Menjaga Lisan - Analisis - www.indonesiana.id
x

Toxic Boss

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Minggu, 24 April 2022 08:12 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menjaga Lisan

    Ucapan lisan memiliki dampak dahsyat kepada diri sendiri dan orang lain. Lisan bisa melukai hati, bisa juga memotivasi. Lisa bisa merusak hubungan, bisa memperbaiki hubungan. Lisan bisa juga merugikan pengucapnya sendiri. Siapapaun yang ingin mengembangkan diri hendaknya menjaga lisannya.

    Dibaca : 774 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

     

    Saya yakin semua orang sudah paham bahwa lisan kita harus dijaga karena berpotensi menimbulkan kerusakan atau kerugian.  Tapi tidak ada salahnya kita bahas kerugian atau kerusakannya.  Apa saja kerusakan yang ditimbulkan? Siapa saja yang dirugikan?

     

    Pertama lisan bisa melukai perasaan orang lain.  The tongue wounds more than a lance.  Lidah melukai lebih daripada sebuah tombak.  Itu kata wong londo.  Lidah lebih tajam daripada pedang, demikian kata orang Indonesia.   Lisan memang tidak melukai raga tapi ia melukai hati.  Dan luka hati kadang lebih awet daripada luka fisik.  Tidak semua orang mampu memaafkan.  Jadi hati hati dengan lisan Anda. Meskipun sedang bercanda pakailah kata kata yang sopan.  Jangan melecehkan apapun. Pakailah candaan yang beradab.

     

    Kedua lisan bisa menyebabkan hubungan sosial menjadi renggang bahkan bermusuhan.  Pertengkaran antara dua kelompok bisa dipicu oleh lisan yang buruk.  Apalagi jika sengaja mengadu domba dua kelompok. Tindakan itu sangat berbahaya. Itu bisa menyebabkan mereka saling tidak suka dan bahkan tidak jarang sampai terjadi bentrokan fisik.

     

    Ketiga lisan bisa menyebabkan orang lain hilang kepercayaan diri.  Misalnya jika Andamengomentari sebuah profesi tertentu tidak baik prospek keuangannya.  Sedangkan seseorang yang Anda komentari itu memiliki renjana (passion) di bidang itu.  Jangan sampai Anda mengatakan itu kepada anak anak Anda.  Boleh saja berbeda pendapat tapi sampaikan dengan santun,  agar jangan meruntuhkan kepercayaan dirinya.  Ingat kata kata Einstein, If you judge a fish by his ability to climb a tree, then he will spend his whole life think that he is stupid.

     

     

    Keempat lisan bisa memiliki dampak buruk pada diri Anda sendiri.  Terutama ketika Anda melakukan self talk atau berbicara kepada diri sendiri.  Ada istilah afirmasi yang kadang tidak sengaja.  Ada sebuah contoh yang saya lihat sendiri.  Suatu hari saya bersama istri menengok seseorang yang sakit dengan membawa sebuah buku panduan kesehatan.    Sesaat setelah duduk dia mengatakan tidak punya uang.  Ketika dia masuk mau membuat minuman istri saya berbisik kalau kita masih punya sedikit uang.  Dia usulkan meminjamkannya sedikit. Istri saya kaget ketika saya jawab bahwa kalimat itu arti sebenarnya adalah jangan hutang.  Jadi dia curiga kedatangan kami bertujuan meminjam uang.  Sedangkan niat kami bersilaturahim, menengok orang sakit sembari membawa hadiah sebuah buku kesehatan.    Beberapa tahun kemudian usahanya surut.  Jadi dia terkena omongannya sendiri.

     

    Maka pastikan kata kata yang terpendam dalam hati dan terucapkan tentang diri sendiri adalah positif.  Kepada kaum milenial dan gen Z, katakan bahwa dirimu adalah anak soleh/solehah.  Ahlakmu baik. Ibadahmu rajin, tepat waktu dan sepenuh hati.  Pikiranmu bersih, bening, cerdas, kreatif dan produktif.  Katakan jiwa ragamu bersih.  Kamu adalah pelajar/mahasiswa/ pegawai/karyawan, wirausahawan sukses. Dan masih banyak lagi kalimat positif.  Pastikan hanya kalimat positif saja yang tersimpan dan terucap secara lisan.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.