x

Gambar ini diambil saat Lomba Festival Kampus Jakarta

Iklan

Viny Khumairoh

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 April 2022

Jumat, 20 Mei 2022 13:47 WIB

Drama Sebagai Karya Sastra

Apakah kalian pernah menonton sebuah pertunjukan drama? drama biasanya menggambarkan realita dari kehidupan manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan. Pementasan drama mengangkat kisah dan cerita tentang realita kehidupan manusia dan masyarakat yang di dalamnya memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditunjukan untuk pementasan teater. Sehingga penonton seolah-olah sedang melihat kehidupan dan kejadian dalam masyarakat. Lalu, cerita atau kisah yang di angkat ke dalam sebuah drama banyak tersirat makna dan pelajaran yang dapat kita ambil. Sehingga saat menonton drama, penonton tidak hanya mendapatkan sebuah hiburan tetapi juga pelajaran moral dari drama tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menurut etimonologi, kata drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi.  Adapun istilah lain drama berasal dari kata drame, sebuah kata yang berasal dari bahasa Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid. Drama tersebut bermaksud untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Istilah lain juga datang dari khazanah kebudayaan barat, yakni dari kebudayaan atau tradisi bersastra Yunani. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan Krauss (1999: 249) dalam bukunya Verstehen und Gestalten, “Gesang und Tanz des altgriechischen Kultus stammende künstlerische Darstellungsform, in der auf der Bühne im Klar gegliederten dramatischen Dialog ein Konflikt und seine Lӧsung dargestellt wird” (drama adalah suatu bentuk gambaran seni yang datang dari nyanyian dan tarian ibadat Yunani kuno, yang di dalamnya dengan jelas terorganisasi dialog dramatis, sebuah konflik dan penyelesaiannya digambarkan di atas panggung).

Di Indonesia drama sering disebut sandiwara atau teater. Dalam bahasa jawa, sandiwara dibagi menjadi dua suku kata yaitu sandi yang memiliki arti rahasia dan warab yang berarti ajaran. Jika digabungkan sandiwara adalah ajaran yang disampaikan secara rahasia atau tidak terang-terangan. Sebab, penonton akan menemukan makna tersirat dalam lakon drama. Misalnya, orang yang berbuat baik akan menuai kebahagiaan. Sedangkan kata teater berasal dari bahasa inggris yakni theater yang berarti gedung pertunjukan atau dunia sandiwara. Untuk saat ini teater memiliki dua makna, yang pertama teater adalah gedung pertunjukan dan yang ke dua teater adalah bentuk tontonan atau pementasan yang ditampilkan di depan orang banyak.

Unsur-unsur Drama

  1. Alur
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Alur merupakan rangkaian peristiwa yang terdapat di dalam sebuah teks atau naskah. menurut Riris K. Sarumpaet (Satoto, 2012) alur adalah rangkaian peristiwa yang dijalin berdasarkan hukum sebab akibat dan merupakan pola serta perkaitan peristiwa yang menggerakkan jalannya cerita ke arah pertikaian dan penyelesaian. Alur atau plot terdiri atas eksposisi (permulaan), komplikasi (pertengahan), klimaks, dan resolusi (peleraian/akhir).

  1. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan penokohan merupakan komponen yang paling penting dalam drama. Karena, tokoh berperan sebagai penggerak dan pengembang plot atau alur dalam drama. Tokoh atau penokohan dibagi menjadi tiga jenis yaitu, antagonis (jahat), protagonis (baik), dan tritagonis (sebagai penengah).  

  1. Latar

Latar atau setting adalah penempatan tempat, suasana, dan waktu yang terjadi di dalam drama. Menurut Brockett (1964) fungsi seting adalah memberikan informasi tentang di mana dan kapan tindakan terjadi (ruang tamu, sebuah kastil, penjara; zaman sejarah, waktu hari, dan musim tahun) dan membantu dalam karakterisasi. Mereka membantu untuk menetapkan faktor-faktor sosial seperti tingkat ekonomi, kelas, dan profesi yang dimiliki karakter. Mereka membantu memproyeksikan aspek psikologis karakter melalui menunjukkan selera (pakaian yang dipakai, kamar-kamar di mana karakter hidup, dan kesukaan).

  1. Tema

Tema adalah pokok pembicaraan atau gagasan. Brockett (1964) pun berpendapat sama dengan mengemukakan tema berfungsi sebagai titik fokus di sekitar peristiwa tertentu yang diorganisasikan. Meskipun sebuah drama mungkin memiliki sejumlah tema, biasanya ada satu yang dominan.

  1. Dialog

Dialog merupakan cara seoarang pengarang untuk mengungkapkan apa yang sedang ia fikirkan dan rasakan. Brockett (1964) mengatakan bahwa dialog merupakan alat utama dramawan dalam ekspresi. Karena itu, S. Effendi (Tjahjono, 1988) berpendapat bahwa ciri formal drama adalah dialog.

Drama Sebagai Karya Sastra

Drama mencakup dua bidang seni, yaitu seni sastra (untuk naskah drama) dan seni peran/pentas (pementasan). Sebuah naskah drama akan menjadi lengkap/utuh ketika dipentaskan. Drama dikatakan sebagai karya sastra karena media yang dipergunakan untuk menyampaikan gagasan atau pikiran pengarangnya adalah bahasa. Pendapat lain yang memperkuat kedudukan drama sebagai karya sastra adalah bahwa drama termasuk ke dalam ragam sastra karena ceritanya bersifat imajinatif dalam bentuk naskah drama (Zulfahnur. dkk, 1996: 23).

Jika dilihat dari segi bentuk tulisan, penulisan naskah drama sangat berbeda dengan karya sastra lainnya. Genre karya sastra dalam naskah drama memperlihatkan secara verbal adanya dialog antar tokoh-tokoh yang ada. Oleh karena itu, teks drama dibedakan menjadi teks utama dan teks pendamping.

Teks utama adalah percakapan antara tokoh yang dilakukan di atas panggung selama pertunjukan. Teks utama terdiri dari dialog dan monolog. Menurut Kabisch (1985: 43), dialog adalah pergantian percakapan antara dua orang atau lebih, pendeknya untuk mengembangkan alur dan karakter. Keahlian dan penguasaan kata yang dimiliki pengarang dalam membuat sebuah naskah drama, serta melakukan diksi pada dialog-dialog di dalam naskah oleh para aktor akan terlihat karakter-karakter yang sesuai dengan tokoh yang akan dilakoninya.

Sementara itu, disamping dialog terdapat monolog. Monolog adalah percakapan yang dilakukan oleh satu orang. Monolog memiliki peran sebagai penegas keinginan atau harapan dari tokoh terhadap suatu hal. Monolog bisa dalam bentuk berandai-andai, emosional, atau penyesalan yang dirasakan tokoh sesuai dengan alur yang sudah ada di dalam naskah. Berdasarkan penjelasan di atas, dialog dan monolog merupakan bagian dari teks utama yang merupakan salah satu unsur dalam drama. Tanpa adanya dialog dan monolog, drama akan menjadi tidak komunikatif dan pesan pengarang serta pembangun respon emosional tidak akan sampai.

Selanjutnya, terdapat teks pendamping yang memanfaatkan tidak kalah penting dengan teks utama. Teks pendamping berperan dalam membangun suatu drama, karena melalui teks pendamping inilah latar waktu, tempat, dan suasana drama dapat. Penggabungan peran fungsi dialog dan monolog ini yang menjadikan drama istimewa. Hasanudin, (1996:2) mengatakan bahwa, tanpa dipentaskan sekalipun, karya drama tetap dapat dijangkau, Hal dan dinikmati. Jadi, berdasarkan pengertian-pengertian di atas, jelas bahwa drama menguasai hakikatnya sebagai karya sastra.

Ikuti tulisan menarik Viny Khumairoh lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB