Pergolakan Kalimantan Barat - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Pergolakan Kalimantan Barat

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 29 Mei 2022 08:11 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Pergolakan Kalimantan Barat

    Buku karya Lin Shi Fang adalah salah satu (kalau bukan satu-satunya) yang menggambarkan kekerasan oleh negara yang terjadi setelah peristiwa G30S 1965 di Kalimantan Barat. Buku ini bisa melengkapi pengetahuan kita tentang kekerasan paska G30S 1965 di Indonesia. Apalagi peristiwa Kalimantan Barat ini seperti tersimpan rapat dalam guci yang dipendam di tanah.

    Dibaca : 1.244 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Pergolakan Kalimantan Barat

    Penulis: Lin Shi Fang

    Tahun Terbit: 2022

    Penerbit: Ultimus

    Tebal: xii + 236

    ISBN: 978-623-97148-3-3

     

    Kasus-kasus kekerasan paska peristiwa G30S 1965 telah banyak ditulis. Namun yang sudah ditulis kebanyakan berasal dari kejadian-kejadian di Jawa. Kalaupun ada kejadian dari luar Jawa, biasanya hanya meliputi Sumatra Utara dan Bali. Padahal kekerasan paska 1965 juga terjadi di daerah-daerah lain, termasuk Kalimantan Barat.

    Buku karya Lin Shi Fang adalah salah satu (kalau bukan satu-satunya) yang menggambarkan kekerasan oleh negara yang terjadi setelah peristiwa G30S 1965 di Kalimantan Barat. Jadi buku ini bisa melengkapi pengetahuan kita tentang kekerasan paska G30S 1965 di Indonesia. Apalagi peristiwa Kalimantan Barat ini seperti tersimpan rapat dalam guci yang dipendam di tanah.

    Buku ini menarik karena ditulis sendiri oleh sang pelaku. Lin Shi Fang adalah seorang guru yang terpaksa berhenti mengajar karena setelah peristiwa G30S 1965, sekolah-sekolah tionghoa ditutup. Selain menjadi guru, ia juga aktif di politik aliran kiri. Pada tahun 1967 ia bergabung dengan perjuangan politik anti Suharto sampai kemudian ditangkap pada tahun 1973 dan dipenjarakan sampai tahun 1979.

    Selain menulis berdasarkan pengalamannya sendiri, Lin Shi Fang juga mengumpulkan kisah-kisah dari para penyintas yang masih hidup. Ia mondar-mandir Jakarta – Kalimantan Barat untuk mengumpulkan kisah-kisah kekejaman yang dialami oleh orang-orang tionghoa pada masa setelah G30S 1965. Ia mendokumentasikan kekejaman yang terjadi di tahun 1966, 1967 dan 1968. Sedangkan penderitaannya bersama para tawanan dijelaskan juga dalam buku ini.

    Berbeda dengan kejadian-kejadian di Jawa, Sumatra Utara dan Bali, kekerasan yang terjadi di Kalimantan Barat sangat bernuasansa etnis. Ada upaya secara sengaja untuk menghubungkan isu pembersihan PKI dengan pengusiran orang-orang Tionghoa dari pedesaan di Kalimantan Barat. Pelaksanaannya pun didisain sedemikian rupa seakan-akan peristiwanya adalah benturan antarsuku. Padahal, dalam banyak kesaksian yang ditulis dalam buku ini, pelakunya adalah aparat pemerintah dan tentara.

    Lin Shi Fang memberikan latar belakang mengapa terbentuk laskar yang kemudian ingin dibasmi oleh Orde Baru. Di masa kampanye “Ganyang Malaysia,” Pemerintah Sukarno memfasilitasi terbentuknya Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) dan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS). PARAKU-PGRS dibina oleh seorang perwira Angkatan Darat, yaitu Brigjen Soepardjo yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Tempur IV Mandau. Kita semua tahu bahwa Brigjen Soepardjo akhirnya ditangkap oleh Suharto dan dihukum mati karena dianggap terlibat G30S 1965. Perubahan politik di Jakarta membuat dukungan kepada PARAKU-PGRS terhenti dan berganti dengan pengganyangan terhadap mereka-mereka yang terlibat karena dianggap sebagai anggota dan pendukung PKI.

    Dalam gerakan membasmi PKI di Kalimantan Barat, secara sistematis dilakukanlah politik anti-tionghoa. Maka dalam implementasinya, gerakan pembersihan ini menyasar kepada semua orang tionghoa tanpa pandang bulu. Orang-orang tionghoa di pedesaan mengalami perampokan, pengejaran, pengusiran dari desanya, penyiksaan, perkosaan, pembunuhan dan pembakaran rumah. Kekejaman yang luar biasa itu dilaporkan oleh para penyintas yang didokumentasikan oleh Lin Shi Fang.

    Mendapat perlakuan kekejaman yang luar biasa, orang-orang yang terlibat dalam PARAKU dan orang-orang tionghoa lainnya melakukan perlawanan. Mereka melakukan perlawanan frontal. Pada tanggal 13 Juli 1967, laskar menyerang Lapangan Udara Sanggau Ledo untuk merampas senjata. Para laskar yang melakukan perlawanan tersebut menggunakan hutan-hutan di Gunung Bara sebagai wilayah pertahanan. Sayangnya kekuatan mereka terlalu kecil dan belum sempat melakukan konsolidasi di tingkat rakyat. Setelah berjuang lebih dari 10 tahun perlawanan mereka akhirnya ditaklukkan. Pada tahun 1972 kekuatan mereka berangsur melemah karena pasukannya hancur lebur. Pada tahun 1974 Sofian, sang pucuk pimpinan gugur dalam penyergapan. Sisa laskar yang jumlahnya hanya puluhan, satu persatu kemudian tertangkap. Dua orang terakhir tertangkap pada tahun 1978 dan dipenjarakan.

    Lin Shi Fang memberikan ulasan yang mendalam tentang kekalahan cepat perlawanan yang dilakukan. Ada empath al yang menurut Lin Shi Fang membuat kegagalan perjuangan rakyat Kalbar melawan Rejim Suharto. Keempat hal tersebut adalah: 1. Kemerosotan perjuangan pembebasan di berbagai negara Asia Tenggara, 2. Penyakit kekiri-kirian para pimpinan, 3. Gerakan perlawanan kepada Suharto tidak terjadi secara nasional, dan 4. Kaderisasi yang berbasis hubungan pribadi daripada berdasarkan kemampuan bekerja.

    Di bagian akhir buku ini, Lin Shi Fang membuat daftar korban kekerasan yang dilakukan oleh rejim Suharto. Para korban ini disebutnya sebagai para pahlawan. Di daftar nama tersebut ternyata tidak semua beretnis tionghoa. Diantara mereka ada yang beretnis Banjar (Sofian) dan juga Jawa (Hasan, Umar dan Asan).

    Memoar Lin Shi Fang ini sangat berguna dalam penulisan sejarah paska G30S 1965, khususnya tentang peristiwa-peristiwa di luar Jawa. Sebagai sebuah memoar memang perspektif penulislah yang dominan muncul dalam buku ini. Namun data-data yang sangat kaya membuat buku ini tidak berkurang bobotnya sebagai sebuah sumber sejarah. Apalagi dokumentasi tersebut berasal dari sumber utama, yaitu para penyintas itu sendiri. 675

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 598 kali