x

Iklan

Nurhasanah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Desember 2021

Selasa, 28 Desember 2021 12:09 WIB

Makna Puisi “Ruang Tunggu” Karya Sapardi Djoko Damono


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ruang Tunggu

Secara umum karya sastra terbagi menjadi tiga jenis, yaitu prosa, drama dan puisi. Waluyo (2002: 1) mengungkapkan bahwa puisi merupakan karya sastra tertulis yang paling awal ditulis oleh manusia. Selain itu, puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang dalam penyajiannya sangat mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan makna.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dapat disimpulkan bahwa puisi adalah salah satu karya sastra yang disusun untuk mengekpresikan ide, gagasan, perasaan dan emosi penyair dengan menggunakan kata-kata yang indah, melebihi bahasa yang digunakan sehari-hari. Puisi mengandung unsur-unsur seni atau keindahan karena di dalam puisi terdapat kata-kata indah yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membuat para pembaca berkeinginan untuk membaca dan menyikap maksud yang tersirat. Selain itu, puisi mengekpresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan imajinasi dalam susunan yang berirama.

Sapardi Djoko Damono terkenal sebagai penyair. Di samping itu, Sapardi juga terkenal sebagai dosen, pengamat sastra, kritikus sastra, dan pakar sastra. Sapardi Djoko Damono lahir sebagai anak pertama pasangan Sadyoko dan Saparian, di Solo, Jawa Tengah, tanggal 20 Maret 1940. Dia berasal dari Solo, tepatnya Ngadijayan. Banyak sekali puisi-puisi yang diciptakan oleh Sapardi, salah satunya puisinya yaitu yang berjudul Ruang Tunggu.

RUANG TUNGGU

Sapardi Djoko Damono

Ada yang terasa sakit

Di pusat perutnya

Ia pun pergi ke dokter

Belum ada seorang pun di ruang tunggu

Beberapa bangku panjang yang kosong

Tak juga mengundangnya duduk

Ia pun mondar-mandir saja

Menunggu dokter memanggilnya

Namun mendadak seperti didengarnya

Suara yang sangat lirih

Dari kamar periksa

Ada yang sedang menyanyikan

Beberapa ayat kitab suci

Yang sudah sangat dikenalnya

Tapi ia seperti takut mengikutinya

Seperti sudah lupa yang mana

Mungkin karena ia masih ingin

Sembuh dari sakitnya

Puisi yang berjudul “Ruang Tunggu” karya Sapardi merupakan salah satu puisi yang dimuat dalam buku kumpulan sajak milik Sapardi yang berjudul “Ayat-ayat Api”. Puisi tersebut mengisahkan tentang seseorang yang merasa sakit, yang kemudian akan mencari dokter untuk mengobati penyakitnya. Pada umumnya, kita sebagai manusia tentu akan melakukan hal yang sama yakni mencari dokter agar dapat membantu pemulihan kondisi tubuh kita saat kita dalam kondisi sakit.

Bait dalam puisi juga menjelaskan tentang kondisi sebuah ruangan yang menjadi tempat keberadaan si pasien yang hendak menunggu dokter. Digambarkan bahwa terdapat bangku panjang yang kosong, belum ada seorang pun yang terlihat di ruang tunggu, ia mondar-mandir, menunggu dokter memanggilnya. Si pasien berarti sedang seorang diri. Ditemani sepi. Tampaknya si pasien merasa takut dan gelisah hingga walaupun melihat bangku panjang yang kosong, ia tetap memilih mondar-mandir dan tidak ingin duduk. Hal-hal yang digambarkan dalam puisi ini juga dapat kita jumpai dalam kehidupan nyata, yakni bangku panjang, serta suasana yang dihadirkan selama menunggu. Ketika merasa gelisah atau takut, terkadang kita melakukan hal-hal yang bahkan otak kita tidak sadari.

Setelah itu pada baris berikutnya, karena mungkin sudah tenggelam dalam pikirannya sendiri, si pasien tiba-tiba mendengar sebuah suara yang sangat lirih, suara tersebut sedang melantunkan ayat-ayat kitab suci yang mana pasien ini sudah sering dengar dan kenal. Meskipun demikian, si pasien tetap merasa takut untuk mengikuti suara lirih tersebut. Si pasien mulai berpikir tentang hal-hal aneh dan tetap bertekad untuk melanjutkan hidup. Ia masih ingin sembuh.

Ketika kita dalam kondisi sakit, tentu kita pasti ingin sembuh. Berobat ke dokter meskipun memakan biaya yang tidak sedikit rela kita lakukan demi kesembuhan diri sendiri maupun orang terdekat kita. Oleh sebab itu puisi ini erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, yakni keinginan jiwa untuk pulih atau sembuh dari sakit. Sembuh dalam hal ini bukan hanya sembuh dari penyakit yang diderita, melainkan juga sembuh dari tekanan batin seperti rasa takut atau kegelisahan.

 

 

Ikuti tulisan menarik Nurhasanah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler