Pernikahan nan Syahdu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Syarat Nikah ada serrtifikasi

Frank Jiib

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Jumat, 14 Januari 2022 19:24 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pernikahan nan Syahdu

    Sebuah perjalanan kisah cinta dua insan manusia yang berada ribuan kilo tetapi dapat bersatu dalam sebuah ikatan yang kokoh yaitu, pernikahan.

    Dibaca : 1.131 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Pernikahan nan Syahdu

       Sore itu di teras depan rumah dengan suara gemericik air hujan, aku memeluk serta mencium kening ibuku dan memohon doa restu agar pernikahan yang sebentar lagi aku lakukan dengan Fahna dapat berjalan dengan lancar. Ibuku mengusap wajahku kemudian mencium kening serta pipiku lalu berbicara dengan suara bergetar.

    “Anakku sayang, ibu merestui pernikahanmu dengan Fahna. Semoga rangkaian acara yang akan dilaksanakan bisa berjalan dengan lancar dan tanpa ada halangan. Maafkan ibumu tidak bisa mendampingimu di hari pernikahanmu dengan Fahna. Tetapi, doa dan restu ibu akan selalu mengiringi perjalananmu anakku. Selamat menempuh hidup baru dan semoga selamat sampai tujuan anakku.”

       Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh ibuku membuat aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku memandang wajah ibuku dengan air mata turun membasahi pipiku. Ibuku malah menangis sesenggukan sambil memeluk diriku dengan erat, seolah begitu berat rasanya untuk melepas kepergianku ke pulau Bacan. Dengan lembut aku memegang bahu ibuku lalu dengan telapak tangan kananku mengusap air mata di pipi ibuku. Kemudian aku berbicara untuk menenangkan ibuku.

    “Ibuku sayang, jangan bersedih dan menangis lagi ya. Aku pasti pulang kembali ke rumah ini dengan membawa istriku agar rumah ini bisa menjadi ramai kembali, dan ibu juga bisa berjumpa dengan menantu ibu yaitu, Fahna,” ucapku dengan suara pelan.

    “Iya anakku,” kata ibuku, “ibu akan menunggu kedatangan dirimu beserta menantu ibu Fahna tiba di rumah ini. Sekarang sudah waktunya kamu untuk berangkat anakku, mobil travel telah menunggu di halaman rumah,” imbuh ibuku.

       Aku segera bersalaman sambil mencium tangan ibuku. Tidak lupa aku meminta maaf dan memeluk adikku satu per satu. Setelah berpamitan, aku segera menuju ke mobil travel dengan membawa sebuah koper dan meletakkannya di bagasi mobil travel. Aku lalu masuk ke dalam mobil dan segera mobil berjalan pelan meninggalkan halaman rumah sambil aku melihat ibuku melambai-lambaikan tangan dengan perasaan haru bercampur bahagia.

    ***

       Malam ini aku menginap di sebuah kontrakan teman yang kebetulan bekerja sebagai supir travel yang aku naiki tadi sore. Sesudah menikmati makan malam di sebuah warung pinggir jalan, aku bergegas tidur lebih awal supaya tidak terlambat tiba di bandara Juanda esok hari. Pada kenyataannya aku tidak bisa tidur malam itu. Pikiranku selalu terbayang ibuku yang ada di rumah, rasanya aku ingin kembali pulang lalu membawa ibuku beserta adik-adikku ikut pergi ke pulau Bacan dan hadir dalam acara pernikahanku. Tetapi apa daya, aku tidak memiliki biaya untuk membawa ibu beserta adik-adikku dan pada akhirnya hanya aku yang berangkat seorang diri. Itulah rasa bersalah tebesar yang aku rasakan malam itu di sebuah kamar kontrakan.

       Aku merasa ada yang mengoyang-goyang tubuhku saat aku baru bisa merasakan tidur pulas. Saat aku membuka mata, ternyata temanku menunjuk sebuah jam dinding yang terpasang di atas meja. Ketika aku melihat jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul 04.30 pagi dan aku harus segera bergegas bersiap-siap menuju ke bandara yang letaknya tidak jauh dari kontrakan tempat aku berada saat ini. Setelah semua persiapan selesai, aku meminta tolong temanku untuk mengantarku ke bandara Juanda. Pukul 05.30 pagi mobil yang aku tumpangi berhenti di depan terminal keberangkatan domestik. Aku segera turun dari mobil sambil mengeluarkan barang bawaanku dari bagasi mobil, lalu mengucapkan terima kasih banyak kepada temanku. Dengan senyum ramah temanku berkata. “Selamat jalan semoga sampai dengan selamat di pulau Bacan dan selamat menempuh hidup baru teman.” Kami pun bersalaman, lalu ia kembali masuk ke dalam mobil dan tak berapa lama mobil itu berjalan meninggalkan aku yang berdiri di terminal keberangkatan domestik bandara Juanda.

       Aku segera mengambil sebuah kereta dorong dan meletakkan koper beserta tas bahu di atasnya. Dengan santai aku mulai berjalan menuju gerbang check in sambil mengamati situasi bandara Juanda pagi ini. Deretan toko-toko yang ada di terminal keberangkatan terlihat masih tutup, tidak pula lalu-lalang para penumpang yang biasanya memadati bandara Juanda. Dengan mudah aku sudah berada di depan gerbang check in untuk masuk ke bagian dalam area bandara. Aku menyerahkan tiket beserta surat-surat yang diperlukan untuk perjalanan kali ini kepada petugas berseragam biru yang sedang berjaga. Setelah diperiksa dengan teliti oleh petugas, aku akhirnya diijinkan untuk masuk ke dalam area bandara untuk proses boarding. Aku segera berjalan menuju konter maskapai Lion Air dan menyerahkan tiket beserta koper untuk dimasukkan ke dalam bagasi pesawat. Setelah dari konter Lion Air dan mendapat tiket boarding pass. Aku segera menuju ke ruang tunggu keberangkatan yang ada di lantai dua gerbang 5. Pukul 06.30 penumpang dipersilahkan untuk menaiki pesawat yang telah tersedia di landasan. Bersama para penumpang lainnya, aku berjalan menaiki pesawat dan mendapat tempat duduk di bagian belakang pesawat. Kurang dari 15 menit, aku melihat pesawat mulai didorong mundur dari area parkir untuk selanjutnya berjalan perlahan menuju landas pacu bandara. Kurang dari 2 menit tiba-tiba aku merasakan tarikan kuat di punggungku saat pesawat mulai melaju dengan kecepatan penuh di landas pacu bandara hingga pesawat berhasil lepas landas dengan sempurna di udara pagi yang berawan.

       Ketika duduk di kursi pesawat yang sedang terbang, aku melihat melalui jendela pesawat bandara Juanda mulai mengecil dan akhirnya menghilang dari pandangan. Saat itulah rasa sedih kembali menghantam hatiku ketika aku teringat ibuku dan adik-adikku yang berada di rumah tidak ikut bersamaku dalam perjalanan ke pulau Bacan. Sedangkan saat ini aku sedang pergi untuk memulai hidup baru bersama calon istriku tercinta. Sungguh ini adalah sebuah ironi bagiku tetapi apa daya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir kesedihan yang aku rasakan sambil memandang keluar. Aku akhirnya bersandar kembali di kursi pesawat sambil memejamkan mata supaya air mata yang sudah ada di pelupuk mata tidak sampai jatuh. Tanpa sadar aku akhirnya jatuh tertidur di kursi pesawat dalam perjalanan menuju pulau Bacan.

    ***

       Aku melihat pesawat baling-baling Wing’s Air yang aku naiki mulai menurunkan ketinggian yang artinya sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Oesman Sadiq Labuha, pulau Bacan. Aku merasakan getaran saat roda pesawat berhasil menyentuh landasan yang basah dan perlahan-perlahan mengurangi kecepatan hingga akhirnya pesawat berhenti di area parkir. Dari dalam pesawat aku memandang situasi di luar, ternyata hujan sedang mengguyur bandara Oesman Sadiq dengan intensitas sedang. Aku segera berdiri di lorong pesawat sambil menunggu giliran untuk turun. Ketika aku telah turun dari pesawat, aku segera berlari kecil menuju terminal kedatangan di bawah guyuran hujan supaya baju yang aku kenakan tidak terlalu basah terkena air hujan. Ketika telah berada di dalam ruang kedatangan yang tidak terlalu besar, terlihat kesibukan para penumpang yang baru saja turun dari pesawat. Beberapa dari para penumpang memilih duduk di deretan kursi yang tersedia dan sebagian lainnya menuju ke roda berjalan tempat pengambilan bagasi. Aku segera berjalan menuju ke tempat para penumpang sedang mengantri mengambil bagasi dan dengan sabar menunggu giliranku untuk mengambil koperku.

       Setelah selesai dari mengambil bagasi. Aku meletakkan koper beserta tas bahu di atas kereta dorong kemudian berjalan menuju pintu keluar ruang kedatangan. Setelah berada di luar, aku memerhatikan situasi di bandara udara Oesman Sadiq Labuha. Di area parkir bandara yang terletak di depan terminal kedatangan, hanya terlihat beberapa mobil sedang terparkir di bawah guyuran hujan, dan di jalur penjemputan hanya ada beberapa mobil dan selebihnya bandara ini terlihat sepi. Di kejauhan aku melihat mendung tebal berwarna hitam masih menyelimuti kota Labuha dan sepertinya hujan akan berlangsung hingga tengah malam. Tanpa sengaja aku melihat sebuah mobil Toyota Rush warna putih sedang melaju masuk ke jalur penjemputan dan berhenti tepat di depanku. Tidak berapa lama aku mendengar suara orang memanggilku dan aku mendapati Kak Faris sedang berlari kecil menuju ke tempat aku berdiri. Kami segera berjabat tangan dan berpelukan sejenak.

    “Apa kabar sore ini Kak Faris?” kataku, lalu menambahkan, “terima kasih banyak sudah menjemputku di bandara dalam kondisi hujan.”

    “Alhamdulillah kabar baik sore ini. Sama-sama Bang Fahad,” jawab Kak Faris dengan senyum bahagia. “Dan bagaimana perjalanan dari rumah sampai ke pulai Bacan lancar semua, kan?” tanya Kak Faris.

    “Alhamdulillah perjalanan hari ini lancar semua tanpa ada halangan,” jawabku, “dan mohon maaf keluargaku tidak ada yang bisa hadir di sini. Namun mereka menitipkan salam untuk keluarga besar yang ada di pulau Bacan,” imbuhku dengan senyum.

    “Tidak apa-apa Bang Fahad. Yang terpenting engkau telah tiba di pulau Bacan dengan selamat dan pasti Fahna akan sangat bahagia mengetahui calon suaminya telah tiba,” goda Kak Faris dengan kedipan sebelah mata.

    Kami berdua akhirnya tertawa bersama dalam suasana kekeluargaan di sore hari dengan latar belakang hujan yang terus mengguyur bandara Oesman Sadiq juga kota labuha. Kak Faris adalah kaka dari calon istriku, dan tidak lama lagi akan menjadi kakak iparku juga akan menjadi saudara.

       Setelah basa-basi singkat aku segera memasukkan koper dan tas bahu ke dalam mobil, kemudian aku duduk di kursi depan di samping Kak Faris yang ada di balik kemudi. Mobil segera melaju meninggalkan area penjemputan penumpang dan masuk ke jalan utama kota Labuha. Hujan masih terus mengguyur mengakibatkan jalanan basah dan di beberapa tempat terlihat genangan air. Aku mendapati sore itu kota Labuha terlihat sepi dan sebagian toko memilih tutup lebih awal karena hujan sepertinya tidak akan reda. Hanya lampu penerangan jalan berwarna kuning yang menyinari perjalananku menyusuri jalanan kota Labuha di sore menjelang petang. Setelah berkendara selama 15 menit, akhirnya mobil yang aku tumpangi masuk lalu berhenti di area parkir sebuah hotel yang ada di tengah kota Labuha. Aku turun dari mobil dan segera mengambil koper beserta tas bahu yang ada di belakang mobil. Aku mengajak Kak Faris ikut masuk ke dalam kamar untuk bersantai sejenak, tetapi ia menolak karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Aku tidak bisa memaksa Kak Faris dan aku mengucapkan terimah kasih banyak sambil memeluknya erat.

       Kak Faris segera kembali masuk ke dalam mobil lalu menurunkan kaca jendela penumpang sambil melambaikan tangan dengan wajah bahagia. Aku pun turut melambaikan tangan ketika mobil mulai berjalan perlahan meninggalkan pelataran parkir hotel dan masuk kembali ke jalan raya hingga hilang dari pandangan. Aku lalu berjalan menghampiri meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar yang telah aku pesan sebelumnya. Setelah menerima kunci kamar, aku berjalan menuju kamarku yang ada di lantai dua. Setelah berada di dalam kamar, aku meletakkan koper yang aku bawa di samping lemari pakaian, sedangkan tas bahu yang aku bawa aku letakkan di atas tempat tidur. Karena lelah setelah perjalanan jauh, aku memutuskan untuk membersihkan diri agar kembali merasa segar. Aku berjalan menuju ke kamar mandi lalu menutup pintu dan mulai mandi dengan air dingin. Selepas mandi aku kembali merasa segar tetapi kali ini perutku mulai terasa lapar dan aku baru ingat terakhir kali aku makan adalah kemarin malam di warung pinggir jalan. Aku lalu membuka tas bahu dan mengeluarkan roti isi coklat yang aku bawa sejak perjalanan dari Surabaya pagi tadi. Aku membuka jendela kamar sambil menarik sebuah kursi agar tepat berada di sisi jendela lalu duduk memandang keluar jendela menikmati malam di kota Labuha. Dengan tenang aku memakan roti isi coklat sambil mendengarkan suara hujan yang masih mengguyur kota Labuha sejak aku tiba hingga malam ini.

       Setelah menghabiskan roti isi coklat, aku mengambil hp yang tergeletak di meja nakas samping tempat tidur lalu menelepon ibuku yang ada di rumah. Dengan sabar aku menunggu panggilanku tersambung hingga terdengar suara yang telah aku nantikan berbicara.

    “Assalamualaikum anakku, apakah kamu telah tiba di pulau Bacan dengan selamat? Ibu sejak tadi menunggu kabar darimu karena ibu merasa khawatir jika ada sesuatu dalam perjalananmu,” kata ibuku dengan nada khawatir terhadap anaknya yang berada jauh dari rumah.

    “Waalaikumsallam ibuku,” jawabku dengan lembut. Lalu melanjutkan, “aku telah tiba di pulau Bacan dengan selamat sejak sore tadi ibu, dan tidak ada halangan apa pun selama perjalanan tadi. Ibu jangan merasa khawatir lagi ya di rumah.”

    “Syukur alhamdulillah engkau telah tiba dengan selamat anakku. Malam ini ibu berpesan supaya kamu jangan tidur larut malam karena esok hari adalah hari yang kamu nanti selama ini. Dan dengar nasehat ibu anakku, sebelum acara akad nikah dimulai jangan lupa berdoa kepada Allah semoga semua berjalan lancar dan tetap tenang jangan panik atau takut. Ibu selalu mendoakanmu dan yakinlah semua keluarga di sini juga turut mendoakan dan merestui pernikahanmu. Semoga pernikahan ini menjadi kebahagiaanmu bersama Fahna dan semoga cepat mendapat momongan supaya ibumu ini dapat menimang cucu yang pertama.”

    Mendengar kata-kata yang baru saja ibuku sampaikan membuat hatiku bagai ditusuk ribuan pisau. Pedih rasanya melihat ibuku berada di rumah dan aku berada di sini untuk memulai hidup yang baru. Malam itu aku merasa bersalah dan seandainya waktu dapat diulang kembali, aku pasti membawa ibuku untuk hadir di acara pernikahanku dan duduk disamping Fahna menantunya.

    “Ibu…” Hanya itu kata yang keluar dari mulutku dan seketika lidahku terasa keluh untuk melanjutkan obrolan. Aku tidak mampu lagi menahan perasaan sedih dan akhirnya aku menangis di dalam kamar hotel. Ada jeda yang terasa begitu lama antara aku dan ibuku yang berada di ujung sambungan yang lain. Hingga akhirnya aku mendengar suara ibuku memanggil namaku.

    “Fahad anakku, apaakah engkau masih bisa mendengar suara ibu?”

    “Iya ibu. Aku masih bisa mendengar suara ibu dengan jelas,” jawabku singkat.

    “Ada apa denganmu anakku? Sepertinya engkau sedang menyembunyikan sesuatu dari ibumu ini,” ujar ibuku seolah bisa membaca pikiran dan hatiku dengan jelas.

    “Aku tidak apa-apa ibu. Hanya aku merasa bersalah tidak bisa mengajak ibu ke sini untuk hadir di hari pernikahanku ini,” kataku dengan suara bergetar karena menahan tangis.

    “Ya Allah anakku,” kata ibu terkejut mendengar kata-kata yang aku ucapkan, “kenapa engkau masih saja menyalahkan dirimu sendiri? Malam ini engkau harus berbahagai dan bersemangat menyambut hidup baru yang akan engkau jalani esok hari. Ibumu di sini merasa bahagia, akhirnya bisa melihatmu menikah dan mempunyai seorang istri. Biarpun ibumu tidak ada disampingmu tapi ibumu akan selalu ada untukmu anakku.”

    “Terima kasih banyak ibu,” kataku dengan isakan pelan, “maafkan anakmu ini yang sampai sekarang belum bisa membahagiakan ibu. Semoga setelah menikah nanti aku akan bisa membuat ibu bahagia dan selalu tersenyum.”

    “Ibu akan selalu memaafkan engkau anakku sampai kapan pun. Malam ini ibu akan berdoa semoga pernikahan yang akan engkau jalani berjalan lancar dan engkau dapat membina rumah tangga yang abadi sampai ajal yang memisahkan kalian berdua.”

    “Ibu… Aku sayang dan bangga kepadamu. Malam ini anakmu ingin memelukmu sebelum melepas masa lajang. Biarpun pelukan ini dari jauh tapi bagiku begitu berarti,” kataku bercampur haru dan bahagia.

    “Ibu juga bangga padamu anakku sayang. Sekarang kamu harus istirahat dan tidur yang nyenyak malam ini. Dan jangan pernah berpikir yang aneh-aneh lagi karena ibu tidak ingin mendengarnya lagi,” pinta ibuku dengan tegas.

    “Pasti, nasehat ibu akan selalu aku ingat. Ibu, insyaallah nanti setelah acara akad nikah, aku ingin menelepon ibu tapi aku tidak sendiri lagi melainkan bersama Fahna istriku,” kataku dengan perasaan bahagia.

    “Ibu akan tunggu berita baik dari pulau Bacan di rumah. Dan sekarang kamu harus istirahat, awas kalau sampai engkau tidak tidur malam ini,” canda ibuku yang membuatku tersenyum.

    “Baiklah ibu. Aku akhiri panggilan ini dan segera aku langsung istirahat. Assalamualaikum ibuku sayang,” kataku dengan bahagia.

    “Waalaikumsallam anakku sayang, tidur yang nyenyak di sana,” jawab ibuku kemudian panggilan berakhir.

       Setelah panggilan dari ibuku berakhir, aku segera menutup jendela kamar dan mengembalikan kursi pada tempatnya. Di luar hujan masih terus mengguyur kota Labuha dan sepertinya akan bertahan hingga esok hari. Aku berjalan untuk mematikan lampu kamar lalu meletakkan hp di atas meja nakas samping tempat tidur dan merebahkan tubuhku di atas kasur hotel yang bersih, tidak lupa aku memakai selimut karena malam ini udara semakin dingin. Dalam gelapnya kamar hotel yang aku tempati, tiba-tiba pikiranku membayangkan calon istriku Fahna, sedang apa ia sekarang di rumahnya. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri didorong rasa bahagia membayangkan calon istriku. Malam ini adalah malam terakhir aku berstatus lajang. Sedangkan esok malam aku akan tidur dengan ditemani Fahna istriku dan aku rasanya sudah tidak sabar menanti saat itu tiba. Aku berusaha memejamkan mata dan dengan cepat aku jatuh tertidur pulas dengan seulas senyum bahagia.

    ***   

       Pagi pun akhirnya tiba dengan udara dingin yang menyegarkan akibat hujan yang turun sepanjang malam di kota Labuha. Aku membuka jendela kemar hotelku dan membiarkan angin sepoi-sepoi bertiup masuk. Aku berdiri di jendela kamar sambil memandang laut biru dengan deburan ombak kecil yang tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Matahari bersinar terang pagi ini dengan sebaran awan putih tipis di langit kota Labuha.

       Aku merasa bersemangat pagi ini karena hari ini adalah awal lembaran baru dalam perjalanan hidupku yang akan dimulai beberapa jam mendatang. Aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mempersiapkan segala sesuatu. Selepas dari kamar mandi, aku meletakkan pakaian yang akan aku kenakan di atas tempat tidur. Dengan seksama aku memeriksa pakaian yang akan aku kenakan untuk acara pagi ini. Setelah puas dengan semua persiapan kecil ini, aku lalu mengenakan pakaian sambil berdiri di depan cermin kamar hotel. Setelah selesai berpakaian, aku memerhatikan penampilanku di cermin dan aku merasa puas. Aku segera mengemasi barang-barangku ke dalam koper lalu merapikan tempat tidur hotel. Setelah menyelesaikan pekerjaan kecil, aku memandang kamar hotel yang akan aku tinggalkan. Dengan rasa sedih dan bercampur haru, dalam hati aku mengucapkan ‘selamat tinggal’ lalu menutup pintu serta menguncinya, kemudian aku berjalan di lorong meninggalkan kamar yang akan selalu menjadi kenangan dalam perjalanan hidupku.

