Rindu yang Menjuntai Doa - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Menghidupi Tempat Ibadah: Pixabay

Resza Mustafa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 November 2021

Minggu, 2 Januari 2022 05:34 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Rindu yang Menjuntai Doa

    Kisah tentang romantisme doa. Hubungan dalam sebuah keluarga kecil, dan sifat alamiah manusia yang suka belajar. Mengaji dari siaran radio, adalah salah satu jalan yang digunakan tokoh saya untuk membuat pembaca kembali mengingat, salah satu budaya mendengar paling populer pada masanya.

    Dibaca : 816 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kapan lagi bisa mengaji dengan tenang, tanpa harus menghabiskan banyak uang buat beli bensin juga khawatir ban motor bocor. Cukup dengan mendengarkan secara gratis. Entah itu di kamar, maupun di teras, kini saya bisa memilih sesuka hati mana Kiai yang sedang ingin saya dengarkan ceramahnya dan kitab yang maksud hati mau saya pelajari.

    "Bapak, ini teh hangat. Sama beberapa gorengan, Rasya taruh di meja depan televisi ya!" seru anak gadis saya, Rasya. Memberi tahu bahwa ada cemilan yang dapat saya santap sembari mengaji.

    Tidak mahal, sama sekali tidak! Beberapa waktu lalu, saya mendapat keberuntungan karena ada keponakan yang merasa; ponselnya sudah tidak lagi terpakai. Lalu, dia menilai sepertinya saya sosok yang pantas dititipi ponsel tersebut.

    Sejauh pengetahuan saya, ponsel perlu diisi pulsa. Namun ada beberapa yang baru saya tahu, setelah keponakan bilang bahwa di dalamnya juga terdapat radio. Ya, dan itu bisa difungsikan cuma-cuma, tanpa mengurus pulsa.

    "Ya Allah, sepenuh syukur saya cecap secangkir teh hangat. Semoga hilang rasa kantuk dan malas demi tekad menuju ke jalan cahaya," lirihku.

    Saya bukan pemalas, dan orang tua saya dulu senantiasa mengajarkan giat semangat, serta kerja keras. Dalam hal apapun, termasuk mengaji dan membaca kitab. Malas tentu bukan pilihan bagi muslim yang baik. Saya ambil buku tulis dan pena dekat cemilan, di ruang tamu.

    Lantas bersicepat kembali menuju teras. Saya ambil ponsel dari saku, kemudian mulai saya aktifkan. Saya melihat gambar pada sudut ruang dalam layar, dengan tulisan di bawahnya, Saluran Radio. Kemudian saya pencet. Tidak lupa, saya tancapkan kabel alat pendengar, agar aplikasi dapat menangkap sinyal.

    Segera sore nanti diputar siaran mengaji. Mengulas salah satu bab dari Minhajul Abidin, karangan Imam Al Ghazali. Siapapun Kiai yang membacakan, bagi saya pribadi tidak masalah, utamanya adalah semua materi disampaikan lengkap dan terperinci.

    Sore tiba, kali ini ulasan kitab disampaikan oleh Drs. Kiai Ahmad dari Tremas, Pacitan. Beliau membahas tentang beberapa jenis orang yang sebenarnya tertipu di dunia. Menurut terjemahan makna, ada empat jenis orang dan sepanjang hidup dia telah tertipu oleh urusan duniawi, hingga ridha Allah menjauhi mereka. Yaitu, ahli ilmu, ahli tasawuf, ahli amal, dan orang kaya raya.

    Kiai Ahmad secara lebih rinci, menjelaskan tentang golongan orang kaya raya yang sepanjang hidup dia tertipu akibat urusan duniawinya. "Jenis awal itu, mereka semangat sekali ketika membangun masjid, sekolah, pondok, dan gedung dengan niat hanya untuk pamer," jelas saya dengar.

    Saya pun mulai memperbaiki posisi duduk, agar ruang gerak jadi lebih nyaman. "Ada dua alur yang membuat tertipu," lanjut Kiai Ahmad, suaranya terdengar sedikit serak.

    "Alur kesalahan pertama, mereka mencari dana pembangunan dengan cara dzolim. Semisal merampok, menyuap, alias hasil perbuatan haram. Andai bila ingin diampuni Allah, diwajibkan bagi mereka bertaubat dan dana dikembalikan ke yang memiliki hak,"

    "Bila yang berhak menerima harta pengembalian sudah meninggal, bisa diganti dengan ahli waris atau bila ahli waris juga telah meninggal bisa digunakan sesuai kemaslahatan yang bisa dimanfaatkan lewat dana pengembalian. Bisa juga, diberikan ke masyarakat fakir miskin," runtut, satu jalur dijelaskan. Kiai Ahmad mengurai dari kitab berbahasa Arab, kemudian diterjemahkan ke makna berbahasa Jawa.

    Tuturan-tuturan Kiai Ahmad terus berlanjut. Siaran radio satu ini benar-benar sayang apabila dilewatkan. Sambil memejamkan mata, saya menambah daya konsentrasi. Sesekali mencatat bagian terpenting yang dijelaskan, atau katakanlah, beberapa yang sulit saya ingat.

    "Jalur kedua. Mengira hal itu sebagai tanda ikhlas, ketika nama mereka dicatat sebagai penyumbang, kemudian mereka meminta agar tidak perlu dicatat agar dikira ikhlas. Namun ketika namanya dicatat, dia justru merasa diremehkan,"

    "Kemudian ada juga, mereka menyumbang dengan aturan namanya dicatat agar dilihat besaran sumbangannya. Padahal mau dicatat atau tidak, Allah tetap melihat dan mengetahui segala sesuatu," sampai tiba-tiba.

    "Radio Citra, akan segera kembali. Pendengar setia tetap di saluran ini ya, jangan ke mana-mana. Selamat sore," benar saja, waktu pariwara tiba, dan memotong penjelasan Kiai Ahmad.

    Saya membuka alat pendengar. Suara hembusan angin, mengubah suasana yang sebelumnya terdengar meriah karena suara radio, menjadi agak sepi.

    "Pak! Rasya berangkat ke surau dulu," dia menemui saya di teras.

    Saya menoleh. Melihat Rasya sudah bersiap. "O iya, hati-hati. Bapak belum bisa mengantar, temanmu mana? Belum sampai ke sini,"

    "Sudah menunggu, itu di gang dekat pos ronda," jawab Rasya. Sekalian dia pamit, salim. Bergegas, dan tidak lupa mengucap salam.

    "Ya, Allah. Terima kasih. Keikhlasan Rasya adalah salah satu anugerah terindah dalam hidup Hamba," Tuhan benar-benar Maha Pengasih, batin saya. Melihat Rasya, berjalan semakin jauh dari pandangan.

    Doa, bagi saya merupakan bahasa terbaik yang pernah muncul di dunia. Kamus istimewanya, dinamai iman. Sedang perilaku paling manusiawi, tentu saja berperilaku mulia.

    Lantas saya ambil lagi alat pendengar. Penjelasan Kiai Ahmad belum usai. Pasti akan sangat menarik.

    "Mari kita lanjutkan tentang pembahasan alur kesalahan kedua," Kiai Ahmad mengawali kembali. Tanpa mukadimah dan langsung ke arah penjelasan.

    "Yaitu, mereka sudah berusaha mencari dana halal, tapi luput dalam beberapa hal. Dari sini, dibagi lagi menjadi dua jalur,"

    "Pertama! Salah prioritas. Alias masih adanya unsur pamer, dan mencari pengalem. Contoh, tetangganya masih banyak yang kelaparan, tapi mereka masih semangat membangun masjid, dan lain-lain, supaya namanya diingat. Akhirnya jadi makruh. Padahal sebenarnya lebih utama harta tersebut disedekahkan ke tetangga fakir miskin, dengan niat yang benar-benar ikhlas,"

    "Kedua! Masjid dihias menggunakan ukir-ukiran indah. Padahal hal demikian kurang baik karena mengganggu ketenangan hati orang-orang yang salat. Akibatnya, pahala jadi berkurang. Dikira menghias masjid perbuatan baik, padahal hanya membuahkan ketidakridhaan Allah karena fokus dari awal mencintai urusan dunia," demikian kajian Kiai Ahmad selama satu sore penuh. Beliau mengakhiri ulasan Minhajul Abidin dengan doa-doa yang ikut serta saya amini dalam hati.

    Sayup-sayup terdengar azan magrib dari surau tempat Rasya mengaji. Saya masuk ke rumah membawa semua perlengkapan di teras. Duduk di ruang tamu, saya mendongakkan pandangan. Saya melihat foto Najwa, istri saya.

    Saya masih ingat, dahulu saat kami sebagai muda-mudi saling duduk bermesraan menatap senja. Menyukai ilalang yang diterpa angin, menyeru ungkapan cinta. Sungguh kini bakal saya jaga selalu Rasya. Juga, semoga kelak saya dan Najwa bertemu di surga.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.