Makan Malam - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh JillWellington dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Kamis, 17 Februari 2022 12:51 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Makan Malam

    Seorang anak yang merasa tertekan di rumahnya sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi pelepas penat dan masalah dari luar, malah menjadi tempat perbandingan. Dia akhirnya kabur ke dunia lepas mencari nilai dari dirinya.

    Dibaca : 1.230 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              “Bang, makan malam,”, ajak adikku. Aku selalu membenci agenda makan malam ini. Mengapa harus bersama? Aku bisa makan malam sendiri. “Lama sekali. Ayahmu sudah menunggu,” ujar ibuku. Mari kita mulai. Sesi komparasinya. “Bagaimana sekolahmu Yusuf? Apakah baik-baik saja?” Pak tua ini selalu bertanya terkait sekolah kami, bukan kehidupan sekolahnya tetapi nilai yang kami dapatkan. “Bagus ayah. Aku dipuji ibu guru matematika dan aku juga ikut olimpiadenya,” ujar adikku. Sial. “Bagaimana denganmu Nico? Bagaimana sekolahmu?” Ibuku bahkan masih memuji Yusuf. “Tim sepakbola sekolah kami menang. Aku menyumbang dua gol, pak,” ujarku. Ayahku meletakkan garpu dan sendoknya. “Itu tidak penting, aku tidak peduli dengan itu. Aku ingin mendengar performa akademikmu,” ujar ayahku. “Maaf ayah. Aku membantu guruku membawa barang dan menjadi panitia di acara perlombaan olahraga yang akan dilaksanakan bulan depan,” ujarku. Ayahku memukul mejanya dengan keras. “Aku juga tidak peduli dengan itu! Apakah kau sengaja melakukannya?! Aku hanya ingin tahu bagaimana akademikmu di sekolah?!” Ibuku juga menunjukkan kekecewaannya. Yusuf hanya diam sambil memakan dagingnya. “Maaf ayah. Hari ini seperti biasa. Aku juga tidak ikut olimpiade apa pun,”, ujarku. Ayahku meninggalkan kursinya. Ibuku juga mulai membersihkan meja. Aku bahkan belum selesai makan. “Sudah, kalau belum habis, bawa saja ke kamarmu. Jangan lupa cuci piringnya nanti!” Aku akan mengatakannya sekali lagi. Aku benci sesi makan malam ini.

              “Bang, apakah abang tidak mau ikut olimpiade matematika yang aku ikuti? Mengapa abang menyia-nyiakan kemampuan abang?” Dia selalu bersikap seolah dia bukanlah penyebab semua ini. Aku sangat benci itu. “Tidak, abang ada latihan sepak bola di hari itu.”, ujarku. “Mengapa abang lebih mementingkan itu?! Sudah jelas kalau olimpiade ini lebih penting dari permainan abang selama ini?!” Seenaknya saja berkata seperti itu. Kami satu tim sedang berusaha untuk menuju final di lapangan gelora. “Maaf, aku pergi dulu,” ujarku. Aku tidak akan pernah melawannya, aku yang tidak memiliki pendukung di rumah ini sudah pasti akan kalah. Aku yang dulunya sangat menyukai rumah ini di masa kecilku semakin lama semakin membencinya. Aku juga berterima kasih karena itu. Aku bisa mengisi waktu itu dengan latihan.

               “Aku dengar kau memecahkan kaca sekolah dan memarahi guru olahragamu! Apa yang kau lakukan, memalukan kami seperti itu?!” Aku seharusnya tidak pulang malam ini. “Aku tidak sengaja terkait kaca itu, tetapi pak Joni membatalkan latihan persahabatan kami karena dia lebih memilih untuk pergi dengan pacarnya!” Ayahku kemudian menamparku. “Jangan berani-berani kau menaikkan volume suaramu di hadapanku,” ujarnya. Aku tidak menyangka mereka berdua akan seperti ini. Ibuku bahkan menatapku dengan penuh rasa malu dan kebencian. Mengapa? Aku masih ingat mereka berdua yang selalu mendukungku saat kecil. Mengapa mereka berdua berubah? Apakah ini karena Yusuf?! “Jangan tatap adikmu seperti itu! Dia jauh lebih baik darimu, abangnya sendiri. Apakah kau tidak malu?” ujar ibuku. “Mengapa penyerang dari Italia itu bang pergi meninggalkan permainannya?” Aku teringat percakapanku dengan bang Karjo saat masih bermain bersama. “Karena dia merasa dia tidak memiliki pendukung di stadion itu, bahkan pendukung klubnya sendiri. Itulah mengapa dia memutuskan untuk meninggalkan permainannya. Aku mengerti perasaan dia. Bagaimana denganmu Nico?” Aku masih ingat tatapan bang Karjo saat mengatakan hal itu. Dia sangat berempati dengannya. Aku juga sudah mengerti dengan cerita bang Karjo. Aku juga tidak memiliki pendukung di rumah ini. “Baiklah yah. Aku ke kamar dulu. Aku masih punya tugas dari sekolah,” ujarku. Ayah dan ibuku bahkan tidak berkomentar sama sekali. Mereka seperti telah kecewa dan melepas keberadaanku. “Permisi, apakah bang Karjo ada bu?” Aku yang ingin mengajak bang Karjo untuk latihan bersama, tetapi ibunya berkata kalau bang Karjo sudah kabur dari rumah. Ibunya bahkan masih kesal terhadap bang Karjo tanpa rasa khawatir dan rasa bersalah. Masa itu adalah masa di mana aku semakin melihat kebusukan mereka yang mengaku sebagai orang dewasa.

               Aku akhirnya mengemas pakaian dan perlengkapanku. Aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Aku bahkan ragu kalau bangunan ini bisa kusebut sebagai rumah. “Apakah aku bisa bertemu bang Karjo lagi?” Aku menapakkan kakiku keluar untuk mencari sesuatu yang bisa kupanggil rumah. “Selamat tinggal,”, ujarku sambil meninggalkan rumahku.

              Beberapa tahun kemudian, aku sudah tumbuh dewasa. Hal yang paling membuatku ingin tertawa adalah kenyataan bahwa aku sama sekali tidak bisa menjadi pemain sepak bola. Aku ditolak oleh banyak klub-klub amatir karena kekurangan biaya dan akhirnya aku bekerja di sebuah restoran. Hal yang paling lucu lagi adalah bang Karjo yang juga bekerja di toko swalayan sebelah. “Ayo pulang Nico,”, ujar bang Karjo. Kami pulang dan aku melihat poster adikku yang akan mencalon menjadi walikota. Aku rasa mereka berdua pasti bangga. “Ada apa Nico? Kau mengenalinya? Aku tidak menyangka anak semuda ini mencalonkan diri menjadi walikota.”, ujar bang Karjo. Kita sependapat bang. “Tidak, aku hanya berpikir yang sama seperti bang Karjo. Aku hanya iri dengannya,”, ujarku. Dia melihatku dan kemudian melihat bintang malam. “Iri ya? Aku juga merasa seperti itu dulu, tetapi ketika aku memikirkan semua rasa iri itu yang membuatku kesal dan menyia-nyiakan masa mudaku, aku ingin memukul diriku yang dulu tepat di wajahnya. ‘Katakan ini kepada kedua orang tuamu. Kami adalah dua orang yang berbeda!’, seperti itu.”, ujar bang Karjo. Kami memang menghadapi masalah yang sama. “Aku juga ingin melakukan itu bang, tetapi sepertinya aku akan gagal dan hasilnya akan sama seperti ini.”, ujarku. Bang Karjo tertawa. “Kau benar juga. Ahhhh! Aku ingin mengulangnya dari awal lagi!” Aku juga merasa seperti itu. Aku ingin mengulang semuanya dari awal. “Tetapi apakah aku akan lebih bahagia dari sekarang ini?” Tanyaku kepada malam. “Aku rindu semur daging ibuku saat makan malam bersama,”, ujarku sambil mengajak bang Karjo ke warung kopi.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.