Persenyawaan Keluarga - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Cara berkomunikasi secara jujur dan berempati dengan anggota keluarga menjadi kunci komunikasi efektif pada masa pandemi

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Minggu, 15 Mei 2022 19:40 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Persenyawaan Keluarga

    Setiap keluarga pasti ingin bahagia sejahtera. Bekerja keras saja tidak cukup. Keluarga harus bersenyawa dulu agar bisa mencapai tujuannya. Bagaimana caranya?

    Dibaca : 950 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

    Ilmu Allah itu memang lebih luas daripada samudra.  Topik parenting saja  luas sekali. Seolah tiada habisnya.  Parenting bukan hanya tentang mengasuh anak tapi juga membangun organisasi keluarga. Nah agar bisa terbangun organisasi yang solid harus ada persenyawaan keluarga.

    Ketika dua zat bertemu lalu terjadi perubahan itulah persenyawaan.  Manusia bisa juga bersenyawa.  Di Kamus Besar Bahasa Indonesia bersenyawa artinya padu benar atau menjadi satu benar.  Ketika dua orang bertemu lalu merasa klop dan memutuskan untuk menikah itu juga persenyawaan.   Keduanya tidak perlu sama.  Kepribadian, ilmu, profesi, hobby, dll boleh saja berbeda.  Oksigen juga beda dengan hidrogen.  Tapi tatkala keduanya bertemu maka akan bersatu padu.  Agar bisa menyatu memang harus ada rasa saling menyukai, saling menyayangi, saling mencintai.  Itu modal awal terbentuknya tim yang padu.

    Wacana di antara mereka berdua akan menguatkan ikatan emosional.  Kalau memang sudah klop nanti bersama berlalunya waktu akan terbentuk tim yang semangkin solid.  Keduanya akan memainkan peranan masing masing yang saling mendukung. Cinta kasih dan wacana itu adalah pilar dari rumah tangga bahagia.

    Iman adalah pilar lain yang sangat penting. Dalam bahasa Jawa namanya soko guru alias tiang utama yang harus ada. Tanpa itu bangunan rumah akan roboh.  Demikian juga rumah tangga tanpa iman.  Bisa saja sukses secara ekonomi tapi nanti akan hancur karena faktor lain.

    Anda mestinya sudah sering mendengar atau melihat sendiri pasutri yang retak gara gara ahlak salah satu atau keduanya kurang baik.  Jadi tidak perlu kita bahas panjang lebar di sini.

    Jadi dalam pandangan saya itulah tiga pilar utama sebuah keluarga bahagia.  Kasih sayang, wacana dan iman.  Tanpa itu rumah tangga akan rapuh. Ibarat rumah yang tiang utamanya keropos.  Tentu saja ada pilar utama lain seperti pekerjaan atau penghasilan.

    Banyak keluarga yang pilar keempatnya pas pasan saja tapi hidupnya bahagia.  Itulah bukti lain tentang pentingnya tiga pilar utama yang pertama.  Idealnya tentu keempat pilar itu kokoh.     

    Maka (calon) pasangan suami istri harus menyatukan langkah dan pikiran untuk membangun  pilar utama tersebut. 

     

    Itulah sebabnya sejak awal, bahkan sejak sebelum menikah calon pasangan suami istri idealnya sudah mendiskusikan pembangunan ketiga pilar utama ini.

     

    Kalau ketiga pilar utama ini sudah kokoh maka pembangunan pilar keempat dan pilar pendukung lain insya Allah akan lancar jaya.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.