       Aku berjalan turun ke meja konter yang ada di lantai satu untuk mengembalikan kunci kamar. Aku mengucapkan terima kasih banyak kepada petugas konter yang bertugas pagi ini dengan senyuman, lalu berjalan keluar ke teras hotel yang disinari sinar matahari pagi. Tidak berapa lama Kak Faris tiba menjemputku dengan mengendarai mobil yang sama dan berhenti tepat di depan teras hotel. Aku bergegas memasukkan koper beserta tas bahu ke dalam mobil dan aku pun masuk ke kursi depan duduk di samping Kak Faris. Mobil segera melaju meninggalkan hotel dan masuk ke jalanan kota Labuha yang terlihat mulai ramai dengan lalu-lalang kendaraan. Kurang dari sepuluh menit mobil yang aku tumpangi berhenti di depan sebuah rumah yang berada di bagian lain kota Labuha. Aku melihat rumah bercat putih dengan pagar besi hitam terbuka dan halaman rumput kecil berwarna hijau yang terlihat indah. Di beranda rumah terlihat beberapa orang sedang duduk sambil berbincang santai dengan suasana kekeluargaan yang begitu terlihat. Aku turun dari mobil lalu berjalan masuk ke halaman rumah yang disinari sinar matahari pagi. Ketika orang-orang itu melihat siapa yang sedang berjalan masuk ke halaman rumah, seketika orang-orang itu langsung berdiri dan menghampiriku dengan raut wajah kebahagiaan. Aku segera diajak masuk ke dalam ruang tamu dan dipersilahkan duduk. Tidak menunggu lama hidangan pun tersaji dihadapanku yang terdiri dari roti, kopi, beserta buah-buahan dan aku dipersilahkan untuk menikmatinya.

       Pagi itu suasana kebahagiaan, kekeluargaan begitu terasa di rumah yang sedang aku singgahi. Terdengar suara obrolan dari ibu-ibu yang berada di bagian belakang rumah, tidak ketinggalan anak-anak kecil yang berlari keluar masuk rumah dengan tertawa bahagia dan aku pun akhirnya jadi bahan candaan karena tidak lama lagi aku akan menjadi pengantin baru. Aku memerhatikan wajah-wajah yang begitu bahagia pagi ini dan dalam hati aku membayangkan bagaimana wajah Fahna pagi ini ketika sesuatu yang besar akan terjadi. Aku sudah tidak sabar ingin segera menuju ke rumah Fahna untuk melangsungkan akad nikah dan menjadi bagian dari hidup Fahna hari ini dan selamanya.

       Tepat pukul 09.00 aku beserta keluarga besar pemilik rumah yang tidak lain adalah paman Fahna akhirnya berangkat menuju tempat acara dengan menaiki beberapa mobil yang telah tersedia. Di dalam mobil yang sedang melaju, hatiku kembali berdegup kencang karena ketegangan juga kecemasa akan melakukan sesuatu yang sakral yaitu, pernikahan. Ditambah lagi, aku seorang diri saat ini tanpa ada keluarga besarku yang ikut mendampingiku tetapi aku yakin semua rangkaian acara akan berjalan lancar tanpa ada halangan sedikit pun.

       Mobil yang aku tumpangi akhirnya berhenti di pinggir jalan, lalu aku turun dari mobil beserta keluarga besar paman Fahna. Aku melihat di depan telah penuh dengan jajaran mobil yang terparkir dan di kejauhan sebuah tenda besar yang sudah dipenuhi dengan para tamu undangan. Aku berjalan dengan perlahan didampingi paman Fahna menuju ke rumah Fahna. Begitu aku tiba di depan rumah Fahna, aku langsung disambut oleh Ayah Ismed dengan senyum bahagia yang tampak di wajahnya. Aku segera bersalaman sambil mencium tangan dan berpelukan lembut dengan calon ayah mertuaku, karena tidak lama lagi aku akan menjadi bagian dari keluarga besar Fahna. Dengan lembut Ayah Ismed menggandeng tanganku dan bersama-sama mulai berjalan menuju ke tempat acara yang ada di depan. Aku melihat para tamu undangan menoleh kepadaku ketika aku berjalan di tengah lorong, dan ada beberapa orang yang mengambil foto menggunakan kamera hp.

       Setelah tiba di tempat akad nikah, aku dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan. Aku duduk di kursi putih dengan didampingi paman Fahna sebagai wakil dari keluarga besar aku yang tidak bisa hadir. Sedangkan ayah Ismed duduk di kursi yang ada di depanku dan diapit dua saksi yang duduk di sebelah kanan dan kiri antara aku dan Ayah Ismed. Kembali aku merasakan dalam hati kesedihan karena ibuku tidak dapat hadir di hari pernikahanku. Seandainya ibuku hadir hari ini, pasti saat ini ibuku sedang duduk bersama Fahna calon menantunya di dalam kamar pengantin. Aku berusaha menghalau perasaan sedih dari dalam diriku sebelum semuanya berjalan kacau karena aku tidak fokus. Aku ingat nasehat ibuku semalam ketika aku berbicara melalui telepon ‘tetap tenang dan sabar anakku karena doa beserta restu ibu selalui menyertaimu.

       Kini tibalah saat yang dinanti para tamu undangan yang hadir pagi ini yaitu, akad nikah. Setelah sebelumnya rangkaian acara telah dilalui mulai dari pembukaan, disusul pemeriksaan surat-surat kelengkapan administrasi oleh petugas KUA, kemudian pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan khutbah nikah yang disampaikan oleh tokoh agama setempat. Setelah khutbah nikah selesai, aku mendengar pembawa acara berbicara kepada para tamu undangan.

    “Para tamu undangan sekalian, marilah kita ikuti acara inti pagi ini yaitu akad nikah yang akan dibawakan langsung oleh wali mempelai wanita. Untuk waktu dan tempat kami persilahkan,” ucap pembawa acara.

       Aku segera menjabat tangan ayah Ismed dengan sedikit ketegangan yang aku rasakan dalam diriku. Dengan penuh konsentrasi dan fokus aku mendengar kata-kata yang diucapkan ayah Ismed selaku wali mempelai wanita.

    “Bismillahirrahmannirrahiim. Ya Fahad bin Faisol, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Fahna binti Ismed dengan mas kawin berupa uang sebesar satu juta rupiah, tunai,” kata ayah Ismed dengan lancar.

    Aku langsung menjawab dengan mantap dan lancar seolah semua berjalan seperti air mengalir.

    “Saya terima nikahnya dan kawinnya Fahna binti Ismed dengan mas kawinnya tersebut tunai.” Dua saksi langsung menganggukkan kepala tanda akad nikah ini sah. Dan terdengarlah suara para tamu undangan mengucapkan ‘Barakallah,’ disusul para fotografer dan beberapa tamu undangan mengabadikan momen sakral ini dengan kamera hp mereka.

       Aku akhirnya merasakan kelegaan seolah beban berat tersedot keluar dari dalam diriku ketika proses akad nikah berjalan lancar dan tanpa halangan. Dan mulai saat ini aku beserta Fahna telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah secara agama juga negara. Aku segera bersalaman dan mencium tangan ayah Ismed yang sekarang telah menjadi ayah mertuaku. Setelah itu aku kembali duduk di kursi sambil menanti hidangan yang sedang disajikan berupa nasi briani dengan daging kambing oven, ditambah acar buah dan sambal. Aku segera memakannya karena perutku sudah meronta meminta makan. Setelah selesai makan dan menandatangani beberap berkas termasuk buku nikah, aku segera diantar oleh Ayah Ismed untuk bertemu istriku Fahna yang sedang menunggu di dalam kamar pengantin. Dalam hati aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan istriku lalu memeluknya begitu lama. Ini adalah hari yang telah aku nantikan selama bertahun-tahun dan akhirnya terwujud menjadi kenyataan.

       Aku beserta Ayah Ismed berjalan meninggalkan tempat akad nikah tetapi langkah kami terhenti karena para tamu undangan yang sebagian besar keluarga besar Fahna datang menghampiriku untuk bersalaman, memelukku, meminta foto dan mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Setelah ramah-tamah singkat dengan para tamu undangan, aku melanjutkan berjalan menuju ke dalam rumah Fahna yang ternyata banyak para tamu undangan yang dikhususkan untuk wanita. Dengan wajah tersenyum dan sedikit perasaan malu. Aku berjalan di antara para ibu-ibu yang langsug riuh ketika melihat siapa yang datang. Akhirnya saat ini aku berdiri tepat di depan pintu kamar pengantin yang di dalamnya Fahna istriku sedang menungguku. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan tenggorokanku seperti tersumbat batu besar yang membuatku sulit untuk menelan. Aku seperti merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan selama ini. Apakah ini yang disebut getaran cinta yang saling tarik-menarik untuk menyatu bagai dua kutub magnet yang saling menarik.

       Ayah Ismed membuka pintu kamar pengantin dan saat itu juga aku bisa mencium aroma dupa pengantin juga bunga-bunga mawar yang memancarkan aroma harum memikat keluar dari dalam kamar. Setelah pintu terbuka, aku dengan digandeng Ayah Ismed dipersilahkan masuk untuk bertemu dengan istriku Fahna. Ketika aku telah berada di dalam kamar sambil berdiri, barulah aku memandang wajah istriku untuk pertama kalinya yang sedang duduk di atas kasur pengantin yang berhias bunga-bunga dipadu dengan bantal-bantal beserta guling yang ditata dengan elegan. Fahna duduk dengan tersenyum dan senyum itu seakan melelehkan hatiku detik itu juga. Aku memandang wajah Fahna dan sungguh dia terihat begitu cantik dengan riasan dan baju pengantin warna putih yang menutupi tubuhnya. Ditambah sebuah mahkota yang bertengger di atas kepalanya menjadikan Fahna bagaikan seorang putri yang turun dari kayangan. Fahna segera berdiri lalu berjalan mendekat kepadaku dan aku pun berjalan mendekat untuk menyambutnya. Fahna langsung menyalami aku sambil mencium tanganku. Aku segera memeluknya dengan lembut dan mencium kening Fahna untuk pertama kalinya.

       Ketika berada di dalam kamar pengantin bersama istriku Fahna, aku merasakan rasa bahagia, rasa haru, rasa cinta dan rasa sedih semua bercampur menjadi satu dan tanpa sadar perasaan itu meluap dari dalam diriku seolah tak bisa terbendung lagi. Akhirnya air mata kebahagiaan turun membasahi pipiku. Dalam momen yang begitu mengharukan ini, Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam saku baju yang aku kenakan. Dengan perlahan aku membuka kotak itu dan tampaklah sebuah cincin kawin dangan lambang cinta berwarna merah. Aku mengambil cincin itu dan dengan tangan gemetar aku memasangkannya di jari manis Fahna. Setelah cincin kawin itu terpasang, aku segera memeluk Fahna untuk yang kedua kali karena aku begitu mencintainya dan tidak ingin melepasnya kembali setelah ini. Mulai hari ini dan seterusnya perjalanan lembaran baru hidupku dimulai, dan mulai sekarang aku telah menjadi bagian dari hidup Fahna dan bersama-sama akan mengarungi perjalanan kehidupan dunia ini.

       Tetapi ada satu yang kurang dalam momen bahagia yang aku rasakan sekarang. Sangat disayangkan ibuku tidak bisa hadir dan menemani Fahna di dalam kamar pengantin yang indah dan penuh cinta ini. Rasa bersalah ini selalu aku rasakan dalam diriku karena meninggalkan ibuku beserta adik-adikku di rumah. Tetapi aku sudah berjanji akan mengajak istriku Fahna untuk mengunjungi ibuku yang ada di pulau Jawa dalam waktu dekat. Ditambah lagi aku dan Fahna akan menikmati bulan madu yang sangat spesial di atas kapal laut KM Sinabung yang berlayar dari pulau Bacan menuju ke Surabaya di pulau Jawa. Aku sudah tak sabar menanti perjalanan ini yang akan di tempuh selama lima hari di tengah laut. Berdua kami akan menikmati waktu bersama di atas kapal, mamadu kasih dan cinta, menikmati matahari terbit dan terbenam bersama dan melepaskan semua rasa yang ada di dalam hati. Tapi ada satu yang membuatku tak sabar yaitu, indahnya malam pertamaku bersama Fahna.

    ___Bersambung___



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.