x

Membuat sebuah karya sastra

Iklan

Difa Aprilia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 April 2022

Rabu, 20 April 2022 07:29 WIB

Sastra sebagai Sarana Menyampaikan Aspirasi

Karya sastra memiliki daya tarik tersendiri bagi para penikmatnya. Dalam membuat sebuah karya sastra, pengarang dapat menuangkan perasaan yang terdapat di dalam dirinya melalui tulisan yang tertata dengan indah. Karya sastra pun dapat menjadi sarana untuk menyampaikan aspirasi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apa itu sastra? Bagaimana sastra dapat menjadi sarana menyampaikan sebuah aspirasi? Mari mengulas pertanyaan tersebut pada artikel ini.

Secara etimologi, kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu sas yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau intruksi dan –tra yang berarti alat atau sarana. Sumardjo dan Saini menyatakan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Wellek dan Warren berpendapat bahwa sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni.

Siapa yang tidak suka membuat sebuah karya sastra? tentu, kebanyakan dari kita akan suka membuat, mendengarkan, melihat, dan menyaksikan sebuah karya sastra yang salah satu fungsinya sebagai hiburan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Karya sastra adalah karya yang biasanya dituangkan dalam bahasa yang indah dan tertata, dapat berupa puisi, novel, pantun, dan lainnya. Karya sastra dapat menjadi media untuk berekspresi dan menyampaikan pesan yang terdapat dalam pikiran pengarang melalui tulisan yang tertata dengan indah. Karya sastra juga dapat menjadi wadah dalam menyampaikan sebuah aspirasi. Aspirasi untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Kita berada pada era kehidupan globalisasi. Di era globalisasi ini, teknologi berkembang dengan sangat pesat, baik teknologi komunikasi maupun informasi, sehinga tanpa disadari sudah memengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Globalisasi memiliki peranan penting dalam aktivitas manusia sehari-hari. Dengan adanya perkembangan ini, seseorang akan mudah dan terbantu dalam memperoleh, mencari, dan bertukar informasi dengan khalayak umum.

Dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi maupun informasi ini, memudahkan dan mempercepat karya sastra dapat dijangkau oleh khalayak umum. Karya sastra dapat dijangkau dengan cepat salah satunya melalui media sosial atau platform digital (instagram, twitter, facebook, youtube, dan lainnya). Media sosial atau platform digital sebagai sarana interaksi antar individu dari daerah, kota, bahkan negara yang berbeda-beda. Menyampaikan sebuah aspirasi, tidak melulu dengan berdemonstrasi, tetapi dapat juga dilakukan dengan membuat sebuah karya sastra yang berisikan tentang sebuah aspirasi sebagai perwujudan implementasi etika demokrasi yang baik dan benar.

Mari kita mengulas, karya sastrawan Indonesia yang menciptakan karya sastra yang berisikan tentang aspirasinya. Puisi berjudul “Sajak Pertemuan Mahasiswa” karya WS Rendra, berikut beberapa bait puisi dan ulasan mengenai puisi tersebut.

Kita bertanya:                             

Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.

Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Orang berkata “Kami ada maksud baik”.

Dan kita bertanya: “Maksud baik untuk siapa?”.

Ya! Ada yang jaya, ada yang terhina.

Ada yang bersenjata, ada yang terluka.

Ada yang duduk, ada yang diduduki.

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita di sini bertanya:

“Maksud baik saudara untuk siapa?

Saudara berdiri di pihak yang mana?”

Kenapa maksud baik dilakukan tetapi

Semakin banyak petani yang kehilangan tanahnya.

Tanah-tanah di gunung telah dimiliki oleh orang-orang kota.

Perkebunan yang luas

hanya menguntungkan segolongan kecil saja.

Alat-alat kemajuan diimpor tidak cocok

untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya:

“Lantas maksud baik saudara untuk siapa?”

Pada kutipan puisi bait pertama di atas, WS Rendra mengajak pembacanya untuk mempertanyakan dan memperhatikan suatu keadaan di negeri ini. Dalam kutipan “Kami ada maksud baik” perumpamaan untuk pemerintah yang mempunyai maksud untuk menyejahterakan rakyat dan dalam kutipan “Dan kita bertanya: Maksud baik untuk siapa?” merupakan perumpamaan untuk Mahasiswa yang menanyakan kepada pemerintah maksud baik untuk menyejahterakan rakyat atau pemerintah. WS Rendra mengajak pembacanya untuk memahami apakah maksud baik tersebut untuk kesejahteraan rakyat atau pemerintah.

Kutipan bait kedua, menjelaskan bahwa terdapat ketimpangan sosial. Di mana yang kaya akan terus jaya, sedangkan yang miskin akan selalu tertindas. Keadilan dan kesejahteraan belum terwujud, yang ada hanyalah sikap kesewenang-wenangan pemerintah dalam menjalankan tugasnya untuk menyejahterakan rakyat. Rakyat menanyakan kepada pemerintah, maksud baik pemerintah untuk kepentingan pribadi atau kesejahteraan rakyat.

Kutipan bait ketiga, menjelaskan bahwa pemerintah tidak melakukan upaya kesejahteraan rakyat tetapi malah menyengsarakan rakyat. Para petani kehilangan sawah dan tanah sebagai lahan untuk mencari penghasilan, kehilangan tanah-tanah di gunung, dan perkebunan karena telah dimiliki oleh orang kaya (pejabat dan pemerintah). Perkebunan yang luas hanya menguntungkan bagi golongan atas. WS Rendra mengajak pembacanya mempertanyakan maksud baik apa yang pemerintah tawarkan kepada rakyat di desa.

Sastrawan Wiji Thukul pun menyampaikan aspirasinya melalui puisi sebagai bentuk kritik dan saran terhadap suatu kemajuan dan kemunduran bangsa. Beberapa puisinya berjudul “Peringatan”, Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”, “Hari itu Aku Bersiul-siul”, dan “Puisi untuk Adik”.

Karya sastra Virgiawan Liestanto, yang terkenal dengan nama panggungnya Iwan Fals. Iwan Fals adalah seorang penyanyi, musisi, pencipta lagu, dan kritikus yang menjadi salah satu legenda di Indonesia. Lagu yang mengandung aspirasinya berjudul “Surat Buat Wakil Rakyat” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals. Lirik dalam lagu tersebut sebagai bentuk kritik kepada DPR. DPR sebagai wakil rakyat seharusnya mewakili dan mendukung rakyat, ternyata tidak benar-benar mewakili suara rayat.

Masih banyak aspirasi yang terdapat pada karya sastrawan Indonesia lainnya. Jadi, mari menyampaikan aspirasi untuk kemajuan bangsa dan bersuara melalui karya sastra.  

Referensi:

Sumardjo, Jakob, dan Saini KM. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 1991.

Wellek, Renne dan Austin Warren. Teori Kesusastraan (Diterjemahkan oleh Melani Budianta). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1995.

 

Ikuti tulisan menarik Difa Aprilia lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan