Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Migrasi Cina Kapitalisme Cina dan Anti Cina

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 29 April 2022 12:45 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina

    Penyelesaian masalah Cina akan membawa kemakmuran yang besar bagi Bangsa Indonesia. Sebab dengan menempatkan orang-orang Cina yang memang kuat secara ekonomi sebagai bagian dari bangsa, maka posisi bisnis mereka di dunia internasional bisa dipakai oleh bangsa untuk kesejahteraan warganegara. Buku ini memberikan sumbangan yang sangat besar dalam mengurai masalah Cina sehingga kita bisa merumuskan dan mencoba penyelesaian masalah Cina secara konstruktif.

    Dibaca : 786 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina

    Penulis: Onghokham

    Tahun Terbit: 2017

    Penerbit: Komunitas Bambu

    Tebal: xii + 204

    ISBN: 978-979-3731-25-4

     

    Migrasi orang-orang Cina, kapitalisme orang Cina dan pandangan anti Cina memang sangat berhubungan. Hubungan kuat ketiganya setidaknya terjadi di Jawa. Onghokham - seorang ahli sejarah yang menekuni sejarah Jawa dan punya perhatian terhadap peran orang-orang Cina di Jawa, mengungkapkan secara jelas hubungan ketiganya dalam berbagai artikel yang ditulisnya. Beberapa artikel yang ditulisnya yang berhubungan dengan tema tersebut telah dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul “Migrasi Cina, Kapitalisme Cina dan Anti Cina” yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu tahun 2017.

    Kesimpulan utama saya setelah membaca buku ini adalah bahwa penyelesaian masalah Cina akan membawa kemakmuran yang besar bagi Bangsa Indonesia. Sebab dengan menempatkan orang-orang Cina yang memang kuat secara ekonomi sebagai bagian dari bangsa, maka posisi bisnis mereka di dunia internasional bisa dipakai oleh bangsa untuk kesejahteraan warganegara. Buku ini memberikan sumbangan yang sangat besar dalam mengurai masalah Cina sehingga kita bisa merumuskan dan mencoba penyelesaian masalah Cina secara konstruktif.

    Sebagai sebuah kumpulan artikel, buku ini tentu tidak cukup rapih dalam susunannya. Hal tersebut sudah disadari oleh Wasmi Alhaziri – sang editor. Itulah sebabnya di bagian pengantar dia menyampaikan kelemahan ini bahkan pada paragraf pertama. Ia menyampaikan bahwa banyak data yang dipakai berulang-ulang, dan bahkan ada kesan bahwa Onghokham melakukan copy-paste dari artikel sebelumnya. Namun Alhaziri juga melihat kekuatan; yakni kita bisa menguji cara pikir Onghokham secara lebih mendalam. Sebab penggunaan data dan argument yang berulang-ulang bisa menunjukkan bagaimana pandangan Onghokham dalam sebuah topik.

    Saya melihat bahwa Onghokham berargumentasi bahwa migrasi Cina sudah terjadi jauh sebelum Belanda masuk ke wilayah yang kemudian menjadi koloninya – Hindia Belanda. Orang-orang Cina yang bermigrasi tersebut telah berasimilasi dengan baik dengan orang-orang lokal. Bahkan banyak dari mereka yang menikah dengan perempuan lokal. Sebab di awal migrasi, sebelum kapal uap menjadi sarana pelayaran, hampir tidak ada perempuan dari daratan Cina yang ikut bermigrasi. Mereka-mereka inilah yang kemudian disebut oleh Ong sebagai Peranakan. Para peranakan sudah memegang peran perniagaan yang penting.

    Migrasi menjadi semakin cepat karena adanya peluang berusaha yang lebih besar di Hindia Belanda. Berkembangnya alat transportasi laut, yaitu penggunaan kapal uap, juga mendorong migrasi yang lebih besar dari daratan Cina ke Hindia Belanda.

    Pada mulanya Belanda dan orang Cina adalah sama-sama datang ke Jawa untuk berdagang. Namun Belanda kemudian melakukan kolonisasi wilayah ini. Bahkan wilayah tersebut dinamai sebagai Hindia Belanda. Sejak Belanda memegang kekuasaan politik, hubungan antara orang Cina, orang Jawa dan Belanda menjadi berubah. Pemerintah Belanda yang mengambil alih peran VOC membuat aturan-aturan yang memisahkan orang-orang Cina dengan penduduk pribumi.

    Dalam hal politik pemisahan ini, Onghokham mempunyai argumen yang berbeda dari banyak pengamat. Onghokham tidak setuju jika pemisahan tersebut hanya memberi keuntungan kepada orang-orang Cina. Onghokham menyampaikan bahwa pemisahan tersebut juga berakibat buruk bagi orang-orang Cina.

    Menurut Onghokham, kapitalisme orang-orang Cina memang bertumbuh di masa Hindia Belanda. Namun ia menolak anggapan bahwa kapitalisme tersebut akibat dari favoritisme – akibat fasilitas yang diberikan oleh Belanda kepada orang-orang Cina dalam hak berdagang; khususnya dalam hal pengelolaan perdagangan candu dan pemungutan pajak. Perkembangan kapital orang-orang Cina sudah dimulai saat mereka memegang peran sebagai pedagang perantara.

    Kapitalisme Cina tumbuh disaat Pemerintah (Belanda) melepaskan kedudukannya yang bersifat monopolistis. Kesempatan ini digunakan oleh orang-orang Cina yang sudah kuat secara kapital untuk masuk ke sektor bisnis konglomerasi. Sebenarnya kesempatan ini tidak hanya dimanfaatkan oleh orang-orang Cina, tetapi juga oleh orang Jawa seperti Mangkunegaran dan Kasunanan. Mangkunegaran dan Kasunanan masuk ke bisnis pabrik gula dan tekstil.

    Konglomerasi orang-orang Cina bahkan berhasil membangun usaha konglomerat lintar benua. Kian Guan NV yang kemudian lebih dikenal dengan nama Oei Tiong Ham Concern adalah usaha konglomerat pertama di Asia Tenggara yang bisnisnya menginternasional. Oei Tiong Ham membuktikan bahwa orang Cina mampu membangun perusahaan yang orientasinya sangat maju. Bukan sekadar usaha untuk mencari untung sesaat saja.

    Sayang sekali bisnis orang-orang Cina ini tidak dianggap sebagai bagian dari bisnis negara, sehingga manfaatnya bagi bangsa dan negara menjadi kurang mendalam. Onghokham menilai bahwa apa yang terjadi di Indonesia berbeda denga napa yang terjadi di Thailand dan Pilipina, dimana bisnis orang-orang Cina menjadi bagian dari bisnis negara.

    Pemisahan antara orang Cina dengan penduduk pribumi oleh Belanda adalah menjadi awal dari perasan Anti Cina. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pemisahan tersebut membuat orang-orang Cina mendapatkan proteksi dari Belanda sehingga berhasil dalam bisnisnya. Pendapat tersebut juga mendukung perasaan anti Cina yang sering meledak menjadi kerusuhan.

    Perasaan anti Cina diperparah dengan kebijakan Orde Baru. Kebijakan asimilasi yang bertujuan untuk menginegrasikan orang-orang Cina justru menimbulkan perasaan bahwa (budaya) Cina harus dibuang karena tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Kebijakan ganti nama, pelarangan perayaan budaya dan bahasa di ruang publik membuat kesan bahwa selama orang-orang Cina masih menggunakan budayanya, maka mereka dianggap anti Indonesia.

    Onghokham memberikan beberapa fakta bahwa sesungguhnya praktik budaya orang-orang Cina tidak berhubungan dengan gerakan anti Indonesia. Beberapa fakta yang disampaikan oleh Onghokham diantaranya adalah: 1. Orang-orang Cina pernah menjadi korban Belanda pada tahun 1740. 2. Gerakan emansipasi di awal abad 19 oleh orang-orang Cina adalah gerakan untuk menuntut kesamaan hak, bukan upaya untuk menjadi bagian dari penjajah. 3. Pada masa gerakan kemerdekaan ada banyak orang Cina yang ikut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan membentuk partai politik yang berorientasi kemerdekaan Indonesia.

    Seperti telah saya sampaikan di atas bahwa penyelesaian masalah Cina akan membawa manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan bangsa. Kita melihat berbagai kemajuan dalam hal ini. Sejak era reformasi beberapa koreksi terhadap kebijakan negara telah dilakukan. Khususnya di bidang kewarganegaraan dan pengakuan budaya. Semoga ke depan kita bisa merumuskan kebijakan-kebijakan untuk menyelesaikan masalah Cina ini dengan lebih baik. Pikiran-pikiran Onghokham dalam buku ini bisa menjadi salah satu rujukan dalam menyusun kebijakan tersebut. 673



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.