x

Gambar oleh Samer Chidiac dari Pixabay

Iklan

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Senin, 22 Januari 2024 07:42 WIB

Biasakan Diri untuk Merayu

Jika kita merayu seseorang, bagaimana nada bicara kita? Bagaimana kecepatannya? Bagaimana tutur katanya? Bagaimana anda berkomunikasi dengan-Nya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pernahkah anda menginginkan sesuatu yang sulit anda gapai, sampai-sampai harus memohon ke orang tua untuk dibelikan? Lalu, bagaimanakah anda memintanya? Tantrum? Atau dengan merayunya? Tentu saja bermacam-macam. Bagi bocil-bocil yang sudah mulai berpikiran dewasa, akan meninggalkan pilihan tantrum dan lebih condong merayu orang tuanya untuk mendapatkan mainan tersebut. “Ayah, boleh beli Tamiya, nggak? Abang janji nanti dapat nilai bagus di ujian matematika?” Rayuan memang identik dengan timbal balik. Orang tua, yang mana tujuan yang akan dirayu di bacaan ini, akan lebih setuju jika si anak menawarkan sesuatu untuknya apalagi yang berhubungan dengan akademik.

Bagaimana dengan orang dewasa? Kau sudah tahu apa maksudku. Bagi kita para pemuda, merayu lebih mengarah kepada ketertarikan terhadap lawan jenis. Ada cewe cantik, langsung melancarkan rayuan-rayuan maut, yang jika mereka dapat memutar balik kejadian itu akan jijik melihat dirinya sendiri. Tentu saja, anda merayu juga memberikan sebuah timbal balik, jika hanya rayuan kosong kemungkinan anda diterima akan sedikit. Semua umur pasti pernah melakukan kegiatan merayu ini. Itu versi dunia, bagaimana dengan sisi koin lainnya?

Dalam masalah akhirat, apakah kita pernah menerapkan hal ini? Pernahkan kita merayu Sang Pencipta dalam amal ibadah kita? Atau kita hanya melaksanakan aktivitas itu karena hukumnya saja? Jika kita menginginkan sesuatu, tentu kita langsung merayu siapa yang berhubungan dengan apa yang kita tuju, namun sudahkah anda merayu Penciptanya juga?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Anda yang menginginkan sesuatu, berusaha semaksimal mungkin, dan merayu Sang Pencipta untuk mempermudah jalan kita, itulah gaya hidup yang paling afdol menurut saya. Kita melibatkan Allah SWT di setiap momen kehidupan kita, tidak hanya dalam hal-hal tertentu saja, tidak hanya saat kita kepepet, namun setiap saat di kehidupan kita. Itu merupakan kebiasaan yang sangat berkah.

Rayuan kepada Yang Maha Kuasa tentu saja banyak caranya dan berhubungan dengan komunikasi kita kepada-Nya. Salah satunya adalah Shalat. Ketika kita melaksanakan ibadah Shalat, kita sedang berdoa dan berkomunikasi kepada Allah SWT. Jika kita sedang berkomunikasi dengan sesama manusia, apakah kita lebih menyukai lawan bicara yang bicara dengan jelas atau yang bicaranya cepat-cepat?

Jawaban anda samakanlah dengan apa yang anda lakukan. Janganlah kita Shalat dengan tergesa-gesa, anggaplah kita sedang berkomunikasi, akan lebih afdol jika berbicara dengan jelas dan benar. Berdoa juga seperti itu, jelaslah dan lembutlah saat meminta kepada-Nya, seperti engkau melakukan rayuan di hidupmu, bahkan harus lebih dari itu. Cobalah untuk menikmati ibadah anda, agar saat anda berkomunikasi, anda masih ingin menghabiskan waktu dengan-Nya.

Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan