Dia Tujuan Bukan Pilihan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

seprimaa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Juni 2022

Rabu, 15 Juni 2022 15:20 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Dia Tujuan Bukan Pilihan


    Dibaca : 608 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada sebuah garis waktu yang terus melangkah maju, akan ada saatnya aku bertemu dan mendapatkan sesuatu yang mampu mengubah hidupku untuk selamanya. Kemudian sesuatu itu akan menjadi bagian terbesar dalam agenda hidupku. Jelasnya tak ada pilihan untuk hatiku kecuali jatuh cinta, biar saja logikaku terus berkata bahwa risiko jatuh cinta adalah terjerumus di dasar nestapa.

    Pada sebuah garis waktu yang terus melangkah maju, aku tau akan ada saatnya aku terluka dan kehilangan pegangan sebab jatuh cinta. Logikaku kini berkata bahwa cinta yang kali ini aku rasakan bukanlah cinta yang membuatku kehilangan arah dan ingin melompat jauh untuk kembali pada titik-titik masa lalu.

    Cinta ini adalah misteri, yang datang secara tiba-tiba. Mungkin kisah ini yang bisa aku angkat dan ku sebut ini adalah cinta pertama ku, Mungkin aku tidak pernah berjumpa denganmu namun ketika mendengar namamu dari mulut orang lain hatiku bergerak cepat. tidak ada yang aku rasakan kecuali penasaran.

    “Hey kau, yang memporak-porandakkan seisi jagad rayaku, dengan cara termanis, kau memintaku untuk merasakan dan mensyukuri segala hal yang akupun tak tahu sampai kapan ini berakhir”. 

    Arraayah, iya sejak kali pertama aku mendengar namamu tak ada yang aku ragukan bahkan hati ini seakan memberontak meminta agar aku bisa menemuimu, bukan hanya sekedar menemui namun menjadi bagian dari surga dunia itu. Sebuah tempat yang terletak di tanah Sunda, tanah dimana aku tidak pernah menginjakkan kaki selama 19 tahun aku hidup didunia ini.

    Sebut saja namaku Zaa, aku adalah seorang perempuan yang mungkin bisa dibilang bahwa aku tak pernah merasakan jatuh cinta pada apapun dan siapapun itu. Saat itu aku duduk di bangku Madrasah Aliyah setelah melewati beberapa ujian termasuk ujian Al-Qur’an yang menurut sebagian santri adalah ujian yang paling mengerikan. Seketika itu aku mendapat cerita dari ibuku bahwasannya teman ku diterima di salah satu universitas favorit. Akupun mengambil keputusan bahwasannya ibupun menginginkanku untuk mengikuti jejaknya.

    “Universitas berbahasa arab? ArRaayah? ah mana mungkin aku kesana, aku kan gabisa bahasa arab?terus gimana cara biar bisa masuk sana? Tesnya juga pasti susah kan? ” tanyaku pada seorang kakak yang sejak tadi duduk di depanku dengan gamisnya yang berwarna hitam dilengkapi peci yang menutupi rambut hitamnya itu. Beliau adalah kakak kelas sekaligus ustadzku. Banyak hal yang beliau ceritakan tentang ArRaayah, seperti yang aku ucapkan, aku terpesona dengan tempat itu seakan ada energi positif yang menarik ku untuk segera berkecimpung didalamnya. 

    “Bisa dong, jangan bilang gak bisa kalau belum berusaha tsiqy billah, terus jangan lupa usaha sama doa,” ucap kakak itu dengan pandangan menunduk tanpa melihat ke arahku sedikitpun. “Emmm… terus apa lagi yang harus aku lakukan?” tanyaku lagi. “Belajar sungguh-sungguh, banyakin berdoa, serahin semuanya sama Allah “jawabnya dengan lembut.

    Semua hal telah aku persiapkan termasuk harus belajar bahasa arab yang aku sendiri tidak menyukai pelajaran tersebut,tapi mau tak mau aku harus bisa berkecimpung disana demi orang tuaku. Sudah satu minggu aku dirumah, hari ini adalah hari dimana aku harus mengikuti tes dan interview di pulau seberang, namun entah mengapa aku merasa bahwasannya ada sesuatu yang tidak beres. Hal ini telah lama membuatku berpikir keras, ternyata ada perbedaan antara ayah dan ibuku. Aku teringat ucapan ibu yang saat itu dia memintaku untuk menolak melanjutkan sekolah di ArRaayah akupun menyetujui namun tidak untuk hatiku. Aku bimbang dan bingung disisi lain ibuku tak menginginkan namun disatu sisi ayahku telah berjuang untuk mendaftarkanku di tempat itu. “Yaa Allah. Aku terima apapun yang telah menjadi takdirku,” gumamku.

    22.00 WITA 
    “Kak, segeralah berkemas sebentar lagi kita akan berangkat, tak apa, tak usah khawatirkan ibumu seiring berjalannya waktu dia akan rela anaknya pergi menuntut ilmu” ujar ayah menenangkanku.
    “Tidak yah, biar bagaimanapun aku harus melihat senyuman keikhlasan dari ibu,” ucapku yang entah mengapa buliran air kini keluar dari mata pelupuk mataku.
    “Pergilah, nak, ibu merestuimu. Fii amanillah dan semoga berhasil,” ucapnya sambil membawa tas yang berisikan bajuku dan ayah. 

    00.00 WITA
    Dingin malam kini menusuk tulangku. Wahai hujan yang menjamah bumi, dinginmu masih terasa walau kau telah usai. Aku melihat seorang lelaki paruh baya tertidur lelap karena kelelahan tak sampai hati aku mengganggunya walau sekedar untuk meminjam handphone miliknya. Perjalanan lima jam diatas kapal menurutku bukanlah perjalanan yang singkat, perjalanan malam hari disertai ombak-ombak yang terus mengajak kapal ku ini menari. Mengerikan. Seakan kapal yang kami tumpangi ini sudah tak mampu mengarungi dinginnya malam disertai gelombang yang sangat mengerikan itu. Aku terus memandangi luasnya lautan,hitam, gelap, serta sangat menakutkan. Tanpa tersadar akupun tenggelam dalam lamunan yang sangat dalam dan mengakibatkanku tertidur pulas.

    05.00 WITA 
    “Ayah, rupanya kita akan segera sampai” ucapku sambil membersihkan sampah yang berserakan. Tanpa berlama-lama ayah menarikku untuk segera turun kelantai bawah. Welcome Lombok ini adalah kali pertama aku menginjakkan kakiku. 

    Sedikit kujelaskan tentangnya, Pulau Lombok merupakan pulau terbesar di gugusan kepulauan di Provinsi NTB. Di sini terdapat 5 wilayah administratif pemerintahan: Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Utara, dan Kabupaten Lombok Tengah. Pulau ini hanya berjarak sekitar 5 jam perjalanan dengan menggunakan kapal feri dari Pulau Bali. Lombok disebut juga Kota Seribu Masjid. Mayoritas penduduk di pulau ini beragama Islam. Masjid sangat mudah ditemukan di sini, jarak antar masjid hampir berdekatan. Jadi jika ingin ke Bali jangan lupa pergi ke Lombok begitupula sebaliknya. 

    Baiklah kembali ke ceritaku. Setelah turun dari kapal, kita mecari masjid terdekat tepatnya untuk menunaikan sholat fajr setelah itu aku dan ayah melanjutkan perjalanan. Satu diantara kita tidak ada yang memikirkan tentang sarapan pagi iya, itu karena ayahku sudah kenyang katanya. Jangan ditanya tentangku, taka da yang mampu aku makan saat itu karena aku merasa mual sejak mulai turun dari kapal, iya,ombak-ombak yang menyeramkan itu membuat perutku terkocok. Ayah menawarkan teh hangat kepadaku yang kemudian aku harus cepat meminumnya. Gelapnya jalan kita telusuri hingga matahari terbit namun perjalananku tak kunjung usai. Lelah, sejujurnya aku tidak tahu berapa KM jarak dari pelabuhan menuju tempat muqobalah. Aku hanya terdiam duduk dibelakang ayah yang entah kearah mana beliau membawa pergi motornya itu.

    “Kak, coba liat GPS nya, ayah rasa kita sudah berkali-kali melewati tempat ini,” ujar ayahku sembari menyodorkan handphonenya kepadaku. Jujur saja saat itu aku tidak bisa dan belum mengerti bagaimana cara membaca GPS, tak ada yang aku lakukan kecuali menunggu isyarat dari ayah terkadang akupun membuka youtube untuk menonton tutorial membaca GPS. Mungkin bagi orang selainku ini adalah hal yang mudah tapi tidak untukku mungkin apa karena aku yang tidak pernah memakai handphone android sejak kecil. Berbicara tentang handphone sejak kecil aku tidak pernah memiliki handphone android layaknya teman-teman ku, walau begitu aku tetap bersyukur dengan apa yang aku miliki walau kegunaanya hanya untuk mengirim SMS dan mengangkat telpon tapi sangat menarik di handphone ini ada sebuah permainan yang mungkin jarang dimiliki handphone android yaitu ular yang dia akan mati jika dia memakan dirinya sendiri. Great. Kembali kepada kisah sebelumnya. Baiklah rupanya ayahku telah lelah menyuruhku untuk membaca GPS Namun nihil hasilnya. Kira-kira sudah lima kali kita memutari dan melewati hutan ini.

    Kini jarum jam menunjukkan Pukul 06.30 WITA.
    “Ayah, kayaknya bakal telat interviewnya nih”ucapku dengan penuh kekhawatiran. 
    “Iya, sebentar lagi juga sampai. Sabar ya” jawab ayahku yang membuatku sedikit tenang.
    Ayahku begitu serius membawa motornya sambil menatapi GPS yang dia punya. Setelah limabelas menit Alhamdulillah kita bisa keluar dari zona yang begitu meresahkan itu. 

