Mengenal Syndrom Baby Blues Pada Tokoh Dinda dalam Film Baby Blues - Hiburan - www.indonesiana.id
x

poster film baby blues

Safira Mustafa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Mei 2022

Jumat, 15 Juli 2022 10:22 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Mengenal Syndrom Baby Blues Pada Tokoh Dinda dalam Film Baby Blues

    sepanjang awal tahun 2022, MVP Pictures menghadirkan film Baby Blues, yaitu sebuah film yang bertemakan keluarga dengan sentuhan retro yang disutradarai Andi Bachtiar Yusuf. Film satu ini menghadirkan suasana baru bagi penggemar film bertema keluarga, dengan mengangkat syndrom Baby Blues. Dalam film ini bercerita mengenai sepasang suami istri muda, yaitu Dinda (Aurelie Moeremans) dan sang suami Dika (Vino G. Bastian) yang baru pertama kali memiliki anak.

    Dibaca : 1.171 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Film Baby Blues merupakan salah satu film drama komedi keluarga yang sangat mengedukasi bagi masyarakat terutama pasutri muda. Film ini disutradarai oleh Andibachtiar Yusuf berdasarkan ide cerita dari Balraj Singh. Pada awalnya film ini rilis pada akhir tahun 2021 namun karena pandemi Covid-19 maka film ini baru siap tayang di tahun 2022. Film yang dibintangi oleh Vino G.Bastian dan Aurelie Moeremas mampu menarik penonton untuk lebih mengenal syndrome baby blues. Apa itu syndrome baby blues?

    Syndrome baby blues adalah suatu kondisi perubahan suasana hati ibu setelah melahirkan. Kondisi ini dapat berupa perasaan gundah dan sedih secara berlebihan sehingga menyebabkan ibu menjadi lebih emosional dan sensitif seperti mudah sedih, cemas, lelah, lekas marah, sering menangis, kurang nafsu makan, sulit tidur, dan sulit konsentrasi dan lain sebagainya. Umumnya perubahan ini terjadi pada 14 hari pertama setelah ibu melahirkan, biasanya ibu yang mengalami baby blues memiliki gejala berupa susah tidur, mudah menangis dan mudah cemas. Meski begitu, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele begitu saja.

    Film ini menceritakan tentang sosok Dinda yang diperankan oleh Aurelie Moeremas mengalami syndrome baby blues sehingga membuat emosi menjadi tidak stabil sehingga menyebabkan mudah marah dan menangis. Selain itu, gejala psikologi baby blues yang dialami oleh tokoh Dinda ini sangat relate sama kehidupan sehari-hari. Dimana tokoh Dinda ini seorang ibu muda yang minim pengalaman mengurus bayi sementara Dika sebagai suami tidak berhasil mendampinginya dengan baik. Ia masih sering nongkrong dan main Playstation sampai larut malam bersama temannya sehingga membuat Dinda menjadi stress.

    Di tambah dengan perkataan ibu mertua Dinda yang tinggal satu rumah cuma berbatasan dengan tembok mengatakan bahwa Dinda tidak bisa menjadi istri dan Ibu baik untuk anaknya. Hingga suatu hal aneh terjadi, jiwa Dika dan Dinda tertukar, karena ucapan yang tidak sengaja oleh Dinda yang ingin merasakan tugasnya satu sama lain. Pada Proses pertukaran jiwa ini membuat mereka sadar bahwa menjadi ibu itu sulit dan begitupun sebaliknya. Mereka menyadari bahwa mengurus anak itu bukan hanya peran ibu saja melainkan peran ayah juga ikut serta.

    Jika dilihat dari perspektif psikologi sastra, film Baby Blues ini dapat dianalisis menggunakan teori Sigmund Freud yang terbagi atas id, ego dan superego. Hal tersebut jelas terlihat dari gejala yang dialami oleh tokoh Dinda saat pertama kali menjadi seorang ibu.

    Pertama yaitu id, pada bagian ini terlihat tokoh Dinda memiliki gejala baby blues saat pertama kali tidak bisa tidur karena mengurus anaknya yang terbangun tengah malam hari dan suaminya malah tidur tanpa mau membantu menenangkan bayi. Hal tersebut membuat Dinda menjadi sulit tidur, mudah marah, cemas dan kewalahan dengan tugas merawat bayi.

    Lalu kedua yaitu ego, pada bagian ini adanya perkataan dari mertuanya bahwa Dinda walaupun sudah punya anak harus tetap berpenampilan menarik agar suami tidak kecantol perempuan lain diluar rumah. Selain itu juga Dinda dituntut suami untuk mengurus bayi sendirian karena itu tugas seorang istri. Hal tersebut membuat Dinda menjadi mudah tersinggung, menangis, kelelahan sehingga tidak mampu mengurus diri sendiri.

    Dan ketiga yaitu superego, pada bagian ini sebagai klimaks dari gejala baby blues yang dialami oleh tokoh Dinda. Dimana Dinda sudah sangat sabar melihat kelakuan suaminya yang tidak mau membantunya sama sekali mengurus anak.  Bahkan saat jadwal imunisasi anaknya saja lupa dan lebih mementingkan bermain game bersama temannya. Hal tersebut membuat Dinda mengalami stress karena tidak ada support system dari suaminya.

    Berdasarkan analisis diatas, film yang berdurasi 100 menit ini jelas membuat para penonton  merasa emosi, kesal dan kasihan terhadap apa yang dialami Dinda. Adapun pesan yang bisa diambil dari film tersebut yaitu dukungan suami sangat diperlukan ketika istri mengalami baby blues, adanya dukungan suami membuat istri menjadi senang dan bahagia dalam menjalankan perannya menjadi seorang ibu. Dengan demikian sangat penting kerja sama antara suami dan istri dalam mengurus anak dan saling memahami satu sama lain.

    Ikuti tulisan menarik Safira Mustafa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.