Jakarta Hajatan, Refleksi Ulang Tahun Jakarta ke 495 - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ulang Tahun Jakarta (sumber: MedzCreative - freepik.com)

Achmad Humaidy

Seorang narablog yang menyalurkan hobi membaca dan menulisnya melalui INDONESIANA supaya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja. Kepoin blognya: https://www.blogger-eksis.my.id II IG @me_eksis II Twitter @me_idy
Bergabung Sejak: 23 Februari 2022

Rabu, 22 Juni 2022 14:09 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Jakarta Hajatan, Refleksi Ulang Tahun Jakarta ke 495

    Menikmati dan menyelami kota Jakarta tiada habisnya. Semua kalangan bisa bercengkerama tanpa batas. Seperti internet menyatukan Indonesia. Inilah refleksi dari ibukota tercinta. Perlakukan Jakarta yang punya potensi sumber daya kota dan warga sebagai komoditas tinggi. Bukan memperuncing lagi ketimpangan sosial. Ruang publik dan ruang personal harus jadi bagian pembangunan spasial yang tak menghambat partisipasi warga kota.

    Dibaca : 543 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penulis lahir dan berkembang sampai dewasa ini di Kota Jakarta. Dari mulai zaman pakai mesin tik sampai sudah pakai internet rumah. Ibukota Indonesia ini disebut sebagai destinasi bagi pelancong dari nusantara maupun mancanegara. Kota yang disebut sebagai pusat pengais rezeki tanpa kenal waktu atau masa.

    Jakarta zaman now, tak luput dari catatan sejarah yang telah berlalu ratusan tahun silam. Berawal dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, dan resmi menjadi Jakarta selama pendudukan Jepang dan peradaban modern.

    Pertumbuhan ekonomi digital yang pesat membuat Jakarta masa kini mampu merangkul semua kalangan untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan di Jakarta. Banyak acara atau event yang sudah tercipta dalam berbagai bidang kehidupan seperti olahraga, seni budaya, hiburan, dan kegiatan lain yang menyatukan ide, gagasan, serta mimpi dari lintas generasi yang ada di Jakarta. Tak pelak, kota Jakarta disebut sebagai kota kolaborasi.

    Penciptaan inovasi baru yang terus berkembang dengan memanfaatkan teknologi multiguna seperti pengadaan internet rumah bagi warganya membuat Jakarta sudah go digital. Kota Jakarta beradaptasi menjadi kota akselerasi. Perubahan ke arah positif ini dianggap sebagai bentuk aktivitas tanpa batas yang meminimalisir hal-hal unfaedah sehingga banyak manfaat diberbagai bidang bisa digali. Semua itu tentu berdampak pada banyak orang yang telah mengambil peran untuk intervensi dalam kota.

    Kota elevasi juga menjadi sebutan bagi Jakarta terkini. Sebagai kota yang memberi solusi dari berbagai permasalahan yang dialami negara membuat Jakarta selalu dapat sorotan internasional. Tentu hari demi hari di Jakarta yang selalu punya masalah mampu diatasi dari sudut pandang rasional pemimpin beserta jajarannya. Tidak sebatas solusi saja, terdapat pula resolusi yang membuat kota ini makin dicintai warganya.

    Saat menulis artikel ini, penulis sambil dengar sebuah lagu tempo dulu berjudul Gang Kelinci yang pernah hits pada masanya dinyanyikan Lilis Suryani. Baitnya akhirnya seperti ini:

    Kami semua hidup rukun dan damai

      Hanya satu yang aku herankan

      Badanku bulat, tak bisa tinggi

      Persis kayak anak kelinci

    Nyatanya, lagu tersebut memang jadi oposisi biner dari dua gagasan eksistensi berlawanan. Tingkat urbanisasi yang tinggi dan pembangunan kota yang cepat harus diimbangi dengan indeks kebahagiaan masyarakat. Dengan demikian pola interaksi harus terjalin dengan rasa kekeluargaan tinggi baik antar elemen masyarakat.

    HUT Jakarta tahun ini, penulis masih berharap bahwa Jakarta selalu menjadi kota yang ramah anak, disabilitas, lansia, dan lintas generasi, kota yang asri karena ramah lingkungan, serta kota yang aman untuk semua. Buat siapapun yang masih punya niat beradu nasib di Jakarta, tolong jangan lihat kemegahan saja. Dibalik itu, Jakarta punya banyak sisi yang bisa dieksplorasi dan menjadi inspirasi kota-kota lain di sekitarnya.

    Perlakukan Jakarta yang punya potensi sumber daya kota dan warga sebagai komoditas tinggi. Bukan memperuncing lagi ketimpangan sosial yang sering terjadi. Ruang publik dan ruang personal harus jadi bagian dari pembangunan spasial yang tak boleh menghambat partisipasi warga kota. Misal, semua akses publik sudah dilengkapi fasilitas wifi cepat dari Telkom Group atau setiap penduduk Jakarta juga punya kemudahan untuk pasang layanan internet IndiHome.

    Dengan begitu penulis yakin “Maju Kotanya, Bahagia Warganya” bisa jadi dambaan siapa saja untuk Jakarta. Meski sudah berubah menjadi kota megapolitan, Jakarta harus tetap berpegang teguh pada asal usul sebelumnya dan terus beradaptasi ke depan untuk arah lebih baik. Bersama kita jaga Jakarta dengan merayakan Jakarta Hajatan penuh kegembiraan.

    Sejauh mata memandang, label Jakarta yang sudah maju mendeskripsikan bahwa kota ini sudah patut menjadi ‘smart city’. Gambaran kota yang setiap penduduknya sudah dilengkapi internet rumah memberi kesan bahwa tiap warga sudah melek teknologi. Tinggal kita refleksi semoga itu bukan sebatas ‘tampilan luar’ semata, melainkan jadi kondisi dalam realita yang membuktikan bahwa warga Jakarta sudah bisa memanfaatkan layanan internetnya Indonesia demi kebaikan bersama.

    Ikuti tulisan menarik Achmad Humaidy lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.