Aku Memilih Sendiri (Bagian 3) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar: Google, Ilustrasi: Canva

Regina Nikijuluw

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Rabu, 8 Juni 2022 14:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Aku Memilih Sendiri (Bagian 3)

    Perang di dalam batinku mulai mengaum-aum, “Jangan terbawa perasaan. Hati-hati, bangunanmu nanti hancur lagi dan kamu akan lebih susah mendirikannya.”

    Dibaca : 635 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Menjaga Benteng

    Dua tahun sudah berlalu. Kenangan masa lalu tertanam dalam. Aku tidak mau lagi terkecoh. Aku menyesal menjadi Helaha, wanita bodoh yang tenggelam di dalam buaian wajah rupawan, badan tegap dan mata indah. Aku memupus semua mimpi indah dan tidak akan terbius oleh bibir manis dan wajah rupawan. Aku kembali pada tekad masa kecilku – tidak mau menjadi seperti nenek dan ibu.

    Aku memilih kuliah di Teknologi Informasi. Area yang hampir sepenuhnya dihuni oleh kaum lelaki. Pelajaran yang ditakuti oleh kamu wanita karena ada perasaan tidak piawai, ada ketakutan dunia itu bukan milik wanita.

    Aku tidak akan kalah dari mereka. Aku akan tunjukkan wanita itu mampu, bukan kaum lemah.” Tekad yang sempat surut dan hancur berkeping-keping bagaikan kaca. Keteguhan hati yang aku bangun kembali. Aku menumpuknya satu per satu, hari demi hari, menjadi benteng kekuatan untuk melangkah.

    Kampus di Bintang tempat aku menempuh sarjanaku sebagian besar berisi kaum lawan jenisku. Mereka berambut gondrong, bergaya seperti utama dan kadang memandang rendah kaumku. Aku memupuk keyakinan bahwa itu akibat dari didikan yang mereka dapatkan. Mungkin penggemblengan jaman dahulu dari orang tua yang masih menganggap bahwa wanita bekerja di dapur, dunia wanita bukan di teknik.

     “Eh kamu, ayo ikuti gerakan sama seperti yang lain. Di sini tidak ada perbedaan, jangan lembek!” Suara keras dari senior tepat di telingaku pada saat kegiatan pengenalan mahasiswa baru dilaksanakan.

    Dunia kuliah aku jalankan dengan santai dan mudah. Kebiasaan aku mendahului membaca semua buku panduan sangat menolong. Aku menjadi mahasiswi terpandai di angkatanku. Di waktu senggang, aku tetap menjalankan kegiatan mengajar anak sekolah menengah atas. Di kampus aku menjadi idola dan sering diminta untuk membantu teman seangkatan aku, semua jenis.

    Kecakapan dan keunggulan aku tidak terlewat dari mata para senior. Di semester kedua, Senat Mahasiswa sering mengundang aku menjadi panitia dari kegiatan yang dijalankan. Mungkin kelebihan pada pelajaran membuat mereka menandai dan mencatat keberadaan aku.

    Nandang, Ketua Senat Mahasiswa, mahasiswa tingkat empat, merupakan salah satu yang terus melirik aku. Bahkan, di tahun kedua aku, dia memilih aku menjadi Wakil Ketua Senat untuk bagian informasi dan kemahasiswaan menggantikan ketua yang lama karena dia pindah ke luar pulau.

    Posisi yang selama ini ditempati oleh kaum lelaki dan khusus mahasiswa minimal di tahun ketiga. Kadang aku tidak kuasa untuk membusungkan dadaku karena prestasi itu. Tanggung jawab itu menggiring aku untuk sering berkomunikasi dengan Nandang.

    “Helaha, jangan lupa kamu rapikan jadwal kegiatan kita dan mulai membagi tugas untuk acara Pekan Daya Cipta Inovatif mendatang,” serunya di satu rapat pengurus Senat. 

    Kampus kami setiap tahun mengadakan kegiatan pekan daya. Biasa undangan disebar ke semua kampus yang memiliki jurusan teknologi. Aku menjadi ketua panitia. Kedudukan yang baru pertama kali di pegang oleh wanita.

    Tidak dapat aku ungkiri, Nandang memang memiliki pesona yang menarik gairah kaum wanita. Dia memiliki kulit putih bersih, wajah mulus dan badan tinggi tegap karena olahraga voley dan basket yang ditekuninya.

    Dia adalah andalan kampus kami. Setiap kali lomba antar kampus, Nandang ada di sana. Semua wanita, tidak hanya dari kampusku, akan berteriak dengan gelora seakan ingin melahapnya. Dia juga mahasiswa teladan karena prestasinya yang baik. Aku menahan diri dan menguatkan benteng yang aku bangun. Aku tidak mau jatuh lagi.

    Siang itu, dengan peluh mengucur deras dari badannya karena baru saja menyelesaikan latihan basket, Nandang menarik tanganku, “Helaha, mari kita keluar dari hall ini. Kita diskusi mematangkan persiapan kegiatan pekan daya.”

    Pertama kalinya Nandang menggandeng tanganku. Entah mengapa, sentuhan tangannya tiba-tiba menciptakan aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuhku. Aku agak gelagapan karena tidak siap dengan undangannya. Sambil menarik tas ranselku, berlari mengikutinya.

    “Bagaimana semua rencana yang sudah dilakukan?” seraya menyeruput satu botol minuman mineral, duduk di samping aku, Nandang memulai diskusi kami.

    “Semua sudah di jalurnya Kak,” aku menimpali dengan membalik-balikkan buku catatanku. Di saat yang sama, aku masih berjuang melawan kekagetan aku dan menghentikan aliran listrik di dalam jiwaku.

    “Aplikasi pendaftaran sudah disiapkan Sutresna. Undangan ke kampus-kampus sudah siap oleh Titis dan rencananya mulai besok akan disebarluaskan. Juri sudah dihubungi dan mereka semua mengkonfirmasi,” lanjutku sambil terus memandangi buku catatanku. Padahal semua sudah ada di kepalaku tetapi hari ini aku tidak kuasa menatap matanya.

    Perang di dalam batinku mulai mengaum-aum, “Jangan terbawa perasaan. Hati-hati, bangunanmu nanti hancur lagi dan kamu akan lebih susah mendirikannya.

    Memang, kejadian Victor, walau sudah tiga tahun lebih berlalu, masih membekas dalam. Aku belum sepenuhnya berdiri tegak. Bentengku masih aku tata untuk menguatkan aku. Perjuangan yang aku lakukan sendiri karena aku tidak mau menyusahkan nenek, ibu dan Hermana. Peperangan yang aku lakukan karena pendek pikiran aku saat itu.

    “Baiklah! Saya yakin kalau kamu sudah tangani pasti semua lancar. Terima kasih banyak ya Helaha. Saya sangat beruntung memiliki kamu,” apresiasi yang diucapkan dengan menepuk pundak dan tanganku. Gerakan yang kembali membuat badanku panas dingin dan kepala terasa berat karena perang yang terjadi dalam diri. Jiwa membumbung sementara logika memberontak.

    “Helaha,” tiba-tiba suaranya menjadi halus, pelan dan mendesah. Aku menorehkan kepalaku dan mata kami berpadu. Nandang memandang tajam. Aku semakin merasa ketakutan, aku tidak mau apa yang ada dalam pikiranku terjadi. Rasa tidak yakin dan tidak siap cukup mendalam di diriku.

    Serempak dengan helaan nafas yang keluar dari mulutnya dan tarikan menggenggam erat tanganku, “Selama ini, aku belum pernah mempunyai teman wanita seperti kamu. Kecerdasanmu, ketangkasanmu, kepiawaian dalam mengatur dan segala hal yang kamu lakukan dan miliki.”

    Aku kalah dan menundukkan kepala. Matanya terlalu tajam mengganggu benteng yang sudah aku atur. Suaranya menggertak jiwa yang sudah aku tidurkan semenjak kejadian Victor. Tanpa aku sadari, badanku menggigil pelan.

    Ya sudahlah kalau kamu memang yakin, asalkan jaga bentengmu, jangan sampai hancur lebur. Jiwamu jangan sampai mengalahkan tekadmu,” kembali suara itu memberi nasihat, mengingatkan aku.

    Ternyata Nandang adalah lelaki yang sangat pengertian. Aku menceritakan kisah hidupku sepenuhnya. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan sangat menghargai kejujuran aku.

    Dari awal aku sudah dikenalkan dengan keluarganya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil saat bertugas ketika Nandang di Sekolah Dasar. Dia mempunyai dua orang adik, satu lelaki, Prawira, dan adik bungsu wanita, Kania. Ibunya, Suraghadini, keturunan ningrat dan cukup berada.

    Ketika aku mengajaknya bertandang ke rumahku, masih petak yang sudah menjadi tiga kamar, satu untuk Hermana, dengan sedikit renovasi menjadi dinding batu dari hasilku mengajar, Nandang tidak menunjukkan keraguan. Dia malah sering membantu nenek menyiapkan nasi kuning. Kadang dia menawarkan nasi kuning kepada teman-teman di kampus. Rasa kebanggaan tidak bisa aku tutupi melihat perbuatan Nandang.

    “Terima kasih banyak ya Kak sudah banyak membantu kami,” rasa syukur yang aku ungkapkan kala kita berdua di rumah Nandang.

    Seluruh keluarga sedang pergi ke luar. Nandang mengangkat mukaku dan mengecupku lembut. Ciuman yang membakar gelora di dalam diriku. Tanpa aku sadari, aku berpasrah diri. Nandang melucuti aku perlahan-lahan. Dia mengelus aku dengan lembut. Kami bergelut di atas kasurnya. Gairah yang selama ini aku pendam karena trauma Victor yang terus mengikuti. Aku terlena dalam pelukannya.

    Namun suara itu terus berbisik, “Hati-hati Helaha. Jangan kamu lengah. Tetap kuatkan dirimu.” Teguran yang terus mengampu kekuatanku. Tuturan yang menyentil teratur supaya aku tetap merawat benteng kekuatanku.

    Perjalanan kami berlalu dengan mulus, bahkan terlalu mulus. Saling pengertian antara kami membuat batas di antara kita berdua tidak kentara. Sikap acuh Nandang dan tidak pedulinya aku pada pandangan iri para wanita melancarkan hubungan kami. Aku menjadi yakin bahwa dia memang pilihan hidupku. Dia memang sudah menyatu dalam kehidupan masa depanku. Aku memimpikan kami berselancar mengarungi lautan kehidupan.

    Aku yakin sekarang aku tidak salah lagi. Aku bukan Helaha bodoh yang dulu.” Keteguhan mendalam di jiwaku.

    Tahun terakhir kehidupan Nandang di kampus kami. Dia menjalankan tugas skripsinya di Jakarta. Pertemuan kami menjadi berkurang. Surat selalu aku layangkan kepadanya walaupun tidak selalu dibalasnya. Kami berkomunikasi melalui telepon rumah yang sudah aku pasang di rumah dan aku bayar dari biaya mengajar. Suara dering yang selalu aku nantikan, terutama di Hari Sabtu sore.

    “Hai Helaha!” suara yang sangat aku kenal. Sapaan yang menghiasi mimpi malamku. Kemerduannya menghantar aku untuk duduk tenang di muka telepon dan menandaskan soreku. Pembicaraan berlalu beberapa jam menghapus segala rindu dan gelora di dada. Aku terbuai. Tidak ada lagi suara yang menggangguku. Hanya Nandang yang selalu menari indah ke dalam jiwa.

    “Gimana kabar kamu? Maaf ya aku sibuk sekali dengan segala urusan penelitian dan pengambilan data. Aku jadi sulit mencari waktu menelepon dan menjawab surat-suratmu,” kembali Nandang terdengar dan mengembalikan aku ke alam nyata.

    “Tidak apa-apa Kak. Saya tahu, Kak Nandang pasti sibuk sekali dengan segala urusan skripsi. Kakak harus dapat nilai terbaik,” balas aku karena aku yakin Nandang pasti mengejar yang terbaik. Dia tidak pernah main-main dengan pembelajarannya.

    “Kegiatan di kampus juga padat, aku diminta Pak Agung untuk menjadi asisten dosen. Lumayan Kak bisa menambah uang bulanan,” aku memulai ceritaku. Terselip rasa kebanggaan dalam diriku. Posisi asisten dosen sangat jarang ditawarkan pada mahasiswi.

    “Kamu memang hebat, Helaha. Saya juga dengar kamu calon kuat untuk jadi Ketua Senat. Berjuang terus, jangan ragu melangkah,” apresiasi Nandang yang tulus selalu mengangkat aku dan mendorong aku lebih bersemangat.

    “Terima kasih Kak! Memang saya mengejar posisi Ketua Senat supaya saya tercatat sebagai wanita pertama yang jadi Ketua Senat,” sambil tertawa penuh canda aku menanggapinya.

    Enam bulan berlalu, aku menghitung hari. Semakin dekat waktu Nandang kembali untuk menyampaikan skripsinya. Sementara aku sudah menempati posisi Ketua Senat. Rasa rindu menguak lebar, aku mendambakan pelukannya, kecupannya dan elusan lembut tangannya.

    Dering telepon menggaung di rumahku. Aku mengangkat badan dari tidur siangku dan berjalan mengangkatnya, “Halo, selamat sore.”

    “Hi Helaha!”

    “Eh Kak Nandang! Sudah di Bintang, Kak?” aku terperanjat mendengar suara dari seberang.

    “Iya Helaha. Aku sebenarnya sudah satu minggu kembali tapi di rumah terus menyelesaikan skripsiku. Maaf Helaha, aku membutuhkan waktu sepi.”

    Penjelasan yang membuat aku keheranan dan berpikir panjang, “Satu minggu kembali dan tidak memberi kabar? Ah mungkin memang Kak Nandang sibukEh tapi sibuk sampai tidak telepon” Kembali suara berkecamuk. Suara yang lama hilang dari kepalaku. Peringatan yang selalu mengajak aku kembali pada logika.

    “Tidak apa, Kak. Aku mengerti, Kak Nandang pasti sibuk sekali. Sukses, Kak! Kalau sidang aku ingin hadir di samping Kak Nandang ya,” dengan cukup lancar aku meresponsnya di tengah kejanggalan berputar di kepala.

    Tugasku sebagai asisten dosen memberikan akses melihat data mahasiswa. Tentunya hal pertama aku lakukan, pada awal minggu sesudah pembicaraan di telepon  itu, adalah mengecek jadwal skripsi Nandang. Keanehan pembicaraan di telepon terngiang keras.

    Aku sudah membodohi diri, terbius dalam jiwa yang merindu dekapan lelaki. Tetapi aku tidak mau jatuh ke dalam jurang gelap dan dalam seperti dulu. Aku masih menjaga bentengku walaupun tidak setegas dulu. Bangunan itu mungkin sedikit rusak karena kejanggalan Nandang namun tidak hancur.

    Layar kaca monitorku menunjukkan jadwal sidang Nandang adalah malam ini. Merenung aku menatap layar, “Mengapa Nandang tidak menginformasikan aku? Keluarganya juga tidak bilang.”

    Ingin rasanya aku menepuk keras kepalaku. Namun penyesalan tidak ada artinya. Aku bukan Helaha yang lemah dan terpuruk dengan tipu daya. Aku mengatur rencana untuk malam ini. Bukan pembalasan yang ada di kepalaku namun ketegaran harus aku tunjukkan.

    Hari itu, aku menyibukkan diri di ruang dosen. Aku menyampaikan alasan butuh waktu untuk mempersiapkan bahan ujian. Jam yang bertengger di dinding mungkin lelah dengan pandangan mata aku yang berulang. Aku tidak sabar menunggu waktunya. Aku masih merasa janggal tidak ada pemberitahuan dari Nandang dan seluruh keluarganya tentang sidangnya.

    Jawaban yang langsung aku dapatkan saat aku lihat Nandang keluar dari ruang sidang. Waktu hampir menunjukkan pukul 3 pagi.

    Senyum lebar Nandang menandakan keberhasilannya. Aku memandangnya di kegelapan tempat parkir mobil dengan kebanggaan menyembul di dada.  Namun aku masih menahan diri. Tidak berapa lama, seorang wanita cantik, anggun, berambut lurus sebatas bahu memeluknya senang. Seorang yang belum pernah aku lihat kehadirannya. Adiknya dan ibunya tidak tampak di sekitar Nandang, hanya wanita itu.

    Di kegelapan malam, dengan lampu remang di parkiran, aku menghampiri Nandang dan mengayunkan tangan memberi selamat, aku berucap dengan nada tegas, “Selamat ya Kak!”

    Kehadiran yang mengenyakkan Nandang. Kentara bahwa dia tidak menyangka keberadaan aku. “Eh Helaha… hmmm… terima kasih sudah hadir. Perkenalkan ini Angelica. Dia anak pemilik perusahaan tempat aku mengerjakan skripsiku.”

    Terlena dan terbuai memang terjadi tanpa bisa ditahan,

     Tetapi kali ini benteng tetap teguh dan sudah terbangun,

    Benteng yang oleh logika tetap terjaga dan bertahan,

    Pembelajaran hidup sudah terjadi tidak bisa dihapuskan,

    Bukan saatnya penyesalan melainkan melangkah ke depan.

     

    (Bagian 4: Tamat)

    *****

    Ikuti tulisan menarik Regina Nikijuluw lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali