x

Sumber : Gramedia

Iklan

Tri Rizky Ramadhan

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia - Penjual Pulsa Keliling
Bergabung Sejak: 1 Juni 2022

Senin, 27 Juni 2022 05:04 WIB

Aliran Romantisme pada Puisi "Pada Suatu Hari Nanti"

"Pada Suatu Hari Nanti" adalah salah satu puisi karya Sapardi Djoko Damono yang dimuat dalam bukunya Hujan Bulan Juni. Puisi "Pada Suatu Hari Nanti" menjadi populer dan disukai oleh masyarakat karena keindahan makna dan diksi yang terkandung di dalamnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Romantisme merupakan salah satu aliran karya sastra yang muncul di Eropa Barat pada akhir abad ke-18. Romantisme termasuk dalam salah satu aliran idealis. Romantisme muncul sebagai bentuk reaksi atas aliran klasikisme yang menitikberatkan rasio, keseimbangan, dan orientasi budaya dengan tujuan untuk memacu tatanan kehiupan sosial para kaum bangsawan dan agamawan di zaman itu. Aliran romantisme mengutamakan perasaan, imajinasi, dan intuisi sebagai bentuk perwujudan, tanpa melibatkan logika di dalamnya. Aliran romantisme juga diartikan sebagai genre sastra yang berisi tentang asmara dan disertai dengan kata-kata yang indah dan menggugah jiwa. Aliran romantisme bertujuan membuat para pembaca dan pendengarnya mengalami tekanan emosi yang menggetarkan jiwa.

Di Indonesia banyak para sastrawan yang menggunakan aliran romantisme pada karya mereka. Salah satunya adalah Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono merupakan seorang penyair, pengamat sastra, dan kritikus sastra terkemuka di Indonesia. Sapardi lahir pada 20 Mei 1940 di Surakarta. Sapardi banyak menciptakan karya yang bergenre romantisme, misalnya "Pada Suatu Hari Nanti".

"Pada Suatu Hari Nanti" adalah salah satu puisi karya Sapardi yang dimuat dalam bukunya yang berjudul Hujan Bulan Juni. Buku tersebut berisi 102 puisi yang ditulis oleh Sapardi dari tahun 1964 hingga tahun 1994. Buku Hujan Bulan Juni diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 1994 di Jakarta.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Pada Suatu Hari Nanti"

Karya: Sapardi Djoko Damono

---------------

Pada suatu hari nanti

Jasadku takkan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau takkan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impianku pun tak dikenali lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau takkan letih-letihnya kucari

 

Pada bait pertama, Sapardi mengungkapkan bahwa kematian pasti akan mendatanginya suatu hari nanti. Namun, dia akan tetap menemani sosok Kamu dengan kenangan-kenangan indah yang diingatkan kembali lewat bait-bait puisi tersebut.

Pada bait kedua, sapardi mengungkapkan kembali kalimat yang seolah menjadi penekanan bahwa kematian akan datang. Namun, dia akan tetap memperhatikan dan menjaga sosok Kamu di mana pun berada.

Pada bait ketiga dijelaskan bahwa impian dan keinginan dari Sapardi akan dilupakan karena dia telah wafat. Tetapi, sebelum hal itu terjadi, dia akan tetap menemani sosok Kamu hingga kematian menghampirinya.

Puisi "Pada Suatu Hari" menggunakan diksi yang begitu romantis, sehingga banyak para pembaca dan pendengar puisinya mengetahui makna cinta yang sebenarnya. Pencinta yang rela menemani, melindungi, dan memperhatikan demi orang yang dicintainya.

Ikuti tulisan menarik Tri Rizky Ramadhan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu