Kurikulum Prototipe Sebagai Paradigma Baru; Siapkah Kita? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

I Wayan Ekayogi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Kamis, 3 Februari 2022 10:49 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Kurikulum Prototipe Sebagai Paradigma Baru; Siapkah Kita?

    Kurikulum Prototipe merupakan upaya sistemik untuk mengatasi krisis belajar.

    Dibaca : 788 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    PENDAHULUAN

    Sebagai seorang guru, kita sudah tidak asing lagi dengan adanya kebijakan pergantian kurikulum. Situasi pendidikan Indonesia di masa pandemi membutuhkan penyesuaian strategis untuk mengatasi learning loss. Mulai tahun 2022 hingga 2024, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengeluarkan sebuah kebijakan untuk menawarkan tiga opsi penerapan kurikulum yang dapat diterapkan oleh satuan pendidikan guna menunjang terlaksananya proses pembelajaran, yaitu penerapan kurikulum 2013 secara penuh, penerapan kurikulum darurat, dan penerapan kurikulum prototipe.

    Penerapan kurikulum darurat merupakan upaya penyederhanaan dari kurikulum 2013 yang diterapkan pada masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Sedangkan kurikulum prototipe adalah salah satu upaya untuk mengatasi krisis belajar yang terjadi akibat adanya pandemi Covid-19.

     

    Apa Itu Kurikulum Prototipe? 

    Kurikulum prototipe merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran peserta didik melalui pelaksanaan pembelajaran berbasis projek (Project Based Learning). Kurikulum prototipe merupakan kurikulum untuk melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya, yaitu

    1. Orientasi holistik: kurikulum di rancang untuk mengembangkan murid secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan non-akademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.
    2. Berbasis kompetensi, bukan konten: kurikulum di rancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu.
    3. Kontekstualisasi dan personalisasi: kurikulum di rancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan murid.

    Kurikulum prototipe mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar. Secara singkat kurikulum prototipe memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu

    1. Pembelajaran dirancang berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter Profil Pelajar Pancasila. Dalam struktur kurikulum prototipe, 20 - 30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek. Pembelajaran berbasis projek penting untuk pengembangan karakter karena memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning), Mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu, dan struktur belajar yang fleksibel. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis projek, Kemendikbudristek menyediakan 7 tema utama yang perlu dikembangkan menjadi modul dengan topik dan tujuan yang lebih spesifik, yaitu Bangunlah Jiwa dan Raganya, Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Kewirausahaan dan Suara Demokrasi.
    2. Lebih berokus pada materi esensial sehingga ada waktu yang cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Hal ini dikarenakan materi yang terlalu padat akan mendorong guru untuk menggunakan ceramah satu arah atau metode lain yang efisien dalam mengejar ketuntasan penyampaian materi.
    3. Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. Kurikulum prototipe menetapkan tujuan belajar per fase (2-3 tahun) untuk memberi fleksibilitas bagi guru dan sekolah. Kurikulum prototipe menetapkan jam pelajaran per tahun agar sekolah dapat berinovasi dalam menyusun kurikulum dan pembelajarannya.

     

    Mengapa Kurikulum Prototipe? 

    Kurikukulum prototipe merupakan bagian dari upaya sistemik untuk mengatasi krisis belajar, yaitu rendahnya kompetensi dasar dan terjadinya ketimpangan yang tinggi. Krisis belajar ini terjadi akibat adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia. Pandemi yang terjadi menyebabkan situasi berada pada ketidakpastian sehingga menyebabkan dunia pendidikan mengalami imbas yang cukup besar. Salah satu efek yang terjadi di dunia Pendidikan adalah terjadinya kehilangan pembelajaran (learning loss) literasi dan numerasi yang signifikan.

    Kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran. Sebagai bagian dari mitigasi learning loss, sekolah diberi opsi untuk menggunakan kurikulum yang disederhanakan agar dapat berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi mendasar.

    Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Kemendikbudristek, ditemukan hasil bahwa siswa pengguna kurikulum darurat mendapat capaian belajar yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum 2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosio-ekonominya. Selain itu juga ditemukan bahwa,  kurikulum darurat efektif memitigasi learning loss karena membantu guru untuk fokus pada materi esensial dan menerapkan pembelajaran yang lebih mendalam untuk mengembangkan karakter dan kompetensi dasar. Data kualitatif yang diperoleh

    Kemendikbudristek mengonfirmasi bahwa guru merasa terbantu untuk melihat materi yang esensial, sehingga bisa merancang dan menerapkan pembelajaran yang lebih baik. Modul literasi numerasi dari Kemendikbudristek juga sering disebutkan sebagai alat bantu yang bermanfaat untuk penerapan kurikulum.

    Kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan Pendidikan sehingga mampu mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa. Kurikulum prototipe ini merupakan kurikulum yang besifat opsional atau pilihan untuk sekolah. Artinya, tidak semua sekolah harus segera menerapkannya.

    Kurikulum opsional ini didasarkan pada dua tujuan. Pertama, menekankan bahwa sekolah memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan keadaan. Kedua, memastikan proses perubahan kurikulum suatu negara berjalan lancar dan bertahap. Secara umum kurikulum prototipe ini akan menyasar seluruh satuan pendidikan mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK.

     

    Sebagai Guru, Siapkah Kita?

    Memasuki abad ke-21, proses pembelajaran dituntut berbeda dari yang sebelumnya. Pada saat ini proses pembelajaran harus mampu mengarahkan peserta didik agar dapat hidup dalam situasi kebaruan yang muncul dari lingkungan sehingga mampu menghadapi tantangan yang sangat kompleks. Guna mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai dinamika perubahan yang sedang dan akan terus berlangsung.

    Pada saat ini dunia pendidikan tidak terlepas dari pengaruh era disrupsi. Gejolak dalam dunia pendidikan merupakan imbas dari datangnya era revolusi industri 4.0. Fitur utama pendidikan dalam Revolusi Industri 4.0 adalah penggunaan teknologi digital dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Hal ini memungkinkan pewarisan pengetahuan dan kompetensi dapat berlangsung secara kontinu tanpa batas.

    Transformasi dunia Pendidikan menyebabkan terjadi berbagai perubahan yang harus diikuti suka ataupun tidak suka. Pandemi Covid-19 memaksa kita sebagai seorang guru untuk mampu berubah dengan mangadopsi cara mengelola proses pembelajaran yang baru secara cepat dan tepat. Mulai diterapkannya kurikulum prototipe merupakan langkah yang tepat di era yang serba tidak pasti saat ini.

    Sebagai seorang pendidik sudah barang tentu kita harus siap untuk mendukung penerapan kurikulum prototipe. Hal ini dikarenakan kurikulum prototipe merupakan bagian dari upaya sistemik untuk mengatasi krisis belajar, yaitu rendahnya kompetensi dasar dan terjadinya ketimpangan yang tinggi. Melaui kurikulum prototipe diharapkan akan mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar. Oleh karenanya sebagai seorang guru kita harus siap untuk menerapkan pembelajaran dengan menggunakan kurikulum prototipe.

    Ikuti tulisan menarik I Wayan Ekayogi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.