Di Bawah Singgasana Aceh - - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Sabtu, 14 Mei 2022 12:30 WIB

  • Topik Utama
  • Di Bawah Singgasana Aceh

    P.A. Leupe mengutip kesan-kesan dari seorang Komisaris Belanda yang pernah berkunjung ke Aceh, yakni penggambaran tentang kehebatan singgasana Aceh. Ia mengatakan bahwa Komisaris itu terkejut melihat hiasan-hiasan di singgalandasana Ratu, seperti melihat matahari silaunya. Tahta itu saja ditaksir berharga 40 bahar emas bertatah berlian dan intan yang harganya kata Sultanah 30 kali 100.000 gulden Belanda. Dan, Vlamingh juga bercerita kehebatan singgasana tersebut.

    Dibaca : 265 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di tahun 1644, Belanda mengirimkan satu perangkatan delegasi ke Aceh yang diketuai oleh komisaris tinggi Arnold de Vamingh van Outshoorn. Turut pula bersamanya Jan Harmansz, opperkoopman (kepala jawatan Perdagangan), dengan maksud jika persetujuan bisa tercapai maka Jan akan tinggal menjadi wakil Belanda di Aceh.

    Di Aceh, utusan Belanda disambut dengan upacara kebesaran. Komisaris Belanda Vlamingh mencatat kesan-kasan yang dialaminya sendiri ketika diterima audiensi oleh Sultanah Tajal-Alam. Ia disambut ke loji Belanda, tempat ia menginap.

    Diceritakan bahwa penyambutan dilakukan oleh tiga orang besar, Orang Kaya Bintara Raja, Setia Wangsa dan Saudagar Raja. Selain itu ada pula dua orang Syahbandar yang bertugas membawanya ke tempat resepsi yang sengaja diadakan buat kehormatannya. Surat Gubernur Jendral van Dieman yang dibawanva, turut diarak didepan, diletakkan di atas sebuah cerana perak, di dalam coupe di atas seekor gajah khas untuk membawa surat itu.

    Rombongan diiring oleh pengawal-pengawal kerajaan dan diberi pandu oleh orang-orang besar. Ketika tiba di pintu gerbang, rombongan berhenti menunggu izin masuk ke Dalam (kraton).

    Sesudah menunggu sekitar setengah jam, lalu diterima jawaban yang mempersilakan rombongan masuk setelah lebih dahulu diatur upacara penghadapan yang harus dilakukan oleh rombongan tamu dengan tersusun menurut tata tertibnya. Serentak rombongan duduk bersimpuh, menyusun jarinya dilutut. Sesudah bersama-sama mengangkat kedua tangan ke keningnya masing-masing sambil bersembah itu, merekapun menyerukan “dirgahayu daulat Tuanku!”

    Kemudian rombongan dibawa ke balai penghadapan, dimana para tamu kalangan atas telah sedia menunggu. Diantaranya terdapat para orang besar, wakil dagang negeri asing, saudagar, nakhoda, dan kaum bangsawan lainnya.

    Salah satu cara pertunjukan adalah adu gajah sejumlah 60 ekor banyaknya. Sementara melihat pertunjukan, para tamu disugukan minuman serbat berbahan gula tebu, dan beberapa makanan kacil dari sayur. Tamu diberi persalin pakaian Aceh.

    Kemudian para tamu berangkat ke taman dimana terdapat pula semacam balai penghadapan tempat Sultanah. Disana diadakan jamuan makan. Tamu Komisaris setaraf dengan Laksamana serta orang besar lainnya, mereka sama-sama makan berpiring mangkok terbuat dari emas, dan untuk golongan di bawah mereka menggunakan suasa dan perak. Sedangkan golongan yang di bawahnya lagi menggunakan perangkat makan dari tembaga.

    Mengenai penghadapan ini penulis P.A. Leupe mengutip kesan-kesan dari seorang Komisaris Belanda yang pernah berkunjung lima tahun sebelum itu, yakni penggambaran tentang kehebatan singgasana Aceh. Ia mengatakan bahwa Komisaris itu terkejut melihat hiasan-hiasan di singgasana Ratu, seperti melihat matahari silaunya. Tahta itu saja ditaksir berharga 40 bahar emas bertatah berlian dan intan yang harganya kata Sultanah 30 kali 100.000 gulden Belanda. Dan, Vlamingh juga bercerita kehebatan singgasana tersebut.

    Mengenai soal kenegaraan, Vlamingh menceritakan bahwa Belanda terpaksa bertindak “tegas” di Perak, katanya, untuk menghindari kerugiannya. Tetapi Sultanah sama sekali tidak dapat dipengaruhi oleh Vlamingh. Boleh dikatakan, bahwa Belanda ketika itu pulang dengan tangan hampa karena yang dituju tidak tercapai.

    Tajal-Alam sama sekali tidak mau mendesak Perak supaya mau memberinya monopoli timah. Mengenai hal ini Winstedt di dalam “Early Rulers of Perak, Pahang and Acheh”, mengatakan antara lain: “Aceh would not lift a finger to persuade Perak to give the dutch a monopoly”. Dan, Windstedt melanjutkan pula (di tahun berikutnya): “In 1645 an agreement was made between the dutch and Aceh but in spite of it Moors from India enjoyed the tin trade with Aceh and the Malay Peninsula, and the Company get only “fair words and friendly faces”.

    Demikian pula dikatakan Brian Harrison (B. Harrison, South-East Asia, A Short History) yang mengutip salah satu kesan-kesan Belanda masa itu: “The Moors (i.e. Indian Moslems) snap up all the tin in Perak under our very noses, and stuff the country full with their piece goods”.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.