    07.30 WITA
    Cuaca mulai panas, ujian tulispun dimulai. Akupun memilih duduk di pojok kanan belakang tepatnya didekat jendela, bukan apa-apa, aku sengaja duduk disana karena aku ingin mengamati hiruk pikuk kota Mataram. Lima jam berlalu. Baru saja aku keluar dari ma’had berwarna hijau itu.
    “Kak, kira-kira pengumuman kelulusan kapan ya”? tanyaku pada panitia PMB saat itu.
    “Oh, tanggal 4 Mei perkiraan insya allah. Ditunggu saja,” ucapnya dengan sangat ramah. Entah kenapa setiap mendengar satu kata yang keluar dari mulutnya membuatku tenang. Bukan. Bukan karena aku suka tetapi kata-kata yang keluar salah satunya adalah kata penyemangat buatku. 

    Singkat cerita, Alhamdulillah ala kulli haal, akupun diterima dikampus tersebut. Hanya saja, sekarang sudah beda cerita, aku seakan tak ingin pergi kesana ini dari hatiku namun keadaan memaksaku untuk tetap pergi. Banyak perbedaan antara ayah, ibu, dan hatiku. Ayahku sangat menginginkanku berkecimpung di universitas tersebut, karena apa? Karena kata beliau mungkin melalui wasilah ArRaayah aku bisa lebih paham tentang jatidiriku serta agamaku. Ya, beliau sangat ketat dalam urusan agama. Bisa dibilang mungkin beliau trauma membiarkanku masuk sekolah umum dengan pergaulan yang kian bebas. Akhirnya, ibuku pun mengalah dan mau tak mau dia harus membiarkanku berangkat ke tanah sunda. Dari sekian tholibah yang mendaftar aku adalah satu-satunya tholibah dari Bali yang diterima dan bersamaku dua tholib dari Bali yang mereka pula diterima untuk masuk ArRaayah. Sad. iya, sangat karena aku tidak mempunyai teman perempuan seangkatan untuk berangkat kesana. Hari keberangkatan makin dekat, suasana rumah juga makin tegang.

    23.30 WITA
    Setelah memutuskan bahwa aku akan berangkat seminggu sebelum hari-H. akhirnya, ayah dan ibuku bergegas memesankanku tiket dengan jam penerbangan 07.30 WITA. Baiklah urusan rumahaman,kini saatnya aku bergelut dengan hatiku yang entah kenapa menolak keberangkatan ini. Dengan segala kegelisahan akupun menyiapkan barang-barangku. Pikiran dan hatiku kini tak sejalan. Tak jarang buliran air mengalir dari kelopak mataku. “Yaa Allah apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku katakan ketika hati ini mulai ragu untuk melangkah?” lagi-lagi aku mengeluh. Sesaat aku terlamun dan berusaha menenangkan hatiku. 

    Ting, suara notifikasi terdengar dari handphoneku (eh lebih tepatnya bukan punya ku tapi punya ayah, jelasnya aku belum memiliki handphone pribadi saat itu). Ternyata aku mendapat pesan dari ustadzku dan Alhamdulillah kalimat panjang yang beliau tulis untukku malam itu membuat hatiku tergerak dan menerima apa yang seharusnya aku tempuh. Salah satu nasihat beliau adalah “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Tepatnya itu adalah potongan ayat Al-Qur’an. 

    05.30 WITA 
    See you pulau Dewata, pagi ini aku akan meninggalkan kota kelahiranku walau sebenarnya aku tumbuh besar di kota pahlawan. Hati dan pikiranku kini mulai berjalan pada jalur yang sama. Kini aku rela dan ikhlash untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan ayah, ibu, adik-adikku,  keluarga dan dia dengan harapan kita akan bertemu kembali.

    “Aku pamit,yah,bu. Jaga diri baik-baik. Sehat selalu. Aku titip kalian sama Allah” Ucapku dengan menahan air mata itu menetes. 
    “Fii amanillah kak, rajin-rajin ya disana, doain ayah sama ibu disini sama adik-adik kamu juga” bisik ayahku dengan memelukku.
    “Kita titip kamu sama Allah mbak” ucap ibuku disertai adik-adikku.
    Oh iya, first time aku mau dipeluk sama ayah dan ibuku. Bukan karena tidak mau tapi aku merasa geli sendiri ketika melihat siapapun berpelukan. Namun, pelukan kedua orangtua sangatlah menenangkan hati dan kini akupun menjadi bagian keluarga Stiba ArRaayah. 

    17.00 WIB 
    Assalamu’alaikum ArRaayah, kini aku telah menginjakkan kaki diatas tanahmu, perasaan takut,khawatir dan lainnya akan ku buang jauh. Keberadaanku disini adalah salah satu bentuk juang orangtuaku. Aku tahu namanya juga pondok pesantren,suka tidak suka mau tidak mau pasti akan ada peraturan yang mengikat. Pintaku tak banyak untuk ArRaayah Semogalah kita menjadi takdir dan kamu akan menjadi saksi dimana aku akan tumbuh menjadi salah satu wanita hebat yang bermanfaat untuk umat. Biidznillah 
    Terimakasih ku ucapkan pada orang yang telah bersedia membaca tulisan ini. Semoga aku dan kamu bertemu pada satu titik takdir yang sama yaitu SurgaNya.

     

    Ikuti tulisan menarik seprimaa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 596 kali