Rum Aly, Anak 66 yang Menulis Tentang Gejolak Angkatan 66 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Jumat, 29 April 2022 12:41 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Rum Aly, Anak 66 yang Menulis Tentang Gejolak Angkatan 66

    Seorang Bung Besar, Pemimpin Besar Revolusi, akhirnya tersingkir oleh picu gerakan mahasiswa yang mula-mula meneriakkan Tritura, namun merembet menjadi "Adili Soekarno!". Peristiwa tersebut digawangi oleh apa yang disebut sebagai Angkatan 66, yang turun berunjukrasa di medio tahun yang oleh Bung Besar disebut sebagai tahun vivere pericoloso. Tahun yang menyerempet bahaya.

    Dibaca : 843 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Seorang Bung Besar, Pemimpin Besar Revolusi, akhirnya tersingkir oleh picu gerakan mahasiswa yang mula-mula meneriakkan Tritura, namun merembet menjadi "Adili Soekarno". Peristiwa tersebut digawangi oleh apa yang disebut sebagai Angkatan 66, yang turun berunjukrasa di medio tahun yang oleh Bung Besar disebut sebagai tahun vivere pericoloso. Tahun yang menyerempet bahaya. 

    Nampaknya betul yang pernah ditulis Parakitri T. Simbolon di tahun 2006, bahwa apa yang pernah disebut Angkatan 66 praktis sudah dilupakan orang. Meskipun, “Angkatan 66 pernah membahana di persada Tanah Air Indonesia”.

    Pejuang kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo, pada medio April 1966 dengan rendah hati menyebut bahwa Angkatan 66 lebih hebat daripada Angkatan 45. Berbeda dengan Angkatan 45 yang berjuang dengan bedil, Angkatan 66 berjuang tidak dengan senapan, tapi dengan “keberanian, kecerdasan, kesadaran politik, motif yang murni”. Dengan semua itu Angkatan 66 “memberi arah baru pada sejarah nasional Indonesia”.

    Penamaan Angkatan 66 itu sendiri, diusulkan oleh Jenderal Abdul Harris Nasution kepada KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang baru saja dibubarkan oleh KOGAM (Komandan Ganyang Malaysia) 26 Februari 1966. Kendati ekspos tentang peran Angkatan 66 makin sering terlewati dalam pembahasan sejarah, tetap saja harus diakui bahwa generasi muda yang bergerak waktu itu adalah kelompok paling konseptual selain adanya tokoh-tokoh kemerdekaan 1945 yang menjadi bagian dari lembaran penting sejarah Indonesia. Demikian Rum Aly menggores ingatan pada salah satu artikelnya tentang Angkatan 66. Tentang tahun-tahun yang oleh Bung Karno disebut sebagai tahun vivere pericoloso, tahun yang menyerempet bahaya.

    Di kalangan pergerakan mahasiswa, apalagi mahasiswa sesudah Angkatan 66, nama Rum Aly sama sekali tidak populer. Ia sendiri juga memang tidak pernah menyebut dirinya sebagai aktivis. Padahal, sebagai mahasiswa, ia menyaksikan dan sangat mengenali dunia pergerakan yang terjadi di lingkungannya.

    Tetapi untuk mencari seperti apa profil Rum Aly ternyata tidak mudah. Bahkan di era sekarang yang katanya banjir informasi pun, tetap sulit untuk mencari profilnya. Sedangkan untuk mencari tulisan-tulisannyanya, ada banyak dan lebih mudah didapat.

    Beruntung ada sebuah blog yang memuat satu mewawancara dengan Rum Aly, offsideblog namanya. Nampaknya pewawancara di blog itu adalah seorang junior, seorang mahasiswa, yang sama-sama Unpad dengan Rum Aly. Agaknya keduanya melakukan percakapan pada medio 2006. Waktu itu disebut umur Rum Aly hampir 60 tahun.

    Untuk urusan pergerakan mahasiswa, Rum Aly mengingat, bahwa Bandung adalah kuburan bagi kelompok ”kiri” atau organisasi ekstra. Kalau anda membawa label organisasi ekstra di dalam ITB misalnya, anda tidak akan mampu menjadi pemimpin atau pengurus di Dewan Mahasiswa.

    Sejak tahun 1963 pertarungan keras antara prokomunis dan antikomunis di dunia perguruan tinggi sudah terlihat. Tahun segitu Rum Aly masih SMA. Ia dapat mengikuti apa yang terjadi pada dunia kampus melalui kakaknya yang menjadi mahasiswa ITB.

    Setelah jadi mahasiswa, sejak awal tahun 1967, Rum Aly melarutkan diri dalam kegiatan jurnalistik di mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung (surat kabar umum). Ia memulai karier jurnalistiknya sebagai wartawan, redaksi, pejabat redaksi sampai akhirnya menjadi Pemimpin Redaksi di tahun 1971 yang saat itu menggantikan A. Rahman Tolleng. Beberapa nama yang pernah menjadi wartawan mingguan Mahasiswa Indonesia di antaranya adalah Sarwono Koesumaatmadja, Marzuki Darusman, Djoko Sudyatmiko, Rachmat Witoelar, Jakob Tobing serta banyak lagi.

    Sebagai seorang mahasiswa, Rum Aly sempat duduk di bangku jurusan Biologi ITB sekaligus Psikologi Unpad. Namun kuliahnya di kedua kampus itu tidak tamat. Ia menyelesaikan S1 dan S2-nya di kampus swasta di Jakarta.

    Untuk bahasan sejarah, nama Rum Aly juga tidak begitu familiar bagi orang-orang yang suka mengulik seputar kejatuhan Bung Karno, PKI, Supersemar, 30S/PKI, dan terutama gerakan mahasiswa Angkatan 66. Mungkin, karena kebanyakan orang-orang yang menyukai itu kerap mengabaikan Angkatan 66 dan eksistensi politiknya.

    Padahal, soal mahasiswa 66, ada tulisan --di antara banyak sekali yang telah dibuatnya-- tentang aksi mahasiswa di Bandung yang terbilang amat vulgar kalau dihadapkan pada ribuan kabar yang begitu kultus menjunjung Presiden Soekarno. Aksi tersebut berlangsung berhari-hari.

    Mahasiswa turun ke jalan dan menyasar betul-betul sosok Presiden Soekarno. Mahasiswa yang berasal dari berbagai kampus di Bandung juga melakukan appel. Dan, untuk ukuran tahun sekarang yang terpaut jauh dari 1966, yang ditulis Rum Aly menjadi terbaca sangat dramatis, kalau tidak mau disebut amat kontroversial.

    Sore 15 Agustus 1966, mahasiswa menyelenggarakan suatu pawai alegoris keliling kora Bandung. Sikap anti Soekarno yang paling nyata terekspresikan dalam pawai allegoris ini.

    Sebuah patung besar yang menyerupai Soekarno di atas sebuah kendaraan bak terbuka amat menarik perhatian jubelan beribu-ribu massa rakyat yang menonton di sepanjang jalan. Patung yang lengkap dengan berbagai bintang dan tanda jasa di dadanya itu disertai suatu tulisan yang seakan pertanyaan Soekarno, ‘Tjing kuring hayang nyaho, naon Hati Nurani Rakyat’, Hayo saya ingin tahu apa itu Hati Nurani Rakyat.

    Di sekeliling patung, duduk bersimpuh sejumlah wanita cantik –berkebaya atau berpakaian kimono Jepang, yang diperankan sejumlah mahasiswi– dan kendaraan pengangkutnya berjalan lambat-lambat ‘ditarik’ sejumlah manusia kurus kering, berbaju gembel berjalan tertatih-tatih tanda kelaparan.

    Sejumlah patung atau boneka sindiran lainnya karya para mahasiswa juga ikut meramaikan pawai. Ada pula dua poster yang menyolok, berbunyi “Kalau tidak tahu Hati Nurani Rakyat, jangan mengaku Pemimpin Besar Revolusi” dan “Kalau tidak tahu Hanura, minggir saja Bung!”.

    Ada sebuah ‘patung’ lain dalam arak-arakan itu yang ternyata tak hanya ‘menyinggung’ perasaan Soekarno, tapi juga aparat keamanan, sehingga dirampas oleh sejumlah petugas di depan Gedung MPRS (yang lebih dikenal sebagai Gedung Merdeka). Patung bertuliskan ‘Kecap Nomor Satu’ di bagian badan dan ‘Batu’ di bagian kepala itu, dikehendaki oleh mahasiswa untuk di bawa terus dalam pawai. Mahasiswa pun menolak beranjak dan mogok di jalan menuntut patung dikembalikan. Dan, persoalan baru bisa diatasi ketika beberapa perwira Kodam Siliwangi datang setelah dihubungi para mahasiswa, dan turun tangan untuk mengembalikan patung itu.

    Makin hari mahasiswa justru makin berani. Penurunan dan penyobekan gambar Soekarno kemudian terjadi pada 18 Agustus 1966. Aksi ini merupakan gerakan paling terbuka dan terang-terangan yang untuk pertama kali dilakukan di Indonesia dalam rangka penolakan terhadap Soekarno. Adalah seorang tokoh KAMI Bandung, Soegeng Sarjadi yang juga Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Padjadjaran, yang memulai aksi penyobekan gambar Soekarno waktu itu.

