Memori di Tetesan Air - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Roman Grac dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Kamis, 23 Desember 2021 17:18 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Memori di Tetesan Air

    Seorang pria yang membenci hujan bertemu dengan perempuan yang juga membenci hujan. Bagaimana interaksi mereka berdua mengubah persepsi mereka terhadap hujan?

    Dibaca : 861 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                 Aku sangat benci hujan. Suara tetesan air yang berisik tidak dapat membuatku tenang. Aku tidak tahu mengapa mereka bisa melewatinya dengan baik-baik saja. Aku bahkan tidak bisa melewati hujan walaupun memakai payung atau jas hujan. “Mengapa siang ini harus hujan. Acara tv kesukaanku akan terlewatkan.”, ujarku. Aku duduk di dalam kelas sambil menunggu hujan berhenti. Aku membalikkan lembar demi lembar buku novel kesukaanku. Aku suka karena novel ini bercerita tentang kehidupan di gurun. Jika hidup di sana pasti tidak akan pernah berhadapan dengan hujan. Tapi, bagaimana dengan persediaan air mereka? Huhhh. Sepertinya kita memang tidak bisa hidup tanpa hujan, sayang sekali.

                “Mengapa kau belum pulang?” Aku mendengar suara seorang perempuan. Pertanyaan itu sudah pasti ditujukan kepadaku atau dia dapat melihat hantu. “Aku hanya menunggu hujan untuk berhenti. Bagaimana denganmu?” Dia hanya diam berjalan, duduk di kursi sebelah mejaku. Dia menyusun bukunya yang berada di laci mejanya. Mengapa aku tidak pernah melihat dia saat di kelas? “Aku tidak suka hujan.”, ujar perempuan itu. Apakah dia teman seperjuanganku? Sepertinya kami berdua bisa berteman. “Mengapa?” Dia diam, ragu untuk menjawab. Apakah aku baru saja menanyakan hal yang sensitif. “Maaf, jika kau tidak ingin menjawabnya tidak apa-apa.”, ujarku. Setelah itu, keheningan menghampiri kami. Suara hujan semakin keras.

                Aku kembali membaca novelku. Dia juga sedang mengerjakan tugas yang diberikan tadi siang. Hebat sekali. Aku bahkan mengerjakannya saat esok harinya akan dikumpul. “Apakah itu tugas yang diberikan bu Ina tadi?” Dia melihatku seolah tahu apa tujuanku. “Iya, apakah kamu mau melihatnya?” Aku tidak tahu apakah aku harus membuang harga diriku dan meminta jawabannya kepadanya atau bersikap keren dan menderita untuk enam hari ke depan. “Tidak, terima kasih. Masih ada waktu satu minggu untuk mengerjakannya.”, ujarku. Dia tertawa kecil melihat tingkahku. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.

                Setelah beberapa menit, hujan berhenti. Perempuan itu berdiri dan menyusun kembali bukunya. “Sampai jumpa besok.”, ujar perempuan itu. Aku melambaikan tanganku. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa tenang. Aku memasukkan novelku ke dalam tas dan meninggalkan kelas. Aku berharap besok harinya cerah. Tetapi di dalam lubuk hatiku, aku berkata, “Setiap hari hujan juga tidak masalah.”, aku tidak tahu mengapa, aku yang dulu membenci hari hujan berpikiran hal seperti itu.

                Keinginanku terwujud, setelah pulang sekolah langit menggelap dan menurunkan airnya. Aku berjalan kembali ke kelas dan melihat perempuan itu lagi. “Sudah kuduga kamu akan kembali berteduh di dalam kelas.”, ujar perempuan itu. Mukaku memerah sambil tertawa kecil. Aku duduk di kursi di samping mejanya. Aku membuka novelku, sedangkan dia sedang menyusun berkas tes matematika yang kami adakan tadi pagi. Aku menarik napas panjang dan memberanikan diri untuk menanyakannya. “Apakah kau membutuhkan bantuan?” Dia melihatku dengan terkejut dan tertawa kecil. “Tentu saja.”, ujarnya. Aku tidak tahu mengapa aku harus memberanikan diri tadi.

    Kami berdua terus menyusun berkasnya sesuai urutan nama. Aku menikmati pekerjaan ini bersama dia. Kami tidak berbicara sepatah kata pun, tetapi aku tetap merasa senang bersamanya. Apakah ini? Tidak mungkin. Aku tidak ingin memiliki hubungan seperti itu. Aku lebih suka sendiri dan bebas. Seperti di rumahku. “Maaf, aku ingin pergi ke kamar kecil.”, ujarku. Dia hanya melihatku dan menganggukkan kepalanya.

                “Hoegggh!” Mengapa aku harus mengingat kejadian hari itu? Sial, aku hampir muntah di lorong sekolah. Mengapa jarak toilet dengan kelasku sangat jauh? Aku akan menanyakannya kepada bapak kepala sekolah besok hari. Hmmm, kurasa tidak. Saat aku sampai di kelas dan tidak melihat perempuan itu dan juga tasnya. Aku teringat bahwa dia tidak suka hujan. Aku berlari ke luar kelas dan hujan masih deras. “Sial!” Aku berlari melewati hujan. Semua ingatan burukku langsung muncul di dalam benakku. Aku tidak tahan, aku ingin muntah. Tetapi aku selalu memikirkan perempuan itu dan terus berlari.

                Aku menemukannya tergeletak di dekat pohon besar tidak jauh dari sekolahku. “Woy! Apa yang terjadi?!” Aku menggendongnya dan membawanya ke tempat yang kering. “Kita berdua sama. Aku juga mempunyai ingatan yang buruk tentang hujan. Tetapi aku tidak ingin hal itu terjadi lagi kepadaku.” Aku meletakkan telapak tanganku di dahinya dan badannya sangat panas. Apakah aku bisa berlari membawanya ke rumah sakit terdekat? Sial, tempat itu terlalu jauh. “Bagiamana denganmu? Apakah kau baik-baik saja terkena hujan ini?” Mengapa dia masih bisa mengkhawatirkan orang lain di saat seperti ini. “Sudahlah, kau lebih penting dari kondisi tubuhku.”, ujarku. Aku melihat wajahnya semakin merah. Gawat.

                Ayo berpikirlah, apa yang seharusnya kulakukan? Aku melihat mobil taksi lewat. Aku tidak akan melewatkannya. “Taksi!!” Bagus, dia melihat ke arah sini. Aku berlari ke arah taksi itu. “Apakah bapak mempunyai payung?” Bapak itu tidak membuka jendelanya namun menunjuk ke arah belakang. Apakah bapak itu bisa membaca pikiranku? Bukan saatnya untuk itu. Aku mengambil payung hitam di bagasi mobilnya. Aku menggendong perempuan itu dan membawanya ke dalam taksi. “Rumah sakit pak.”, ujarku. Bapak itu mengangkat topinya sedikit dan mempercepat mobilnya. Mengapa dia sangat keren?

                Kami sampai di rumah sakit. Dia melewati hujan karena adiknya terjatuh sakit saat sedang di kelas dan dilarikan ke rumah sakit. Aku juga pasti melakukan hal yang sama. Tetapi, aku tidak apa-apa. Aku baru saja terkena air hujan dalam waktu yang lama. Perempuan itu memegang tanganku. “Terima kasih. Apa yang harus aku lakukan untuk berterima kasih kepadamu?” Bukannya kau baru saja mengucapkan terima kasih kepadaku? Tapi, aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Beranikan dirimu Andi. “Bisakah aku mengetahui namamu?” Perempuan itu heran dan tertawanya meledak. “Ahahaha, kamu memang laki-laki yang menarik.”, ujar perempuan itu. Dia mengusap kedua matanya dan kembali menggenggam tanganku. “Namaku Rina.”, ujarnya.

                “Begitulah kisah di mana ayahmu bertemu dengan ibu.”, ujar Rina. Rina dan kedua anakku melihat ke arahku. “Ayah orang yang penakut ya?” Tawa mereka bertiga meledak di derasnya hujan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.