x

ilustr: David Wolfe

Iklan

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Minggu, 12 Juni 2022 10:15 WIB

Membebaskan Diri Dari Asumsi

Tantangan semangkin berat, jadi kita harus terus menerus mengembangkan diri. Asumsi, persepsi, anggapan adalah kendala yang harus diatasi. Susah susah gampang memang, Bagaiman caranya? Sila baca terus.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

Ketika kita berupaya mengembangkan diri, ada baiknya menyadari bahwa asumsi, persepsi, anggapan adalah  kendala. Bagaimana mengatasinya?

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

If people misunderstand you, it is your voice that they hear but what goes to their mind is their own thought.  (Maulana Jalaludin Rumi)  Kalau orang salah paham tentang kamu, suaramu yang mereka dengar tapi yang masuk ke pikiran mereka adalah pikiran mereka sendiri.  Tepat sekali kalimat Rumi itu.    Sering sekali saya melihat kejadian persis seperti itu.  Orang mengatakan A tapi ternyata yang masuk ke pikiran orang lain adalah B.    Tidak jarang saya terkejut dengan tafsiran orang yang benar benar di luar dugaan saya.  Ada dua kasus yang sebenarnya sepele tapi berkesan.

 

Suatu hari di sebuah perhelatan saya mendengar obrolan dua anak remaja.  Mereka bersaudara tapi karena terpisah jarak maka baru saat itu mereka bertemu dan berkenalan.  Dengan cepat mereka menjadi akrab dan ngobrol ngalor ngidul.    Sorenya saya mendengar salah satu  anak remaja itu menceritakan ke ibunya tentang kenalan barunya yang juga saudara jauhnya.  Dia katakan bahwa si A tadi sebenarnya ingin ke kota mereka tapi tidak punya uang.  Saya terkejut mendengar reaksi si ibu yang menafsirkan bahwa kenalan baru itu meminta ditraktir berwisata ke kota mereka.  

 

Selain itu saya mendengar cerita seseorang bernama Pak Joko.  Pada sebuah kesempatan dia bersama istrinya berkunjung ke rumah seseorang karena mendengar saudaranya itu baru saja pulang dari rumah sakit.  Ketika  di rumah sakit dia belum sempat menengok maka ketika ada waktu luang dia mengajak istrinya menengok sembari berniat menyerahkan sebuah buku tentang kesehatan.  Niatnya baik, menengok, mendoakan orang sakit sembari memberi buku, barangkali buku itu ada manfaatnya buat dia yang kondisi kesehatannya kurang baik.    Di ruang tamu sebelum mereka ngobrol panjang lebar si tuan rumah mengatakan sedang tidak punya uang.  Tidak lama kemudian dia masuk akan mengambilkan minuman.

 

Saat itulah istrinya berbisik, kasihan dia tidak punya uang.  Pak Joko berbisik lagi ke telinga istrinya bahwa kalimat tadi artinya jangan pinjam uang, alias dia curiga kedatangan mereka bermaksud meminjam uang.  Istrinya terkejut sekali karena sama sekali tidak menduga pikiran dia seperti itu.   Kedatangan mereka bermaksud menengok orang sakit, mendoakan dan memberi buku.  Bukan bertujuan pinjam uang.

 

Dua kejadian itu menunjukkan bahwa kalimat kita bisa ditafsirkan bermacam macam tergantung kondisi hati dan pikiran si penerima.   Si penerima sudah memiliki asumsi dulu terhadap lawan bicaranya.  Mungkin dia merasa lebih makmur sehingga merasa curiga bahwa orang lain memiliki niat menghendaki hartanya.  Asumsi awal ini mempengaruhi persepsinya.    Jadi apa yang masuk ke pikirannya adalah asumsinya sendiri sebenarnya. 

 

Dalam kasus pertama tadi saya yakin si A tidak sedang meminta ditraktir berwisata ke kota si B.  Lalu dalam kasus kedua, Pak Joko yang berniat baik menengok orang sakit sembari memberi buku malah dicurigai akan meminjam uang.

 

Ternyata mendengarkan bukan perkara mudah, meskipun tidak ada masalah di telinga dan  tidak ada masalah bahasa.  Masalahnya ada pada asumsi, anggapan kita, pandangan kita terhadap orang.  Jika pikiran kita sudah terisi dulu dengan asumsi, opini, kecurigaan, maka informasi yang masuk akan disaring.  Unsur itu tadi menjadi filternya.  Akibatnya apa yang masuk ke pikiran adalah bias dari apa yang kita dengar.  Saya kira itulah sebabnya orang awam sebaiknya tidak menafsirkan Al Qur’an.  Tafsir sak karepe dewe, semaunya sendiri, tanpa ilmu yang mumpuni sangat berbahaya karena bisa menyesatkan.   Jadi ikuti saja tafsir ulama.

 

Kejadian semacam ini saya yakin terjadi di semua bidang.  Baik di kehidupan pribadi, di bisnis, atau di politik.  Kemampuan mendengarkan ini sangat penting dalam semua bidang agar kita mendapat informasi yang akurat, yang tidak bias, tidak terdistorsi.  Pertanyaannya, bagaimana kita menjadi pribadi yang lebih baik agar bisa mendengarkan dengan baik, dengan seutuhnya, tanpa distorsi?

 

Jawabnnya mudah disebutkan tapi susah dilaksanakan.  Melihat diri sendiri, mengevaluasi diri sendiri, mulat sariro.  Memeriksa kembali asumsi, opini kita yang sudah mendarah daging.  Banyak membaca akan sangat membantu. Demikian juga diskusi.  Dengan cara ringan saja.  Bisa lisan bisa chatting via medsos.   Selamat mengaca diri.  Semoga Anda bisa terbebas dari asumsi yang menyesatkan.

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu