x

ilustr: Human Resource

Iklan

Ilham Tanjung

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Desember 2021

Jumat, 31 Desember 2021 05:37 WIB

Etos Harga Diri, Persaingan dan Kerja Keras dalam Karakteristik Wirausaha Minangkabau

Budaya Minangkabau memiliki karakteristik tersendri, dimana budaya ini memiliki unsur migrasi (rantau) yang menjadi ciri khasnya. Seperti misalnya contoh wirausahawan rumah makan minang di perantauan. Budaya Minang dengan banyak falsafahnya mampu memberikan warna dalam ciri wirausaha Minang. Seperti karakteristik bekerja keras, mampu beradaptasi, percaya diri, dan lain sebagainya. Karakteristik ini berkontribusi pada keberhasilan kewirausahaan Minang di lokasi migrasi atau daerah perantauan yang ditargetkan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Budaya Minangkabau memiliki karakteristik tersendri, dimana budaya ini memiliki unsur migrasi (rantau) yang menjadi ciri khasnya. Seperti misalnya contoh wirausahawan rumah makan minang di perantauan. Budaya Minang dengan banyak falsafahnya mampu memberikan warna dalam ciri wirausaha Minang. Seperti karakteristik bekerja keras, mampu beradaptasi, percaya diri, dan lain sebagainya. Karakteristik ini berkontribusi pada keberhasilan kewirausahaan Minang di lokasi migrasi atau daerah perantauan yang ditargetkan.

Etos kesetaraan dan persaingan dengan harga diri sangat bercerminan, pada dasarnya setiap orang itu memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda beda maka harga diri merekalah yang mencerminkan bagaimana etos mereka masing masing. Sehingga pada akhirnya mendorong individu melakukan persaingan ataupun kompetisi demi memajukan diri mereka di tempat yang sedepan depannya.

Untuk bisa terus bertahan dalam dunia penuh persaingan, maka seseorang harus bekerja keras dan kreatif. Untuk bekerja keras, mamang adat Minangkabau mengatakan: Bajalan surang nak daulu, bajalan baduo nak di tangah ‘berjalan sendiri hendak dahulu, berjalan berdua hendak di tengah’.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Orang Minangkabau sangat terbuka sekali menjadi pengusaha di mana dia berada atau bertempat tinggal. Hal itu memungkinkan mereka untuk terus mengupayakan menyejahterakan diri mereka melalui usaha atau perdagangan. Seperti yang bisa diambil contoh yakni rumah makan Padang/Minang.

Pada dasarnya pengusaha rumah makan Minang itu adalah orang Minang sendiri yang menjunjung tinggi nilai nilai perantauan “dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang” sehingga membuat mereka tidak kesulitan dalam mewujudkan etos persaingan dan kerja keras di tempat ia berada.

Pada umumnya, hal yang bercirikan masyarakat Minang yang menjunjung tinggi Islam baik sebagai agama maupun sebagai pedoman hidup, yaitu memiliki kekerabatan matrilineal, biasanya merantau keluar daerah, tidak gentar dalam menghadapi tantangan, kesulitan dan kesakitan, berani untuk mengungkapkan kebenaran kepada orang lain, hidup dengan penuh energi, tidak setengah-setengah, hidup dalam kehidupan yang penuh tantangan, merasa bahagia dan aktif, memiliki rencana dan perkiraan yang jelas dan tepat. Seperti dalam kata pepatah “Hiduik baraka, baukue jo bajangko”, bersikap netral dan memperlakukan orang lain sebagai kelompok mana yang diperlakukan.

Perwujudan karakteristik wirausaha dapat dilihat melalui cara pandang, pengambilan keputusan dan pelaksanaan usaha, yaitu terdiri dari:

  1. Percaya Diri

Karakter utama yang dibutuhkan dalam budaya merantau suku Minang adalah percaya diri. Tanpa rasa percaya diri yang kuat, seseorang tidak akan mampu menerapkan budaya merantau tersebut, karena dalam merantau banyak ditemui ketidakpastian. Ketidakpastian ini tidak hanya dalam berwirausaha, namun ketidakpastian dalam hal kebutuhan pokok seperti makan, minum, sandang dan pangan inilah yang pertama kali dihadapi oleh para perantau.

  1. Kerja Keras

Kerja keras menjadi bagian penting dalam karakter etnis Minang. Untuk bisa eksis di dalam kehidupan yang keras penuh persaingan, seseorang harus bekerja keras dan kreatif. Untuk bekerja keras, mamang adat Minangkabau mengatakan “taimpik nak diateh, takuruang nak dilua” artinya bahwa dengan berusaha dan bekerja keras agar dapat mencapai apa yang kita inginkan. Dengan merantau mereka terbukti mampu bekerja keras untuk memperoleh kekayaan. Karena karakter yang dimiliki kerja keras, banyak pengusaha Minang, khususnya yang bergerak di “warung makan”, banyak yang berhasil.

  1. Berkontribusi terhadap keluarga

Eksistensi akan keluarga dalam masyarakat ada Minangkabau sangatlah besar dan dihormati. Saling rangkul-merangkul menjadi suatu cara tersendiri bagi sistem kekeluargaan di Minangkabau dalam membantu saudaranya. Demikian pula dalam pengelolaan rumah makan dimana terdapat peran keluarga di dalamnya. Pengelolaan rumah makan Minang juga menganut falsafah Minang yang demokratis, seperti “barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Hubungan antar anggota keluarga sangat erat, sehingga keluarga atau sistem kekerabatan memegang peranan penting dalam sebuah pekerjaan. Hal ini juga terjadi karena sistem kekeluargaan yang luas yang dianut oleh masyarakat Minang, sehingga gotong royong yang dijalankan dapat dilakukan dengan ikhlas karena demi keluarganya.

 

Referensi:

Akmal, S. Z., & Nurwianti, F. (2009). Kekuatan karakter dan kebahagiaan pada suku Minang. Jurnal Psikologi, 3 (1), 16-24.

Hastuti, Primajati Candra, Armanu Thoyib, Eka Afnan Troena, and Margono Setiawan. “The Minang Entrepreneur Characteristic.” Procedia - Social and Behavioral Sciences 211 (November 2015): 819–26.

Hikmah, R. (2003). Etos kerja pedagang perantau Minangkabau dalam perspektif nilai budaya Minangkabau (studi kasus tentang pedagang Minangkabau di kelurahan Kelapa Tiga kecamatan Tanjungkarang pusat kota Bandar Lampung). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ikuti tulisan menarik Ilham Tanjung lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler