Arti dari Sebuah Nyawa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Matthias Fischer dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Sabtu, 25 Desember 2021 07:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Arti dari Sebuah Nyawa

    Seorang tentara yang meragukan tujuannya dan mencari jawaban dari pertanyaannya. Apakah itu nyawa? Apakah artinya? Apakah dia dapat menemukan jawabannya?

    Dibaca : 1.312 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                 Apakah perspektif nilai dari sebuah nyawa tiap orang berbeda-beda? Apakah mereka yang dekat dengan kematian lebih menghargai sebuah nyawa? Ataukah mereka yang sedang bersantai dan makan banyak? Ataukah semuanya sama?

                “Hari ini kita akan berpatroli di daerah ini. Belakangan ini mereka para pemberontak sering terlihat malam hari di sekitar pemukiman ini. Kita harus memastikannya sebelum menghanguskan daerah ini.”, ujar si kapten. Aku seorang tentara yang sedang bertugas di negara yang sedang terjadi konflik. “Fokuslah James. Kau tidak bisa menghayal di tempat seperti ini.”, ujar si kapten. Aku turun dari mobil Jeep dengan senjata lengkap. Orang-orang sekitar yang tidak memiliki rumah takut dan sembunyi. “Lihatlah mereka. Aku bahkan tidak tahu apa yang kita lakukan ini berupa keadilan. Aku menjadi tentara bukan seperti ini.”, ujar Stephen. Aku tidak punya hati semulia dia, aku di sini hanya menjalankan tugasku. “Permisi pak, apakah bapak punya air minum?” Seorang anak mendatangiku dengan bajunya yang telah buruk. Siang terik ini, mereka hanya berharap bantuan datang dari mana saja. “Ahmad! Maafkan anak saya pak.”, ujar ibunya. Seorang wanita paruh baya, mungkin adalah ibu dari anak itu juga dengan penampilan yang sama.

                “Kalian pergilah sana! Jaga perbatasan itu!” Atasan kami dengan baju hawaiinya dan makanan yang lengkap. Dia yang bertanggung jawab atas misi kami di negara ini, namun dia bahkan sedang bersenang-senang dengan petinggi di negara ini. “Siap pak.”, ujar pak sersan. Pak sersan selalu menahan amarahnya jika berurusan dengan mereka. Aku juga hanya menganggap mereka sebagai parasit di dunia ini. Namun, aku sudah putus asa. Memperbaiki hal ini sama saja dengan memutarbalikkan waktu. Sebab itu aku menyerah.

                “Ada bu. Ambil saja ini.”, ujarku. Anak itu langsung mengambilnya dari tanganku dan membawanya lari ke gang-gang kecil. “Terima kasih pak. Kami belum minum seharian.”, ujar ibunya. Aku hanya mengangguk dan membiarkan mereka berdua pergi. Apakah aku memang sudah menyerah? “James, kami melihat gerakan di ujung kota ini.”, ujar Stephen. Inilah hal yang membuatku bertanya-tanya. “Arah jam 2. Dia sedang membawa senjata.”, ujar Stephen. Kami memburu pria itu yang sedang membawa sesuatu. “Perintahmu pak.”, ujarku. Kami semua sudah siap untuk menembak. “Tembak!” Kami semua mengeluarkan tembakan. Pria itu tewas di tempat. Kami memeriksa barang bawaannya. Tas itu hanya berisi sebuah beras. “Mengapa kau menembak ayahku? Kami hanya kelaparan.”, ujar anaknya yang keluar dari gang-gang kecil. Tiba-tiba anak yang meminta air minumku keluar juga dari gang yang sama. “Aku kira kalian akan menyelamatkan kami.”, ujar anak itu. Seseorang sudah berada pada posisi tembak. “Tunggu!” Aku refleks untuk menghentikannya. Namun, tembakan telah dilepas.

                “Apa yang kau lakukan?!” Emosiku meluap dan menggenggam kerah baju prajurit itu. Semua orang memisahkan kami. “Perintah tembakan bahkan belum masuk.”, ujarku. Dia bahkan tidak memiliki rasa bersalah. “Sudahlah James. Ayo kita kembali.”, ujar pak sersan. Pak sersan menggenggam pundakku dengan keras. Setelah itu, kami ditugaskan untuk kembali. Tiba-tiba perintah untuk menjaga daerah ini ditarik.

                “Apakah bapak yakin?” Dia meletakkan gelas minumannya dengan keras. “Tentu saja! Mereka pasti bersembunyi di pemukiman itu. Kita harus memusnahkannya sekarang.”, ujar atasan kami. Pak sersan hanya bisa mematuhi perintah dari atasan. Dia memiliki niat untuk melawan tetapi hanya sebatas niat. Dia sama saja dengan mereka semua.

     

                Keesokan harinya, perintah untuk menghanguskan kota itu dikeluarkan. Kemudian, puluhan bom dijatuhkan dari pesawat. Sekejap mata, semuanya musnah, bangunan dan mereka di sana. Bantuan yang mereka harapkan datang, musnah begitu saja. “Pak, kami menemukan persembunyian mereka bukan di kota itu. Mereka telah berpindah ke negara tetangga.”, ujar teknisinya. Atasan kami dengan santai mengganti bajunya dan mengemas barang-barangnya. “Baiklah, misi kita di negara ini telah selesai. Bergegaslah untuk misi selanjutnya.”, ujarnya. Aku yang mendengar berita itu, mendorong pintu dan masuk ke dalam ruangan mereka. “Apa yang kau katakan?! Misi selesai?! Kau baru saja membunuh mereka semua yang ada di sana?!” Aku menggenggam kerah atasan itu dan mendorongnya ke lemari buku di belakangnya. Semua di ruangan itu tidak ada yang memberhentikanku. Mereka hanya melihat dengan mata yang puas. “A-apa yang kalian lakukan?! Tembak dia!” Pak sersan memisahkanku dan menjatuhkanku. “S-siapa namamu?! Aku akan langsung memecatmu!” Aku mencoba untuk berdiri. “Hey atasanku. Menurutmu apa itu nyawa? Apakah kau bisa menjawab itu?” Dia menginjak pundakku dengan keras. “Tentu saja! Aku menjaganya tiap hari. Aku memastikan diriku makan banyak, kenyang, dan senang agar nyawaku bisa panjang! Berbeda dengan nyawamu yang hanya sekecil pemegang pintuku!” Aku kemudian meludahi mukanya dan dia menendang wajahku dengan keras hingga tidak sadarkan diri.

                Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya menjadi pengangguran yang sedang mencari kerja. Aku tidak menyesal sedikit pun. Aku tidak akan mendapat jawaban yang kuinginkan di sana. Tiba-tiba terdengar sirene mobil pemadam kebakaran. Aku mengikutinya dan melihat gedung yang sedang terbakar. Mereka mencoba untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalam. “Apakah masih ada orang di dalam?” Mereka tanpa takut memasuki kobaran api. “Aku tidak bisa membiarkan mereka di dalam sana.”, ujar salah seorang pemadam kebakaran.

                Hatiku kembali terbuka dan pertanyaanku pasti akan terjawab jika bersama dengan mereka. Itulah yang kupikirkan saat ini. Air mataku mengalir tanpa sadar. “Tenang saja pak. Mereka akan menyelamatkan keluarga bapak.”, ujar salah seorang pemadam kebakaran. Mereka mengira aku seseorang yang menunggu kabar keluarganya dari kebakaran itu. Aku tidak berhenti menangis dan melihat mereka keluar dengan seorang anak yang telah lemah di pangkuan mereka. “Terima kasih banyak pak.”, ujar seorang ibu yang mendatangi petugas pemadam kebakaran itu dan mengambil anaknya yang masih bernapas. Aku kemudian mendatangi petugas pemadam kebakaran itu. “Permisi pak?”

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Farhanaang__

    5 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 119 kali