    Sewaktu berlangsung appel massa mahasiswa serta pelajar di markas KAMI Jalan Lembong, tanggal 18 Agustus pagi, tatkala tampil di panggung untuk berorasi di depan massa, Soegeng mengeluarkan gulungan kertas dari balik jaketnya. Sambil mengembangkan kertas itu ia bertanya kepada massa, “Saudara-saudara, ini gambar siapa ?”. Dijawab, “Gambar Soekarno!”.

    Mendapat sambutan yang luar biasa, Soegeng menambah dosis orasinya, “Inilah saudara-saudara, otak Lubang Buaya, arsitek Gestapu! Apakah saudara-saudara setuju kalau gambar orang yang sudah menyengsarakan rakyat ini kita turunkan dan kita hancurkan?!”. Begitu mendapat tampik sorak “Setuju!”, Soegeng segera menyobek-nyobek gambar Soekarno lalu mencampakkannya ke tanah.

    Soegeng yang kala itu dianggap salah satu orator ulung oleh para mahasiswa, menambah lagi suntikan terakhirnya. “Semua gambar Soekarno, di kantor-kantor, di rumah-rumah, di perusahaan-perusahaan negara atau swasta agar diturunkan!”. Ujar Soegeng.

    Selain di Bandung, Rum Aly banyak menuliskan pula aksi-aksi yang berlangsung di Jakarta. Tulisan-tulisannya tentang seputar apa yang terjadi tahun 1965, 1966, 1967, sungguh-sungguh membukakan sisi yang mencengangkan tentang vivere pericoloso seperti kata Bung Karno.

    Soekarno menyebut tahun 1966 sebagai tahun gawat, dan menunjuk adanya gerakan kaum revolusioner palsu sebagai penyebabnya. Saat berpidato Presiden Soekarno tetap menyebut-nyebut Pantja Azimat Revolusi dan mengagungkan persatuan berdasarkan Nasakom. Dan, bagian yang paling ‘kontroversial’ adalah tuduhan Soekarno bahwa gelombang penentangan terhadap dirinya dan Nasakom adalah sikap revolusioner yang palsu.

    Tentu yang dimaksudkannya adalah terutama kesatuan-kesatuan aksi. Soekarno menyerukan, “Saudara-saudara kaum revolusioner sejati, kita berjalan terus, ya, kita berjalan terus, kita tidak akan berhenti. Kita berjalan terus, berjuang terus, maju terus pada sasaran tujuan seperti diamanatkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945”.

    Pidato itu ternyata dimaknai sebagai seruan, sebagai komando oleh para pengikut Bung Karno yang masih setia, untuk menghadapi ‘kaum revolusioner palsu’. Pada peristiwa 19 Agustus 1966, dan memang seakan mengikuti seruan Soekarno sekaligus membalas aksi-aksi anti Soekarno yang diperlihatkan pelajar dan mahasiswa dalam pawai alegoris Senin sore 15 Agustus, pendukung Soekarno pun bereaksi. Barisan pendukung Soekarno melakukan penyerangan-penyerangan terhadap para penentang Soekarno di berbagai penjuru tanah air. Korban-korban pun berjatuhan, dimana satu di antaranya adalah Arif Rahman Hakim.

    "Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah", kata-kata itu adalah juga bagian dari pidato Presiden Soekarno di acara peringatan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus, di tahun 1966. Dan, ini adalah pidato perayaan hari kemeedekaan Bung Karno yang terakhir sebagai presiden. Seorang Bung Besar, akhirnya tersingkir di bawah teriakan-teriakan mahasiswa yang bergerak menyuarakan Tritura, dan akhirnya linier dengan "Turunkan dan Adili soekarno!".

    Lepas dari surat kabar, selain buku, Rum Aly menulis sangat banyak artikel. Tulisannya rigid menelisik hingga ke celah-celah peristiwa yang dulu pernah dia saksikan dan rasakan.

    Tentang dua buku yang ditulisnya seputar peralihan dari Orla ke Orba, adalah ”Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter” dan ”Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966”. Kedua buku ini juga tidak terdengar dikutip-kutip orang di seputar pembahasan tahun peralihan antara Orla ke Orba.

    Padahal, Rum Aly adalah bagian dari Angkatan 66, dan yang juga menulis-nulis tentang Angkatan 66 dan berbagai peristiwa yang melingkunginya. Yakni yang gerakannya turut mempercepat kejatuhan seorang Proklamator Kemerdekaan dari kursi presiden seumur hidup.

    Pada web miliknya sendiri, yang bernama socio-politica, Rum Aly menulis banyak sekali hal. Terutama hal-hal yang jarang sekali disadari oleh banyak orang tentang layer demi layer pergantian Orde Lama ke rezim Orde Baru.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Priskila Naomi

    19 jam lalu

    Asa

    Dibaca : 79 kali