Sarkastik Terhadap Politik Indonesia dalam film Bukaan 8 karya Angga Dwimas Sasongko

Jumat, 15 Juli 2022 08:02 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

film bukaan 8 terbit tahun 2017 yang dibintangi oleh Chiko Jericho sebagai Alam dan Lala Karmela sebagai Mia ini cukup menarik perhatian saya. Sebab saya mengira Film ini mungkin hanya sekedar perjuangan sepasang kekasih yang memperjuangkan seorang anak. Namun ada hal lain yang membuat film ini semakin menarik perhatian saya yakni beberapa adegan atau dialog yang menyindir politik di Indonesia kala itu.

Film Buka'an 8 terbit tahun 2017 yang dibintangi oleh Chiko Jericho sebagai Alam dan Lala Karmela sebagai Mia ini cukup menarik perhatian saya. Sebab saya mengira film ini mungkin hanya sekedar perjuangan sepasang kekasih yang memperjuangkan seorang anak. Namun ada hal lain yang membuat film ini semakin menarik perhatian saya yakni beberapa adegan atau dialog yang menyindir politik di Indonesia kala itu. 

Film Buka'an yang mengusung genre romantisme dan dibalut dengan sentuhan komedi didalamnya pasangan suami istri Alam (Chiko Jericho) dan Mia (Lala Karmela) yang mengalami kesulitan dihari kelahiran anak pertama mereka. Walaupun sudah menikah dengan Mia, sebetulnya Alam belum sepenuhnya direstui oleh orang tua Mia yakni Abah (Tio Pakusadewo) dan Ambu (Sarah Sechan). Hal ini berkaitan dengan pekerjaan Alam yang dianggap ''tidak jelas''. Alam adalah seorang influencer dengan 48 ribu followers di tweeter.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di Tweeter dan di kehidupan langsungnya Alam yang sebagai penulis idealis tersebut acap kali menyindir kondisi politik di Indonesia. Terlihat pada bagian awal film ketika Alam dan Mia menuju rumah sakit untuk persalinan, Alam mengtweet dengan menuduh ke salah satu kader dari partai yang tidak sebutkan namanya. Dalam tweet tersebut Alam mengatakan bahwa duit rakyat disalah gunakan untuk kepentingan asing dan berkata ''Politikus kalo karirnya dibangun dari hasil duit spanduk partai emang mini kualitas otaknya''. lalu dibalas dengan kader yang di-tagnya dengan ''ini bisa masuk hate speech, hati-hati loh bisa masuk UU ITE''. Tak hanya itu, masih dalam Scene yang sama Alam berkata dengan "orang kaya faisal (politikus yang dia sindir) ini banyak sayang, orang asing mulu yang dituduh rampok, padahal kita sendiri nalarnya gak jalan, mentalnya korup''. Hal ini menyinggung kepada politikus yang menuduh pihak asing lah yang membawa kabur uang negara padahal kenyataannya para politikus itulah yang ikut membantu pihak asing tersebut untuk melancarkan usahanya.

Selanjutnya di Scene yang berbeda ketika Alam sudah di rumah sakit dan keluar untuk sholat jum'at, ia melihat sebuah mobil yang terparkir di tempat yang tidak seharusnya, ketiks melihst plat nomor mobil tersebut Alam langsung bereaksi sebab mobil tersebut ber-plat RFS yang dimana plat tersebut hanya dimiliki oleh anggota pemerintahan lebih tepatnya anggota DPR. jika, Dalam hal ini discene tersebut menyinggung tentang mobil yang berplat RFS adalah plat ''dewa'' sebab ada beberapa kasus juga seperti mobil ber-plat RFS masuk ke jalur busway tidak ditilang dan lain sebagainya. Lanjut di scene selanjutnya ketika Alam sedang melaksanakan sholat jum'at terdapat seorang Khutbah yang sedang ceramah namun membawa embel-embel politik dan berkampanye yang dimana hal ini langsung diprotes Alam dan langsung keluar masjid tersbeut. Hal ini beriringan dengan keluarnya pasal 69 huruh I Undang-Undang No 10 tahun 2016. Dikarenakan tempat ibadah adalah tempat orang berkumpul tentu menjadi salah satu objek lahan basah untuk berkampanye. Karena jika saya lihat masih ada beberapa calon daerah yang menyelipkan kampanye dalam khotbah/ceramah di tempat ibadah.

Film buka'an 8 menjaikan cerita yang ringan namun memiliki makna yang dalam. Dari kisah persalinan penuh haru dan tawa hingga momen keluarga ada disini. Angga Dwimas Sasongko sukses menyampaiksn cerita dari pasangan muda dengan permasalahannya hingga menyelipkan isu politik seperti kampanye di tempat ibadah. 

sebagai orang yang mengklaim diri idealis, Alam sering banget memrotes hal-hal yang nggak sesuai dengan keinginannya. Dan itu, lebih banyak sangkut pautnya dengan politik dan pemerintahan.Terdapat sebuah ciri khas yang berpola dalam film-film Angga, yakni adanya konflik sosial-politik.

Menengok ke belakang lewat film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014) kita disuguhkan pergulatan tim sepak bola menghadapi konflik di Ambon. Berlanjut ke Filosofi Kopi (2015) yang memperlihatkan konflik agragia antara warga desa dengan orang-orang yang mengatasnamakan pemerintah. Sampai pada Surat dari Praha (2016) yang mengungkap keberadaan eksil di Kota Praha pasca peristiwa 1965. Angga memang mengakui bahwa pola tersebut memang ada mengalir bersama cerita sebagai penanda situasi zaman ketika film tersebut dibuat.

Ada bagian dari film Bukaan 8 yang mungkin akan sulit dimengerti, terutama pada karakter Alam yang kompleks. Penonton mungkin akan bingung dengan pekerjaan Alam yang sebenarnya sehingga informasi yang dicerna bisa jadi hanya Alam adalah seleb Twitter yang punya banyak hutang. Namun, keadaan tersebut bisa dimaafkan karena ceritanya memang tidak ingin dibawa terlalu jauh dari rumah sakit.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Dwi Kurniadi

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler