x

MATA KUCING TERTUTUP HUJAN

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Minggu, 10 April 2022 13:00 WIB

Melihat Dengan Mata Hati

Mata raga Anda meskipun tajam memiliki kelemahan. Mata raga hanya mampu menangkap sebagian realitas saja. Kenyataan sejati hanya bisa terlihat jelas tatkala Anda sudah mampu melihat dengan mata hati. Bagaimana penjelasannya? Silahkan baca terus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

 

Ada sebuah quote dalam bahasa Prancis yang indah dan penuh makna.  On ne voit bien qu’avec le coeur. (Antoine de Saint Exupéry)  Kita tidak bisa melihat dengan jelas kecuali dengan hati.  Demikian kira kira terjemahan quote terkenal dari empu Prancis bernama Antoine de Saint Exupéry. Tentu saja yang dia maksud bukan sekedar melihat benda fisik tapi juga melihat peristiwa dan kenyataan sosial politik budaya yang rumit karena saling terkait. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Realitas sosial politik ekonomi budaya sepintas nampak biasa saja.  Meskipun demikian ketika kita memperhatikan dengan lebih rinci maka akan terlihat tali temali yang rumit.  Di perguruan tinggi kita hanya belajar satu cabang ilmu saja sedangkan realitas itu saling terkait.  Satu peristiwa saja melibatkan beberapa faktor yang ada di luar bidang keilmuan kita.   Kalau kita hanya mengandalkan mata raga saja maka apa yang terlihat hanyalah sebagian dari kenyataan.  Apalagi sekarang ini banyak sekali dolop yang mengaburkan kenyataan demi mengejar bayaran.    Saya sudah menulis artikel tentang dolop.  Maka apa yang diterima orang sebenarnya hanyalah persepsi atas kenyataan. Dengan kata lain kenyataan sudah dibiaskan.  Kenyataan yang diterima sudah terdistorsi.

 

Jadi tepat sekali kata kata Antoine de Saint Exupéry di atas.  Kita harus melihat dengan mata hati.  Tapi masalahnya tidak semua orang memiliki hati yang memenuhi syarat untuk mampu melihat dengan jernih. Lantas hati macam apa yang mampu melihat kenyatan dengan bening?  Tentu saja hati yang bersih dan sehat.  Bukan hati yang kotor dan ‘sakit’. 

 

Dalam buku One way ticket to happiness sudah saya jelaskan soal ini dengan gamblang dan rinci.  Sebenarnya manusia mampu melihat kenyataan dengan jernih atau ibaratnya mampu ‘memotret’ kenyataan dengan resolusi tinggi manakala dia melihat tidak hanya dengan mata raga tapi juga mata nalar dan mata hati yang sehat, bersih dan tercerahkan oleh wahyu Allah swt.

 

Intinya kita harus menghambakan diri kepada sang khalik.  Ketika kita sudah benar benar menghambakan diri maka hati dan pikiran akan sehat, bersih dan bening.  Di saat itulah kita akan mampu melihat realitas dengan mata hati.  Tentu saja ini butuh latihan yang memakan waktu. Puasa ramadan adalah salah satu caranya.

 

Semoga dengan berpuasa ini kita akan menjadi muttaqin yang berhati bersih dan sehat.  Hanya hati yang bersih dan sehatlah yang mampu ‘melihat’ kenyataan sejati.  Ia tidak tertipu oleh kenyataan semu.   

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB

Terpopuler

Puisi Kematian

Oleh: sucahyo adi swasono

Sabtu, 13 April 2024 06:31 WIB