Pengenalan Cerita Anak dan Contohnya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar tersebut menunjukkan 3 anak sedang membaca buku cerita.

Ria Fauziah W

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 4 Juli 2022

Selasa, 5 Juli 2022 16:18 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pengenalan Cerita Anak dan Contohnya

    Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan tentang cerita anak serta memberikan contoh dari cerita anak.

    Dibaca : 347 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pengenalan Cerita Anak

    Cerita anak merupakan salah satu karya sastra anak. Sastra anak sendiri adalah karya sastra yang ditulis sebagai bacaan untuk anak. Yang mana isinya sesuai tingkat perkembangan intelektual serta emosi anak. Pada intinya cerita anak-anak merupakan pengembangan imajinasi atau fantasi hingga tingkat yang serba mungkin. Pengembangan yang serba mungkin ini bersifat antromorfomis (pengenaan sifat-sifat manusia kepada tumbuhan, hewan, atau benda mati). Anak-anak kerap menganggap sesuatu itu berjiwa atau bernyawa seperti mereka. Hal itu disebabkan oleh kemampuan mereka dalam mengembangkan imajinasinya untuk memberikan ciri-ciri kemanusiaan pada segala sesuatu sungguh besar, sehingga benda-benda mati pun mereka ubah seolah-olah hidup, berbicara, bertingkah laku, dan berperasaan seperti manusia. Selain itu manfaat dari cerita anak bisa melatih kemampuan bahasa anak, menumbuhkan kreativitas anak, dan meningkatkan kecerdasan anak.

    Adapun ciri-ciri cerita anak yaitu :

    1. Alurnya lurus atau berurutan
    2. Mengandung tema yang mendidik
    3. Tidak ada unsur dewasa, Ceritanya mudah dimengerti
    4. Gaya bahasa yang sederhana atau mudah dipahami

    Cerita anak terdapat unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik terdiri dari tokoh, latar, alur, tema, sudut pandang, moral, dan style. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah jati diri dari pengarang yang memiliki pandangan hidup bangsa, ideologi, sosial-budaya masyarakat sendiri dijadikan sebagai latar dari cerita.

    Contoh Cerita Anak

    Kisah Seekor Kelinci Putih

      Suatu pagi yang indah, awan masih berkabut, burung-burung berkicauan merdu di pepohonan membuat suasana hutan menjadi damai dan tentram.

      Tak lama kemudian ada seekor kelinci putih sedang berjalan sendirian menuju rumah kecilnya di bawah pohon mangga.

      “Hai kelinci, dari mana kau?” tanya burung beo yang sedang mengeringkan sayapnya.

      “Aku dari pasar sebrang disana banyak sekali barang-barang baru.” sahut kelinci.

      “Kau membeli apa?” tanya si beo.

      “Aku membeli mainan kapal-kapalan, ini bisa berjalan di air aku sudah mencobanya berkali-kali. Dan jika batterynya habis tinggal diganti pakai battery yang baru.” kata kelinci menjelaskan mainan kapal-kapalannya kepada beo.

      “Boleh ku pinjam? sepertinya itu muat ditubuhku yang kecil ini, aku ingin naik kapal-kapalan itu di sungai.”

      “Tidakkk, ini mainan baruku nanti jika rusak bagaimana? di pasar sudah tidak ada lagi!!” tegas kelinci.

      “Kalau begitu aku ingin mencobanya saja tidak menaiki kapal-kapalan itu, boleh tidak?” tanya beo sekali lagi.

      “Aku bilang tidak ya tidak!!!” Kelinci mulai marah dan bergegas pergi meninggalkan burung beo.

      “Kelinci kelinci, semoga sifat pelitmu tidak merugikanmu.” ucap beo dalam hati kecilnya.

      Di tengah hutan kelinci bertemu lagi dengan keledai, kancil, tupai, dan hewan lainnya.

      “Hei kelinci, ayo kita bermain.” ajak si tupai.

      “Tidak dulu, aku ingin cepat sampai ke rumah.” ucap kelinci.

      “Eh… apa itu yang ditanganmu ci?” tanya si kancil.

      “Ini mainan baruku, kapal-kapalan ini bisa berjalan di atas air.”

      “Coba jalankan di sungai ci aku ingin melihatnya.” keledai dengan rasa penasaran ingin tahu bagaimana mainan kapal-kapalan itu berjalan di atas air.

      “Tidak, aku tidak mau. Kalau nanti sering dipaki batterynya cepat habis.”

      “Apa aku boleh meminjamnya ci? Kalau batterynya habis akan aku ganti batterynya!” izin si kancil.

      “Ku bilang tidak ya tidak!!” Kelinci dengan perasaan kesal dan marah karena teman-temannya selalu ingin meminjam mainannya.

      “Dasar kelinci pelit! Dari dulu dia tidak pernah berubah, awas aja kau!” ucap si kancil dengan perasaan yang kesal juga.

      Keesokan harinya, semua hewan di hutan berkumpul di pinggir sungai. Mereka semua sedang menonton balap lari antara kancil dengan siput. Sambil berjalan-jalan melihat sekitar pinggir sungai, kelinci mencoba kapal-kapalannya di sungai.

      “Wiiiii…” kelinci dengan perasaan gembira karena ia sangat menyukai mainannya.

      Hingga tiba-tiba arus sungai mulai cepat. Hewan-hewan yang berenang di sungai segera naik ke atas karena jika masih di sungai mereka semua akan hanyut.

      “Eh…eh…tolong tolong” teriak kelinci yang hampir terbawa arus sungai.

      “Hei itu kelinci ayo kita tolong dia.” keledai yang untungnya dengar suara teriakan kelinci.

      Hewan-hewan lain segera berlari menuju kelinci. Kelinci hampir tak terselamatkan, akar pohon yang ia pegang hampir putus. Jika teman-temannya terlambat menolong pasti kelinci sudah hanyut terbawa arus sungai.

      “Mainanku…mainanku.. aku ingin mengambilnya.” teriak kelinci dengan rasa sedih dan gelisah.

      “Hei, gila kau ya?? kami bergegas cepat kemari dan panik melihat kau hampir terbawa arus, bisa-bisanya kau memikirkan mainanmu itu?!” ucap kancil dengan rasa kesal dan jengkel terhadap kelinci

      “Sudahlah ci, ikhlaskan mainanmu! itu tidak lebih berharga daripada nyawamu! siput yang berusaha menenangkan dan menasihati kelinci.

      Kelinci menangis tersedu-sedu hingga membasahi pipinya.

      “Terimakasih teman-teman, kalian sudah mau menolongku padahal aku sangat pelit terhadap kalian. Aku menyesal karena sudah tidak mau berbagi terhadap kalian.” kelinci yang mulai sadar dengan perbuatannya selama ini.

      “Sama-sama ci, kami semua juga tidak mau kehilangan kau.” jawab si siput.

      “Maafkan aku teman-teman, aku berjanji mulai sekarang aku tidak akan pelit lagi.” kata kelinci.

      “Nah ini yang aku sukai.” sorak keledai dengan gembira.

      “Sudah ayo kita semua pulang ke rumah masing-masing, hari sudah mulai gelap.” kata kancil.

      “Ayo.” ucap para hewan.

      Kelinci pun akhirnya sadar akan perbuatannya, ia juga sudah berjanji tidak akan pelit lagi. Bahkan kini ia sering membagi makanan kepada hewan lain jika memiliki makanan lebih.

    Selesai…

     

    Ikuti tulisan menarik Ria Fauziah W lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.