Kurikulum Merdeka Memfasilitasi Fitrah Pembelajar Sejati Anak Sejak Dini - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Aneka kegiatan bermain dan berkarya anak-anak usia dini di PAUD Quantumkids Pekanbaru. Foto: Istimewa.

Netti Herawati

Guru Besar Gizi dan Pangan Universitas Riau
Bergabung Sejak: 29 November 2021

Senin, 14 Maret 2022 12:15 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Kurikulum Merdeka Memfasilitasi Fitrah Pembelajar Sejati Anak Sejak Dini

    Realitasnya bersumber pada anak itu sendiri. Minat, ide, keinginan anak yang berkembang saat perencanaan itu dilaksanakan. Sehingga setelah pendidik membacakan buku untuk menginspirasi anak, meskipun buku yang dibacakan sama, setiap anak akan berbeda saat menuangkan inspirasinya dalam bermain dan berkarya. Karena setiap anak tersebut unik.  Kualitas penataan lingkungan belajar yang telah disiapkan pendidik  akan memfasilitasi keunikan dan ide setiap anak. 

    Dibaca : 7.857 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Netti Herawati, Guru Besar Gizi dan Pangan Universitas Riau

       Pada 11 Januari 2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek)  meluncurkan Kurikulum Merdeka yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Nomor 56 Tahun 2022.  Kurikulum Merdeka ini seharusnya disambut gembira semua pihak karena orientasinya bukanlah pada perubahan administrasi, perubahan pembuatan dokumen Kurikulum Operasional Sekolah semata. Tapi justru fokus sejatinya ada pada perubahan mindset, perubahan pola pikir, perubahan paradigma bagaimana cara kita memandang, dan memperlakukan serta memposisikan anak sebagai pusat pembelajaran. Semua harus bermula dari anak dan untuk anak.  Tugas pendidik memfasilitasi capaian tertinggi anak yang setiap anak tidaklah sama.

    Seorang pendidik akan bisa memerdekakan anak juga dirinya sendiri jika pendidik memahami tahap perkembangan anak.  Tahap perkembangan anak bukan  digunakan sebagai materi tes pada anak.  Justru sebaliknya, sebelum pembelajaran dimulai, pendidik melakukan asesmen terhadap anak sehingga menjadi petunjuk dalam merencanakan dan mendampingi anak belajar. Perencanaan belajar yang dibuat pun sebenarnya adalah PERENCANAAN HIPOTESIS.  Disebut hipotetis, karena kita membuat simpulan atau dugaan sementara yang dibutuhkan anak saat perencanaan ini dilaksanakan. 

    Permainan Anak

    Realitasnya bersumber pada anak itu sendiri. Minat, ide, keinginan anak yang berkembang saat perencanaan itu dilaksanakan.  Sehingga setelah pendidik membacakan buku untuk menginspirasi anak, meskipun buku yang dibacakan sama tapi setiap anak akan berbeda saat menuangkan inspirasinya dalam bermain dan berkarya. Karena setiap anak tersebut unik.  Kualitas penataan lingkungan belajar yang telah disiapkan pendidik  akan memfasilitasi keunikan dan ide setiap anak.  Alat dan bahan  main yang beragam jenisnya dan telah disesuaikan dengan hasil asesmen terhadap setiap anak serta tema khusus hari itu akan mendukung kemerdekaan setiap anak dalam menuangkan ide, kreativitas, dan inspirasinya.

    Di satu kelas usia 4-6 tahun di PAUD Quantumkids Pekanbaru, Provinsi Riau, suatu hari pendidik bersama anak sudah merencanakan pembelajaran dengan tema transportasi.   Pendidik melibatkan orang tua di hari sebelumnya dengan meminta orang tua bercerita dan membacakan buku terkait transportasi. Bahkan pendidik sudah memberikan perencanaan hipotetis yang telah dibuat guru sebagai inspirasi bagi orang tua mendukung anak belajar.  Anak juga diajak aktif terlibat.  Pendidik mendorong anak untuk membawa alat-alat dan bahan yang akan mereka pakai saat membuat proyek terkait transportasi.  Salah satu anak membawa jerigen kecil. Ibu guru bertanya, “Andi, jerigen ini untuk apa?.” Anak menjawab, “Itu akan ditempelkan di belakang truk sebagai jerigen tempat bensinnya.”

        Pembelajaran pun dimulai.  Pendidik membacakan buku tentang berbagai transportasi yang digunakan manusia.  Pendidik menjelaskan tentang apa itu transportasi, jenis-jenis alat transportasi, tujuannya, dan bagaimana alat transportasi itu dibuat.  Pendidik membawa alat peraga berupa gambar, miniatur alat transportasi.  Anak-anak bersemangat membagi pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki.  Tidak hanya membacakan buku, memperlihatkan alat peraga, pendidik juga memutarkan video sebuah pabrik membuat mobil. 

       Kali ini proyek yang direncanakan pendidik bukan tugas individu tapi berkelompok.  Pendidik membagi anak ke dalam 4 grup, nama grup yang disepakati menunjukan harapan positif terhadap diri anak, seperti grup Hebat, Keren, Cerdas, dan Oke.  Pendidik mengajak anak melihat alat dan bahan main yang telah disiapkan.  Terdapat banyak alat dan beragam bahan loose part (bahan lepasan terdiri dari 7 jenis).  Alat dan bahan main ditata teratur, menarik, dan memiliki pesan tema transportasi.  Pendidik juga menempelkan gambar beragam alat transportasi serta ada beberapa buku yang diletakan tegak dan terbuka untuk memancing ketertarikan anak.

    Permainan Anak

          Pendidik pun berkata, “Silakan dilihat dulu alat dan bahan mainnya lalu diskusikan dengan teman transportasi apa yang akan direncanakan dibuat.”  Tak berselang lama, kelaspun heboh dan penuh keseruan.  Pendidik membebasakan anak-anak untuk bermain di luar dan di dalam kelas.  Tanpa diminta dan diinstruksi terciptalah karya besar dari 4 kelompok.  Grup Hebat membuat kereta api dari kardus bekas,  terdapat tiga kardus dengan tiga ukuran yang dijadikan satu sehingga kepala kereta api ukuran kardusnya lebih kecil. Sedangkan dua kardus yang lebih besar menjadi badan kereta api dan bagian belakang menggunakan kardus kecil juga.  Mereka membuat cerobong asap dari paralon yang ditempel di bagian depan.  Ada hiasan dari ornamen kertas berbagai warna.

        Setelah mereka selesai membuat miniature kereta api, pendidik datang memberikan inspirasi dengan pertanyaan memancing Higher Order Thinking Skill anak, “Kereta apinya akan dijalankan di mana? Apa lagi yang dibutuhkan? Tempat mangkal kereta api biasanya di mana? Disebut apa?”  Akhirnya, karya besar ini semakin komplit.  Karena anak membawa keluar kelas lalu mereka membuat rel kereta api dengan susunan dari ranting-ranting pohon yang ada di halaman.  Seorang anak perempuan tampak memngambil kertas dan menulis Stasiun Kereta Api. Tulisan ini diletakannya di atas sebuah kerudung bekas.  Anak ini berkata, “Ini stasiun kereta ya, teman-teman”.

          Kelompok Keren tampak menggunakan kardus dengan ukuran lebih besar dari yang digunakan oleh Grup Hebat.  Mereka membuat miniatur truk besar dengan tinggi setengah badan mereka.  Jalan yang mereka buat dengan menggunakan batu kerikil yang disusun membentuk jalan.  Mereka menggunakan 3 bahan untuk membuat garis jalan terseut yaitu kerikil, paralon ukuran kecil dan masih disambung lagi dengan barisan botol mineral ukuran kecil. Kelompok Cerdas membuat miniatur truk yang sangat besar sehingga mereka bisa masuk ke dalam truk tersebut.  Mereka memberikan ornamen dengan menggambar pada dinding truk.

          Kelompok Oke ternyata tidak membuat alat transportasi darat. tapi transportasi air berupa perahu dari botol bekas air mineral ukuran 500 mililiter.  Mereka menggabungkan botol-botol tersebut dengan isolatif ukuran besar.  Mereka memberikan ornamen dengan bendera merah putih yang ditempelkan di ranting kecil lalu direkatkan ke miniatur perahu.  Mereka melayarkan perahu ini di kolam renang sekolah.

    Manusia diciptakan oleh Allah sebagai pembelajar sejati namun setiap anak memiliki keunikan. Anak akan menjadi pembelajar sejati jika tiga guru anak yaitu guru di rumah, guru di sekolah, dan guru lingkungan dekat yang mengenal, memhami serta menyediakan kebutuhan belajar meteka. Memerdekan anak belajar berarti memberi kesempatan dan memfasilitasi anak untuk menjemput fitrah yang Tuhan bekalkan sejak janin.  Allah memberikan modal belajar anak berupa indra untuk mempelajari apa pun.

    Permainan Anak

     Mengacu pada buku An Educator’s Guide to Understanding The Florida Early Learning and Developmental Standards: Birth to Kindergarten, perkembangan Aproach to Learning anak usia dini, dapat dilihat dari 4 hal. Yaitu Eagerness and Curiosity, Persistence, Creativity and Invetiveness serta Planning and Reflection. Eagerness and Curiosity anak tercermin dalam keinginan sejak bayi terlibat dan berinteraksi dengan benda-benda di lingkungan terdekatnya. Persistence adalah kemampuan anak untuk terus bertahan dalam mengerjakan tugas-tugas yang nampak sulit diatasi. Sikap ini diperlukan agar anak dapat bereksplorasi penuh terhadap dunianya. Creativity and Invetiveness adalah komponen yang memerlukan fleksibilitas pemikiran dan imajinasi. Anak menggunakan bahan atau alat yang sama dengan cara baru, mencoba menggunakan solusi lama untuk mengatasi masalah baru, serta bereksperimen dengan solusi baru.  

    Planning and Reflection, anak mengalami trial dan error sederhana. Dengan meningkatnya intensitas keinginan mencoba serta dukungan dari orang dewasa, anak dapat merefleksikan dan berfikir melalui langkah-langkah pendekatan yang bervariasi dalam belajar, serta mulai merencanakan solusi dengan kompentensi yang semakin meningkat.  Bagaimana keempat komponen tersebut berkembang tergantung pada kualitas dan kuantitas interaksi dengan orang dewasa yang mendukung dan mendorong anak untuk mengembangkannya disetiap tahap usia. 

    Bayi usia 0-8 bulan sudah menunjukkan minat pada lingkungannya. Mereka secara alami memiliki rasa keingintahuan  tentang diri sendiri dan berinteraksi dengan lingkungan terdekatnya.  Bayi akan  bereaksi terhadap obyek, suara, dan bunyi dengan menjadi lebih tenang atau lebih aktif, atau dengan mengubah bahasa tubuh, gerak tubuh, dan ekspresi wajah mereka. Bayi akan menatap orang tua, pengasuh, dan pendidik saat diberi makan atau diganti. Bayi akan mengeksplorasi suatu objek dengan menggunakan seluruh indranya, seperti menggosokkan suatu obyek ke pipinya, memasukkannya ke dalam mulut, mengamatinya saat mereka melambaikannya ke depan dan ke belakang di depan wajah mereka atau membenturkannya ke lantai.

    Bayi akan memposisikan dan menggerakkan tubuh mereka ke arah obyek yang menarik. Eagerness and Courisity ini akan terus berkembang pesat sejalan perkembangan usia.  Anak usia empat tahun semakin ingin tahu tentang dunia mereka dan memulai eksplorasi lingkungan alam dan sosial, seperti peran keluarga, tumbuhan, dan hewan. Ketertarikan pada hal-hal baru ini membantu mereka memahami dunia di sekitar mereka, membangun kosakata yang kaya, dan mulai menggunakan strategi baru untuk memecahkan masalah

    Bayi usia 0-8 bulan mulai memusatkan perhatian pada pandangan, suara, dan orang di sekitarnya secara singkat dan periode waktu yang meningkat mencoba untuk menghasilkan rasa tertarik dan senang terhadap kejadian-kejadian. Persistence ini terus berkembang sehingga usia 4 tahun anak bisa memusatkan perhatian pada tugas meski untuk waktu yang singkat. Anak bisa  bekerja sama dengan teman untuk menyelesaikan tugas. Misalnya mencocokkan potongan puzzle bersama-sama atau bereksperimen dengan balok yang ukurannya berbeda untuk membuat menara yang kokoh. Anak usai 4-6 tahun ini dapat terus bekerja pada kegiatan yang dipilihnya sendiri yang menurut mereka sulit. Anak mempertahankan atau memulai kegiatan baru tanpa perlu dukungan dari orang lain. Anak akan mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri lalu akan minta bantuan guru untuk menyelesaikan masalahnya dengan teman.

     

    Creativity dan Inventiveness telah mulai berkembang sejak bayi. Bayi usia 0-8 bulan mulai mengeksplorasi lingkungan mereka dan memodifikasi respons mereka untuk memenuhi kebutuhannya.  Berbalik arah dan melacak/mencari suara orang dan benda. Bayi akan berguling saat mencari mainan. Mereka akan menggunakan beberapa indera pada satu waktu untuk menjelajahi obyek dengan melihat, menyentuh, mulut, dan membenturkan benda. Bayi akan mengidentifikasi tangan, jari, kaki, dan jari-jari tangan  sendiri dengan cara menyentuh, melihat, dan  menggunakan mulut. Komponen ini akan terus berkembang hingga usia 4-6 tahun Kreativitas dan inventiveness akan diekspresikan dalam banyak hal termasuk gerakan, musik, seni, drama, dan verbal.

    Pada usia 3-4 tahun, anak menunjukkan tanda-tanda awal dalam membuat perencanaan dan belajar dari pengalaman mereka. Mereka akan memilih warna sendiri sesuai  yang ingin mereka gunakan saat menggambar. Mereka akan memiliki sikap  sebelum memulai acara, seperti membantu ibu mengatur meja saat akan makan.  Anak usia empat tahun akan menunjukkan peningkatan kemampuan untuk menetapkan tujuan dan mengembangkan rencana untuk mencapai tujuan. Mereka mulai mengatur tindakan dan materi mereka ke dalam langkah-langkah menuju penyelesaian tugas dan menindaklanjuti rencana mereka dengan membuat pilihan secara mandiri.

    Setelah menyelesaikan tugas, mereka dapat merenungkan apakah  berhasil atau tidak. Pengalaman sehari-hari anak usia empat tahun membantu mereka mempelajari keterampilan untuk merencanakan kegiatan dan melihat kembali apa yang telah dilakukannya. Pengalaman bermain kooperatif memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk merencanakan dan merefleksi bersama.  Pada usia 4-6 tahun ini anak saling bertukar ide dan memberi solusi untuk suatu tugas misalnya memberikan ide apa yang harus dibawa saat kegiatan kunjungan wisata.  Anak usia ini sudah bisa merencanakan gagasan tentang membuat bangunan juga merencakan peran dan aktivitas saat bermain peran.

    Untuk mendukung kemampung Planning and Reflection ini, pendidik dapat melakukan:

    • Sebelum memulai Sentra. pendidik mengenalkan alat dan bahan serta mendiskusikan cara penggunaannya.
    • Pendidik melibatkan anak dalam perencanaan. Misalnya, persiapan kegiatan makan bersama.
    • Pendidik memberikan kesempatan kepada anak untuk berdiskusi, mereview dan mendokumentasikan kegiatan (seperti merefleksikan karya wisata, membicarakan pilihan kegiatan, mendokumentasikan kegiatan dalam jurnal bergambar).
    • Selama proses refleksi, membantu anak mengidentifikasi hubungan sebab-akibat dalam kegiatan seperti mencampur cat merah dan kuning (penyebab) menjadi oranye (akibat).
    • Pendidik memberi kesempatan pada anak untuk membuat rencana pilihan aktivitas mereka (misalnya, tanyakan kepada anak, “Di mana ingin bermain selama di sentra?” “Apa yang  akan dilakukan?”).

     

    Belajar bukan hanya di satuan pendidikan tapi harus dilanjutkan di rumah.  Untuk mendukung kemampung Planning and Reflection ini, orang tua  dapat melakukan:

    • Mengajak anak bermain yang membutuhkan perencanaan, seperti membuat rumah-rumahan.
    • Membuat daftar menu makanan yang akan dikonsumsi keluarga selama satu minggu.
    • Mendiskusikan bahan-bahan yang harus dibeli untuk membuat makanan yang diinginkan anak-anak.
    • Meminta anak untuk membantu membuat daftar belanja.
    • Merencanakan menu yang akan dinikmati keluarga selama seminggu dan menulis bahan-bahannya sambil membicarakan tentang prosesny

     

    Kita menyambut gembira Kurikulum Merdeka yang diluncurkan Kemendikbudristek, namun harus diikuti semangat pembelajar dari pendidik juga orang tua.  Untunglah ada banyak ruang belajar yang disediakan pemerintah, salah satunya Platform Merdeka Belajar.  Selain belajar, para pendidik juga dapat berbagi masalah, mencari solusi, serta mengetahui kisah inspiratif bagi pendidik se-Indonesia.

                                 

    *-Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia.

      -Pengelola PAUD Quantum Kid.

      -Anggota Badan Akreditasi Nasional PAUD dan Pendidikan Nonformal Kemendikbud

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.