x

Window of the World, Shenzen.

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 3 Juni 2022 05:41 WIB

Tidak Perlu Khawatir dengan Masa Depan

Ketika perekonomian dunia surut, rejeki surut, banyak orang yang khawatir dengan masa depannya. Tapi Rumi memotivasi kita agar tidak putus asa. Yakinlah masa depan justru lebih baik daripada masa lalu dan masa kini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tidak Perlu Khawatir dengan Masa Depan

Bambang Udoyono, penulis buku

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tidak sedikit orang yang khawatir ketika menatap masa depan yang terkesan penuh dengan ketidakpastian.  Apalagi ketika bisnis Anda surut atau bahkan terkena PHK. Lagipula situasi perokonomian nasional belum menunjukkan tanda yang menggembirakan.  Bagaimana menyikapinya?   Mari kita belajar dari seorang sufi bernama Maulana Jalaludin Rumi dari Turki. Dia memiliki sebuah quote menarik yang relevan dengan sikon kekinian.

 

“Don’t worry that your life is turning upside down.   How do you know that side you used to is better than the one to come?” (Maulana Jalaludin Rumi)  “Jangan khawatir dengan kehidupan Anda yang jungkir balik.  Bagaimana Anda tahu jika kehidupan yang dulu lebih baik daripada yang akan datang?”   Demikian arti kalimat mutiara dari Maulana Jalaludin Rumi sang sufi kondang dari abad ketigabelas.    Mari kita kembali membahas kata bijak dari Rumi karena saya kira ini sangat relevan dengan sikon kekinian.

 

Pandemi Covid 19 ini benar benar menjungkirbalikkan kehidupan banyak orang di seluruh dunia.   Diperkirakan ratusan juta orang dari berbagai sektor bisnis terpukul telak sekali.  Sektor pariwisata terpukul sangat  parah.   Orang travel, airline, hotel, destinasi wisata, rumah makan pendukung, cenderamata, transportasi wisata, pemasok besar sampai pemasok kecil terpukul semua.  Tanpa kepastian kapan akan bangkit,  para entrepreneur pariwisata pada pusing.  Tidak sedikit karyawan yang sudah dirumahkan dan tidak tahu harus berbuat apa. Sektor lain juga sama sama menderita.  Dalam keadaan demikian mari kita simak saran Rumi.

 

Rumi menyarankan kita semua untuk menata hati dan perasaan agar kita jangan kuatir.  Menurut Rumi keadaan yang lalu belum tentu lebih baik daripada yang akan datang.    Saya melihat kebenaran pandangan Rumi ini.  Sebagai cendekiawan dan sufi pastilah dia sudah mengkaji dengan seksama wahyu Allah swt.  Saya yakin dia menemukan bahwa Allah swt tidak menganiaya mahluknya sedikitpun.  Semua bencana yang menimpa manusia adalah akibat dari ulah manusia sendiri. 

 

Allah swt itu bersifat kasih sayang.  Selain itu juga berkuasa mutlak atas segenap alam raya.  Jadi segala kejadian tidak luput dari pantauannya.  Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa tidak ada selembarpun daun jatuh yang lolos dari pantauan Allah swt.  Apa artinya ?  Ke mana arahnya wacana ini?  Demikian mungkin Anda membatin. 

 

Saya mengira Rumi sedang mengajak kita agar pikiran kita tidak hanya terikat di masa lalu tapi menatap masa depan dengan optimistis.  Memang benar bisnis kita surut atau bahkan bangkrut.  Mungkin Anda  dirumahkan.  Akibatnya kita semua menjadi prihatin.  Tapi apakah Anda yakin   keadaan di masa lalu itu lebih baik daripada di masa depan?  Bukankah masa depan adalah misteri?  Jangan lupa bahwa Allah adalah pemberi rejeki.  Jadi optimistis sajalah.  Bahwa di masa depan akan ada juga rejeki.  Mungkin tidak sama bidangnya dan jumlahnya dengan masa lalu. 

 

Dengan cara menyikapi yang benar Anda bisa saja menemukan dua keuntungan.  Pertama menemukan sumber baru kedua menemukan pencerahan.  Temuan kedua ini mesti dibarengi langkah spiritual dengan mendekatkan diri kepada Allah swt. 

 

Pariwisata mungkin akan butuh waktu beberapa tahun untuk bangkit seperti semula.  Sekarang sudah ada sih negara yang berani membuka diri seperti Turki, Dubai, Afrika Selatan, Indonesia dll.  Tapi masyarakat Indonesia masih banyak yang bersikap menunggu situasi aman dulu.  Sementara ini wisata maya (virtual tour)  sudah mulai berjalan, meskipun masih belum bisa menjangkau unsur wisata lain non travel seperti transportasi dll.

 

Jadi tiba saatnya kita mencari alternatif kegiatan sembari menunggu bangkitnya sektor pariwisata.  Memang tidak mudah mencari kerja baru atau usaha baru di tengah resesi.  Tapi lebih baik berupaya daripada diam saja.  Kalau kita aktif berupaya maka kita memiliki dua kemungkinan – yaitu gagal atau berhasil.  Tapi jika kita diam saja maka kita hanya memiliki satu kemungkinan yaitu tidak berhasil.  Pilih mana ?

 

Selain itu manusia juga harus berbaik sangka kepada Allah swt.  Semua  ujian dari Allah tidak sia sia.  Semua itu untuk meningkatkan kualitas manusia.  Tentu saja tergantung manusia sendiri menyikapinya bagaimana.  Rido , iklas, sabar adalah salah satu kuncinya. 

 

Untuk mereka yang memiliki kompetensi bahasa asing yang bagus seperti para pramuwisata dan tour leader bisa mencari peluang sebagai penerjemah naskah di beberapa website yang menyediakan layanan tersebut.  Di sana ada banyak sekali lowongan pekerjaan free lance.  Tidak hanya penerjemah saja.  Selain itu masih banyak peluang rejeki di dunia maya. Sila googling  dan optimistislah bahwa masa depan justru akan lebih baik daripada masa lalu.  Sikap optimistis adalah berbaik sangka kepada Allah swt.

 

Jadi pertama menata hati dulu. Tanamkan sikap optimistis. Kedua langkah spiritual berupa memohon petunjukNya. Ketiga upaya nyata dengan mencari lowongan kerja di websites yang menawarkan banyak pekerjaan lepas (free lance).  Langkah keempat terus menerus meningkatkan kompetensi. Pelajari ketrampilan baru.

Suatu saat nanti insya Allah akan ada pertolongan Allah.

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu