x

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 20 Mei 2024 09:54 WIB

Resensi Novel The 100-Year-Old Man who Climbed Out of The Window and Disappear.

Apa yang terjadi kalau orang berusia seratus tahun kabur dari panti jompo? Novel ini lucu dan seru. Silahkan baca tuntas.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Resensi novel The 100-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared

Judul          : The 100 – year - old man who climbed out of the window and disappeared.

Penulis       : Jonas Jonasson

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit      : Bentang Pustaka, 2022

 

Judul novel ini menurut saya aneh dan lucu, sehingga ia menarik saya untuk membelinya di sebuah pameran buku tahun lalu.  Saya baru sempat membacanya tahun ini. Itupun saya baca dengan nyicil. Sehari dua tiga halaman. Isinya ternyata menarik. 

Tokoh utamanya bernama Allan Karlsson, seorang pria yang sudah berusia 100 tahun. Dia tinggal di sebuah panti jompo di Swedia. Hidupnya terjamin tapi dia jenuh dengan rutinitas di panti jompo.  Maka di hari ulang tahunnya yang ke-100, dia memutuskan  kabur dengan cara memanjat keluar jendela.  Selanjutnya dia bertualang dan mengalami banyak kejadian  yang tak terduga dan  banyak  situasi  yang menegangkan.

Penuh kejutan dan Humor

Novel ini kaya dengan humor yang absurd dan situasi tidak terduga.  Situasi yang dialami Allan seringkali  konyol dan  menimbulkan  tawa.  Interaksi  antar  karakter  juga  dipenuhi  dengan  kejutan meskipun dialognya tidak memakai kalimat langsung.   Humor yang ditulis di buku ini adalah humor orang Eropa yang tidak kasar.  Sedangkan kebanyakan orang Indonesia terbiasa dengan guyonan kasar yang melecehkan fisik, kondisi ekonomi, sosial dsb. Jadi mereka yang terbiasa dengan candaan kasar tidak akan menangkap humor halus dari novel ini.

Sejak saat pertama lari saja Allan sudah menghadapi situasi yang menegangkan dan lucu. Demikian seterusnya Ketika dia bertualang ke banyak negara.

Menariknya petualangan Allan sampai ke Indonesia. Dia tinggal di Bali selama limabelas tahun. Tapi episode Bali ini hanya mendapat porsi kecil saja.  Agaknya penulis ingin menyampaikan kritik pada kondisi sosial politik di Indonesia. Karena orang Indonesia yang ditampilkan agak oon. Situasi yang dilukiskan juga tidak ideal.  Tepatnya money politics yang dia kritik. Ada gambaran orang yang tidak mumpuni berhasil menjadi pejabat.

Petualangan yang Seru

Pelarian Allan membawanya ke berbagai tempat dan  melibatkannya  dalam  berbagai  peristiwa  yang  mendebarkan.  Pembaca  akan  diajak  bertemu  dengan  penjahat  konyol,  para pejabat tinggi,  bahkan  seekor  gajah.  Alur  ceritanya  berliku  dan  penuh  kejutan sehingga  pembaca  terus  penasaran.

Tokoh kuat

Para tokoh  dalam  novel  ini cukup kuat lantaran  memiliki  keunikan masing masing.  Allan, tokoh utamanya adalah  pria  tua  yang  penuh  akal  dan  pengalaman.  Selain  itu,  ada  pula  beberapa  tokoh  pendukung  yang  menambah  warna  dalam  cerita,  seperti  penjahat , pimpinan puncak negara, orang oon dsb.

Salah satu kejutan adalah adegan di Korea utara. Allan mengakali seorang marsekal Rusia sehingga dia bisa memakai seragamnya. Berbekal seragam marsekal itu dia bisa melakukan perjalanan sampai ke Pyongyang di Korea Utara. Dia mau mengelabui Kim Il Sung sang pempinan Korut. Ketika bertemu dia mangaku sebagai marsekal Rusia.  Ternyata Kim Il sung kenal dengan marsekal asli sehingga tipuannya tidak mempan. Dia terancam hukuman mati. Beruntung ketua Mao yang sedang bertamu menyelamatkannya karena Allan pernah menyelamatkan istri Mao.   

Titik lemah

Gaya  bercerita  novel  ini unik karena paparannya selang seling antara masa lalu dengan masa kini.     Mungkin pertama kali hal  ini  sedikit membingungkan   bagi  pembaca. Tapi setelah beberapa saat kita akan terbiasa.

Kesimpulan

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared  adalah  novel  yang  menyenangkan. Ia enak dibaca dan mungkin perlu.  Humornya aneh dan halus. Banyak petualangan  yang  mengejutkan. Ada  tokoh-tokoh  yang  kuat dan unik. Maka novel  ini  cocok  untuk   dibaca  oleh kelompok usia berapa saja dan semua golongan.

Penerjemahnya juga patut diacungi dua jempol. Karena terjemahannya enak sekali dibaca. Mengalir lancar, tidak kaku. Tidak terasa sebagai terjemahan. Jadi kita tidak bosan membacanya meskipun novel ini tebal.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler