x

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Iklan

Mira Azzahra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Desember 2021

Selasa, 21 Desember 2021 16:41 WIB

Makna Tersirat Puisi Pertemuan Karya Sapardi Djoko Damono

Mengetahui makna yang tersirat pada karya puisi pertemuan oleh sang maestro Sapardi Djoko Damono

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Spardi Djoko Damono atau yang biasa dikenal dengan SDD adalah salah satu penyair, kritikus satra dan pakar sastra yang sudah menerbitkan puluhan bahkan ratusan puisi yang dikenal se Tanah Air Indonesia. Spardi Djoko Damono (SDD) dipanggil sebagai Maestro karena mampu menerbitkan karya dengan kata-kata yang sederhana namun memiliki arti yang sangat menyentuh dan mengena pada hati. Maestro ini lahir di Surakarta pada tahun 1940-an.

 

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang bermakna. Penulisan puisi sering kali didasarkan pada pengalaman, penglihatan, perasaan, dan keadaan dari penulis saat itu. Tipografilah yang menjadi ciri khas puisi dan membedakannya dari karya sastra lainnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tipografi puisi sangat unik dan sebebas penyair. Ketika penulis mengatakan puisi, puisi disebut puisi. Puisi dan puisi adalah sama. Banyak yang mengatakan bahwa Pantun adalah teks puisi tertulis, dan puisi adalah teks puisi yang dibaca.

 

Puisi berdasarkan penulisan puisi sangat dipengaruhi oleh keadaan pengarang, dan makna serta pesan yang ingin disampaikan pengarang sering kali sangat mendalam. Puisi juga memiliki banyak arti. Mereka berbicara tentang kehidupan, politik, cinta, hubungan, hubungan hewan, hubungan alam dan banyak lagi.

 

Pemilihan kata yang sederhana, namun memiliki makna yang mendalam. Butuh berapa kali pengulangan untuk bisa memahami kata-kata sang maestro walaupun sebenarnya ia bilang bahwa puisi bukan untuk dipahami, tapi dihayati. Salah satu puisinya yang berjudul“Pertemuan". Puisi ini bercerita mengenai seorang wanita dan seorang pria yang sedang merindukan satu sama lainnya.

Puisi Pertemuan

Perempuan mengirim air matanya

ketanah-tanah cahaya, kekutub-kutub bulan

kelandasan cakrawala; kepalanya di atas bantal

lembut bagai bianglala

 

Lelaki tak pernah menoleh

dan di setiap jejaknya; melebat hutan-hutan,

hibuk pelabuhan-pelabuhan; di pelupuknya sepasang matahari

keras dan fana

 

dan serbuk-serbuk hujan

tiba dari arah mana saja (cadar

bagi rahim yang terbuka, udara yang jenuh)

ketika mereka berjumpa. Di ranjang ini.

 

Dalam puisi ini Sapardi Djoko Damono menggambarkan seorang wanita yang sedang merindu pada kekasihnya, wanita tersebut menangis, air matanya jatuh ketanah dan membasahi pelupuk pipinya. Sedangkan Sapardi Djoko Damono menggambarkan seorang pria yang sedang menapaki jejak melewati lebatnya dan kerasnya perjalanan hidup.

 

Seorang pria dan wanita ini sebenarnya ingin bertemu, namun apa boleh dikata mereka terpisahkan sementara, dikarenakan suatu hal. Namun, dikarenakan penantian yang panjang baik serta tulus dari wanita, dan juga sang pria yang tetap memiliki jati diri dalam dirinya, hal ini memberikan dampak/efek yang baik bagi sepasang kekasih ini. Hal ini dikarenakan mereka akhirnya bertemu juga dalam suatu pertemuan yang tidak terduga yang membuat mereka dapat melepaskan rindu satu dengan lainnya.

Ikuti tulisan menarik Mira Azzahra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu