Es dan Rasa Syukur - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Steve Buissinne dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 15 Maret 2022 13:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Es dan Rasa Syukur

    Seorang penjual es krim dan seorang mahasiswa serta pandangan mereka yang berbeda tentang rasa syukur.

    Dibaca : 1.022 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

               “Es! Es!”. Hari ini seperti biasa, hujan seharian. Hal itu tentu saja tidak membuatku berhenti berusaha. Aku tidak suka saat hujan datang. Aku bukan menolak rezeki dari Tuhan, tetapi aku lebih untung saat hari panas dan terik. Jualan si Andi mungkin sedang laris manis saat ini, mengingat dia yang jualan bakso. Syukurlah jika dia untung. “Es! Es!” Aku menyusuri jalan dan gang yang dibasahi hujan. Mereka yang sedang berteduh di rumahnya dengan selimut dan teh manis panas, sedangkan aku harus bermandikan hujan. Sudahlah, lebih baik aku mencari anak-anak yang sedang bermain hujan. Aku kenal anak yang meminum teh manis panas di terik matahari. Aku harap ada anak yang seperti itu di cuaca seperti ini. “Es! Es!” Aku melihat pengemis yang berteduh di pos kamling. Dia dengan baju kotornya dan payung di sampingnya. Bapak itu juga terlihat kedinginan. “Aku ingat membawa teh manis panas hari ini. Ada!” Aku mengambilnya dan memberikannya kepada bapak itu. Dia segan menerima pemberian dari orang yang tidak jauh berbeda dari dirinya. “Terima kasih pak,” ujar bapak itu sambil meminum tehnya. “Tidak apa-apa pak, saya juga tidak haus di cuaca seperti ini,” ujarku. Dia memberikan sedikit uang yang dimilikinya. Aku tentu saja menolaknya. “Sudahlah pak, rezeki tidak boleh ditolak,” ujarku yang kesal dengan nikmat Tuhan pada hari ini. Aku kemudian melanjutkan usahaku. “Es! Es!” teriakku sambil mendorong gerobak.

                Hari itu matahari kelihatan senang. Dia terus bersinar sepanjang hari. Hari ini merupakan durian runtuh bagiku atau bisa dikatakan es runtuh. Bahaya juga kedengarannya. “Es! Es!” Tentu saja banyak anak-anak yang mengerumuni daganganku. Jangan lupa bersyukur! Aku membaca tulisan itu di belakang angkutan umum. Terima kasih telah mengingatkan. Satu jam telah habis melayani semua anak-anak yang bermain bola dan kemudian aku melihat anak yang menatap teman-temannya meminum es. Tentu saja, tanpa es ditangannya. Aku memanggil dia dan menyuruhnya membelikanku tas plastik di warung terdekat. Tentu saja aku memberikan uangnya. Dia kembali dengan tas plastik dan uang kembalian. Aku memberikannya es. “Tapi pak,” ujarnya sambil terlihat segan. Anak yang baik, seharusnya usiamu yang sekarang sudah langsung menerkam es yang ditanganku. “Terima kasih telah membantuku.”, ujarku. Dia akhirnya paham dan mengeluarkan senyuman. “Sama-sama pak. Terima kasih juga pak!” Dia berlari ke arah teman-temannya yang masih menikmati es. Aku melanjutkan perjalananku dengan rasa puas.

                Aku tidak tahu harus berbuat apa. Mereka semua tidak peduli denganku. Aku sudah susah-susah bekerja demi mereka. Aku malah tidak diberi imbalan atau pujian apa pun. Nilai kalian tidak akan bagus jika tidak ada kerja kerasku. “Hari ini sangat menyebalkan. Mengapa hari ini terus hujan?!” Aku menendang toples yang berisikan air dan mengenai pengemis yang sedang berpayung. Mengapa pengemis memiliki payung? Aku jadi curiga. Aku meninggalkannya dan terus berlari mencari tempat kering. Aku sampai di halaman rumah seseorang. Mereka tidak akan marah jika aku berteduh sebentar di sini. “Wah, kotornya,” ujarku. Aku tidak sengaja mengotori halaman mereka dengan sepatuku. Aku menoleh ke belakang dan melihat rumah yang sedang kosong. “Aman.”, ujarku. Hujan yang semakin reda membuatku bergegas pulang ke rumah. “Hari ini sangat menyebalkan,” ujarku.

                Aku yang sudah membawa payung dari rumah disambut hari yang begitu terik. “Apakah kau bercanda?!” Aku seharusnya tetap terhadap pendirianku. Sial. Aku bergegas ke kampus karena bangun kesiangan. Aku benci alarm itu. Sial. Aku berlari dan tidak sengaja menabrak seorang anak. “Ah, uangku jatuh,” ujarnya sambil melihat uangnya yang jatuh ke bawah jembatan. Aku tidak memperdulikannya dan melanjutkan usahaku untuk tidak terlambat. Aku akhirnya sampai di kelas yang disambut oleh pintu yang sudah ditutup. Aku terlambat karena anak itu. Sial. Jika aku melihatnya, aku akan membuatnya menyesal. Uang dua ribu saja dipermasalahkan. Aku melihat uang temanku yang jatuh dari sakunya. “Joni! Uangmu jatuh,” ujarku sambil memberikan uangnya. Dia menerimanya dan berterima kasih kepadaku. Itu saja? “Tunggu sebentar, aku sudah membantumu Joni. Aku akan meminta imbalannya di kantin ya. Jangan kabur bro,” ujarku. Dia terlihat sedikit jengkel. Apa ini? Aku sudah membantunya. Jika tidak ada aku, kau tidak akan makan di kantin hari ini. Mengapa semua orang tidak menghargai bantuanku? “Hari ini juga sangat menyebalkan,” ujarku.

                Aku berusaha mencari anak yang menabrak aku tadi pagi. Aku akhirnya melihat dia di pagar sekolahnya. “Kau akan menyesal telah menabrakku bocah!” Langkah kakiku terhenti saat melihat dia yang menatapi temannya yang sedang menikmati es. Anak kecil saja sudah paham saat melihat ini. “Apakah itu karena kejadian tadi pagi?” Dia kelihatan sedih tidak dapat menikmati es bersama temannya. Itu bukan salahku, lagi pula teman-temannya seharusnya membagi sedikit esnya. Itu bukan salahku. Aku kemudian melihat tukang es yang sedang menyuruh anak itu membelikan sesuatu. Dasar! Tukang sepertimu beraninya menyuruh anak-anak seperti itu. Aku akan menasehati bapak-bapak itu. “Terima kasih telah membantuku,” ujar pedagang es itu sambil memberikan esnya kepada anak itu. Dia juga tidak menerima uang kembaliannya. "Sama-sama pak. Terima kasih juga pak!” Aku melihat senyuman mereka berdua. Mengapa pedagang itu tersenyum? Dia baru saja rugi seribu rupiah. Mengapa anak itu tersenyum? Bukannya kau masih kesal saat uangmu jatuh tadi pagi? “Memarahi anak itu? Menasehati bapak itu? Siapa aku yang berani memarahi dan menasehati mereka? Apa yang sebenarnya sedang kulakukan?”

    Aku melihat es yang diberikan kepadaku. Aku melihat pedagang es itu sedang menikmati esnya juga. “Terima kasih pak.”, ujarku tanpa sadar. “Ada apa nak? Mengapa terlihat menyesal seperti itu? Kau masih muda, nikmatilah es ini sebelum dilarang oleh dokter,” ujarnya sambil menikmati esnya sendiri. Pedagang es yang aneh. “Tidak pak, aku hanya merasa malu melihat perbuatan bapak tadi,” ujarku. Dia hanya tertawa. Aku sedikit kesal saat pedagang es ini menertawakanku. “Saya juga malu nak saat ingin memberikanmu es ini. Aku pikir kau akan lebih memilih minuman kopi-kopi luar negeri itu,”, ujarnya. Tentu saja aku lebih menyukai itu, tetapi kau sudah memberikan es ini kepadaku jadi aku harus bersyukur. “Tidak pak, saya juga suka es ini.”

    Bersyukur? Huh? Apakah aku pernah bersyukur sama sekali? “Syukurlah kalau begitu,” ujar bapak itu. Lucu sekali, semua motivator dan kata-kata mutiara yang aku baca, aku lebih tergerakkan oleh pedagang es. “Hari ini sangat aneh,” ujarku sambil menatap ke langit. Bapak itu kelihatan bingung. “Terima kasih pak dan terima kasih juga atas esnya. Aku pamit dulu,” ujarku. Bapak itu tersenyum dan melanjutkan usahanya. “Terima kasih banyak pak,” ujarku sambil berlari ke kampus, namun sebelum itu aku harus meminta maaf kepada anak itu dan menggantikan uangnya. Aku juga harus meminta maaf kepada teman sekelompokku dan Joni. Banyak sekali. Aku memang orang yang kurang ajar ya. “Hari ini sangat menyebalkan,” ujarku.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.