Di Suatu Malam - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh HeonCheol LEE dari Pixabay

erica widiani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Maret 2022

Kamis, 24 Maret 2022 17:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Di Suatu Malam

    Malam dan hujan adalah kombinasi paling pas untuk membangkitkan arwah-arwah masa lalu. Memenuhi kepala dengan banyak kenangan sebelum tidur.

    Dibaca : 969 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di suatu malam, saat hujan turun rinai. Aku menyalakan lampu remang kamarku sembari menatap ke luar jendela. Tirainya sudah kututup, tapi hanya bagian tipisnya, hingga aku masih bisa menyaksikan samar suasana di luar sana.

    Suara hembusan napas kasar yang samar memenuhi telingaku. Membuatku semakin nyaman bergelung dengan selimut. Kunikmati kenyamanan ini sambil tersenyum.

    "Menurutmu besok turun hujan tidak?"

    Suara itu membuatku membuka mata, kugenggam hpku lebih dekat.

    "Tidak tau, aku kan bukan dukun. Mana kutahu."

    "Hmmm."

    "Ada apa?"

    "Aku ingin..."

    "Ingin apa?"

    Dahiku berkerut mendengar ungkapan seseorang di seberang yang terdengar ambigu.

    "Ingin melihat hujan di malam hari lagi." Jawabnya jelas.

    "Kamu suka hujan di malam hari?"

    "Tentu."

     

    Ya, hujan di malam hari merupakan suatu hal yang bisa mendatangkan sensasi berbeda. Sebuah sensasi yang tak akan pernah kutemui dimanapun. Kenyamanan, keheningan, rasa sejuk, dan juga damai. 

     

    Saat aku kecil, rumah nenek adalah tempat paling nyaman untuk menikmati hujan malam hari. Hawa pedesaan memang tidak ada tandingannya. Ditambah ketika keluarga besar berkumpul, kami bisa bisa merayakan turunnya hujan dengan menonton tv sambil makan mie di baskom besar beramai-ramai. Nenek akan dengan senang hati membuatkan setermos kecil lemon hangat untuk kami.

     

    Menjelang dewasa, ketika kami sudah sibuk dengan urusan masing-masing dan jarang berkumpul seperti dulu. Menikmati hujan seperti ini sendirian adalah waktu paling tragis tapi masih menangkan. Tidak ada lagi hangat karena lemon buatan nenek atau sebaskom mie, tapi hanya hangat karena sebuah selimut. Sendirian.

     

    "Kamu melamun ya? Jangan dibiasakan, enggak baik."

    "Boleh aku bertanya padamu?"

    "Silakan. Tentang apa saja boleh."

    "Kenapa perubahan itu selalu ada?"

    Orang di seberang tertawa samar mendengar pertanyaanku.

    "Pertanyaanmu aneh. Bukankah itu hal yang wajar?"

    "Aku tau, tapi bukan itu jawaban yang kumau. Maksutku kenapa saat kecil kita bisa berkumpul, tapi ketika dewasa kita berpencar seakan tidak mengenal satu sama lain. Atau kenapa dulu kita pernah hidup di suatu tempat, lalu saat pindah dan kita melewati tempat itu, kita hanya bisa melihatnya sambil lalu. Atau juga kenapa kita bisa bepegangan dengan seseorang di suatu masa, tapi kemudian kita sama sekali tidak bisa menggapainya. Aku tau orang-orang akan menjawab seperti apa. Tapi bukan itu yang kumau darimu. Aku merasakan suatu perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan."

    Hening sejenak. Lalu kudengar orang diseberang menarik napas dalam.

    "Semesta memang sudah didesain seperti itu. Mau tidak mau, siap tidak siap, sadar tidak sadar, kita tetap akan dihadapkan dengan perubahan. Ketika hal itu terjadi, kita cenderung tidak memahaminya. Menganggapnya seperti sesuatu hal yang memang sudah seharusnya terjadi. Tetapi ketika di suatu keheningan yang membawa kita pada arus kenangan paling deras, perasaan itu pasti akan muncul. Rasa aneh ketika kita mengenang masa yang sudah lalu. Kita sebagai manusia, hanya bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan yang ada. Karena semakin kita berhenti untuk mengenang yang sudah-sudah, semakin kita akan merasa kosong dan tidak mendapatkan apa-apa."

    "Terlalu mengerikan untuk bisa kuterima."

    "Haha. Anggap saja, kamu sedang menukar hal yang dulu kamu inginkan. Bukankah kamu pernah bercerita bahwa dulu ingin jadi seorang penulis. Maka anggaplah demi mendapatkan posisi itu, kamu harus menukar hal-hal yang kamu punya di masa lalu. Kebersamaan, kenangan pada sebuah tempat, genggaman, dan lain-lain."

    Aku tersenyum simpul mendengar jawaban itu. Yah, jawaban itu cukup bisa kuterima. Jadi aku tidak punya alasan untuk mendebat dan mengatakan tidak setuju. Kalau dipikir-pikir memang seperti itu adanya. Setidaknya dengan mengorbankan hal-hal itu, kini aku bukan hanya sekedar mendapatkan posisi yang kumau. Tapi juga seseorang yang selalu bisa memberikan jawaban dari setiap pertanyaan aneh yang kuajukan, yang mungkin ketika kutanyakan pada orang lain, aku tak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan seperti sekarang. Seseorang yang selalu menawarkan telinganya untuk menerima seberisik apapun suaraku. Seorang baik yang kalau dia tidak ada, aku akan bingung mencarinya di mana lagi.

    Ikuti tulisan menarik erica widiani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.