biasanya kalau lebaran mereka selalu datang ke rumahku bersama suami dan anak-anaknya.  Kalau mereka datang ke rumah tampak sekali mama dan papa ku bahagia  melihat kelucuan anak-anak sahabatku itu. Mereka sudah seperti keluargaku..dan anak-anaknya pun memanggil Oma dan Opa kepada mama dan papaku. Namun bagaimanapun juga tetap saja mama merindukan cucu nya sendiri…anak-anak ku…karena aku anak satu-satunya. Seandainya aku punya kakak atau adik mungkin hal ini tidak terlalu berat bagiku.

    Sekarang sudah di bulan Desember dan tepat tanggal 7 nanti, usia ku sudah 31 tahun. Aku gelisah, nervous. Sampai hari ini aku masih belum bisa memperkenalkan seorang calon menantu bagi mama dan papaku. Dan sekarang undangan dari teman sekantorku Maya sudah ada di tanganku. Aku makin gelisah..pergi nggak ya…akhirnya kuputuskan untuk menghadiri acara pesta pernikahan Maya- nggak mungkin lah  jika aku tidak hadir. Maya adalah rekan kerja  dan sahabat baikku dan setiap hari bertemu di kantor.

    Sore ini aku pergi ke sebuah mall di kotaku, rencanaku mau membeli sebuah gaun untuk menghadiri pesta pernikahan Maya. Aku ingin  tampil cantik dan apik nantinya. Sedang asyik memilih –milih gaun di butik  aku mendengar suara memanggilku. “Rani,…Rani..” Aku mencari-cari sumber suara itu. Tiba-tiba pundakku disentuh seseorang . Aku kaget.

    ”Hei,..apa..kabar? “ masih seperti dulu, tomboy..” He..he..he..Rupanya, si Upik teman kuliahku dulu.

    “ Ah, kamu rupanya, dimana sekarang?”
     “Di sini..”

    “Ha..ha..ha..” Dia menarik tanganku, kita ngobrol sambil makan yuk..”ajaknya.  “Ayuk.. Kami keluar dari butik itu menuju ke food martnya.

    Kamu masih seperti dulu, cantik dan tomboy. Badanmu juga kayak gitu-gitu aja. Beda sama aku yang sekarang udah gemukan. Katanya nyerocos. Aku senyum-senyum melihat gayanya yang memang masih seperti itu juga.

    “ Rani, tau nggak kamu, kalau aku jadi gemuk seperti ini gara-gara stress. Aku mengerutkan kening. “Kenapa?

    “Iya , Makku nanya terus kapan nikah? Kapan nikah? Jadinya aku stress. Kerjaanku makan..terus…trus ? ya jadi gini..gembul.”

    “Kamu gimana? “

    “Sama,” jawabku. “Tapi aku santai aja, Pik…”

    “Bener, bisa santai? “  “Nggak juga sih, paling tidak nggak sampe stress seperti kamu lah.” Kami berdua tertawa. Mentertawakan diri sendiri. Terasa garing banget..

    “ Aku ada undangan nih , temani aku ya.. mau ya ?..”

    “ Siiip lah…”

    “ Mumpung sekarang ketemu kamu. Biasanya kamu paling bisa memilih gaun. Nah tolong ya ..pilihkan aku satu gaun yang terbaik ya !”

    “ Oke.. tapi setelah itu kamu temani aku ke sanggar senam ..aku mau ikut jadi member “ Aku menggangguk.

    Sanggar senam  Jetita berada di mall ini juga. Ramai sekali ibu-ibu muda , setengah tua..cantik-cantik pula. Kami disambut ramah si pemilik sanggar, orang-orang memanggilnya bundo. Akhirnya bukan cuma Upik yang mendaftar jadi member, aku juga. Kami  ikut kelas aerobic. Besok sore kami langsung mulai senam.

                                                                           ***

    Ternyata senam itu menyenangkan.  Happy and fun lah. Sebelum pulang ngobrol-ngobrol dulu di kantinnya. Di kantin sini disediakan buah-buahan dan minuman rendah kalori. Senang sekali rasanya bertambah teman, apalagi banyak ibu-ibu muda, karyawati, ada pula istri pejabat yang ikut senam. Hal yang lebih seru lagi ketika tahu saya dan Upik belum menikah eh…mereka ramai-ramai mau mencoblangi kami dengan saudara atau temannya.   Ibu Tuti yang paling semangat pengen memperkenalkan aku dengan rekan kerjanya,” Rani, mau ya ibu kenalkan dengan teman kantor ibu, orangnya rajin dan ganteng..pokoknya cocok lah sama Rani..” Aku tersenyum mendengar celotehan ibu cantik ini.

    “ Kriteriamu apa Ran?”“

    “Biasa aja buk…kalau bisa orangnya seiman, punya pekerjaan tetap, mengenai pendidikan harapannya setaralah dengan saya bu agar kapalnya nanti nggak oleng..he..he

    “ Nggak harus ASN  kan? “

    “Ah, enggaklah buk…kita menikah dengan orangnya buk , bukan dengan pekerjaannya.”

    “Nanti, ibu berikan no ponselmu ke dia ya..namanya Rudi.”

    “ Oke buk..tapi kalau nggak cocok nggak apa – apa kan?

     "Hitung-hitung Tambah teman tambah saudara lah  ..”

     “ iya , ndak apa-apa..kenalan aja dulu..siapa tau cocok dan berjodoh..”

    “ Terimakasih ya bu’’

    Hmmm  ...mmh …kuhirup udara sore ini  sepenuh-penuhnya. Terasa lapang. Rasanya beban yang menghimpit dadaku mulai berkurang. Walaupun aku dan rekan kerja ibu Tuti itu belum bertemu, tapi aku merasakan satu harapan baik, untuk dipertemukan dengan orang baik juga. Semoga cocok dan berjodoh…masih terngiang-ngiang ucapan ibu Tuti di telingaku.  “Ya..semoga cocok dan berjodoh, desisku. Hujan mulai turun namun sore  terasa lebih  indah di bulan Desember penghujung tahun ini.

    Hujan di bulan Desember meluruh jatuh ke  bumi. Ada laraku berhamburan bersamanya. Untuk asa yang masih menjauh, tak mengapa. Hanyut di derasnya hujan, hingga menginisiasi tunas baru, asa baru..

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Rilda Gumala lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.