Ibu Euis, Kisah Kaum Buta Aksara di Era Digital - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Minggu, 26 Juni 2022 07:24 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Ibu Euis, Kisah Kaum Buta Aksara di Era Digital

    Hampir tidak percaya, masih ada kaum buta huruf di era yang serba digital. Tolong ajari saya baca-tulis, begitu suara hati kaum buta huruf memanggil kita

    Dibaca : 608 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mungkin, banyak orang tidak percaya, di zaman yang serba digital sekarang, masih ada kaum buta huruf. Mereka yang tidak bisa membaca dan menulis. Jangankan menggenggam gawai atau handphone, membaca spanduk besar di jalan pun tidak bisa. Apa iya masih ada kaum buta huruf di era digital?

     

    Tidak bisa baca-tulis, itulah yang dialami Ibu Euis. Dia bersama 8 ibu-ibu lainnya menjadi warga belajar Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Dua kali seminggu (Kamis dan Minggu), Ibu Euis rutin belajar baca-tulis. Tentu, bukan agar menjadi orang pintar. Tapi sekadar untuk melek aksara, bisa membaca dan menulis sehingga dapat menemani anaknya saat belajar.

     

    Siapa pun sepakat, tidak satu pun manusia yang ingin terlahir dalam keadaan buta huruf. Tapi apa mau dikata bagi Ibu Euis. Terlahir dari orang tua yang juga buta huruf. Apalagi ekonominya tergolong prasejahtera. Hdiup di zaman begini, pasti kian berat. Jangankan membaca dan menulis, Tanggal lahir pun dia tidak tahu.

     

    “Maapin saya ya Pak. Bacanya harus dekat-dekat. Abis mata saya udah susah lihat kalau jauh…” begitu suara Ibu Euis, warga belajar buta huruf yang mengalami gangguan penglihatan.

    “Iyaa Bu, tidak apa” jawab saya singkat.

     

    Tidak ada kata terlambat untuk bisa membaca dan menulis. Apalagi di era digital. Seperti Ibu Euis, sudah puluhan tahun berharap ada yang bisa mengajari baca-tulis. Tujuannya, hanya untuk menemani anaknya bila ada “pekerjaan rumah” dari sekolah. Bukan untuk menjawab soal tapi untuk sekadar membacakan soalnya saja. Tapi sayang, dia tidak bisa membaca, tidak bisa menulis. Sebagai ibu rumah tangga, dia hanya bisa pasrah menerima nasib. Beliau sadar, kaum buat huruf memang gampang diremehkan. Soal apa pun dan oleh siapa pun. Kaum buta huruf yang kian dipinggirkan tanpa ada yang mau membantu.

     

    Sejak tiga tahun lalu, harapan Ibu Euis mulai terkuak. Cita-citanya bisa baca-tulis tidak lagi sebatas mimpi. Bisa belajar baca-tulis pun jadi kenyataan. Seperti tiap hari Minggu siang pukul 13.00 WIB, Ibu Euis bersama teman-temannya selalu rajin datang menuju Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di dekat rumahnya. Bergabung di Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA), kini Ibu Euis pun sudah bisa membaca dan menulis secara sederhana. Walaupun masih terbata-bata, Ibu Euis masih tetap semnagat belajar hingga kini. Mumpung ada yang mau ngajarin, dia selalu semangat untuk datang.

     

     “Pak, kita sekolah kan…?” tanya Bu Euis saat tiba di taman bacaan. Sekolah adalah istilah yang digunakan para kaum buta huruf. Saya pun menjawab lantang, “Sekolah dong Bu…”. Raut wajahnya pun begitu ceria dan memecah panasnya terik matahari.

    “Alhamdulillah Pak…” begitu suaranya penuh semangat.

     

    B-a Ba, c a ca … baca. Begitulah cara Ibu Euis dan teman-temannya mengeja kata. Satu per satu, hingga kata demi kata. Dan sekarang, kaum buta aksara GEBERBURA masih terus berjuang untuk membaca dan menulis dalam bentuk kalimat. Kian sulit memang tapi mereka tetap bersemangat. Kaum buta huruf, hari ini hanya bermodalkan tekad. Agar bisa terbebqas dari belenggu buta aksara. Mungkin hanya tekad yang bisa dibanggakan dirinya esok. Dia memang bodoh, dia memang buta huruf. Tapi dia masih mau ikhtiar belajar. Sekalipun di usia senja.

     

    “Pak, terima kasih ya. Sudah mau ajarin saya. Semoga Bapak sehat ya Pak” katanya lirih. Seusai diperiksa PR-nya, maju ke papan tulis untuk menulis lalu membaca sendiri tulisannya. Raut wajah Ibu Euis pun merekah. Seakan dalam hatinya, ia mau berkata. Saya bangga bisa merasakan susahnya jadi orang yang sedang belajar. Ibu Euis pun berhak membawa pulang seliter beras. Sebagai hadiah bagi kaum buta huruf yang masih mau datang belajar dengan ikhlas dari sang guru.

     

    Itulah fakta seorang Ibu Euis, kaum buta huruf di tengah era digital. Katanya zaman canggih tapi dia tidak bisa baca-tulis. Mungkin di pelosok sana, di negeri nusantara ini, masih banyak kaum buta huruf seperti Ibu Euis. Tapi belum sempat bisa belajar. Akibat tidak adanya orang yang mau mengajarinya baca-tulis.

     

    “Tolong ajari saya baca-tulis…” begitulah suara hati Ibu Euis dan ibu-ibu lainnya di kejauhan. Suara batin yang membutuhkan uluran tangan orang-orang pintar. Untuk membebaskan dirinya dan yang lainnnya dari belenggu buta huruf. Tentu, Ibu Euis hanya bagian kisah nyata di era digital. Tentang kaum buta huruf yang terus berjuang untuk bisa melek huruf.

     

    Dari Ibu Euis, siapa pun bisa belajar. Untuk selalu bersyukur atas kondidi apa pun yang dihadapi. Sambil tetap berjuang untuk ikhtiar baik. Bukan justru menebar prasangka buruk dan pesimistis. Karena baik itu perbuatan, bukan pelajaran. Salam literasi #GeberBura #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi