Fenomena Body Shaming terhadap Perempuan dalam Film Imperfect - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Foto : salah satu adegan tokoh Rara dalam film Imperfect

Safira Mustafa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Mei 2022

Jumat, 15 Juli 2022 22:22 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Fenomena Body Shaming terhadap Perempuan dalam Film Imperfect

    Salah satu bentuk diskriminasi berupa fisik yang dialami oleh tokoh Rara adalah body shaming, karena sifat body shaming yang meghina, mempermalukan, menjelakan, menjadikan fisik individu lain sebagai sebuah bahan bercandaan. Fenomena body shaming dapat menimpa semua individu tidak melihat perbedaan jenis kelamin, umur,jabatan,kekuasaan dan hal lainnya.

    Dibaca : 1.141 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Film Imperfect merupakan film terlaris sepanjang karir Ernest Prakarsa menjadi sutradara dengan pencapaian 2,6 juta penonton. Bahkan film ini mampu melampaui film Cek Toko Sebelah yang juga disutradarai oleh Ernest Prakarsa pada tahun 2016. Selain itu, film ini banyak memenangkan penghargaan diantaranya PARFI Awards, Asian Academiy Creative Awards dan Indonesian Box Office Movie Awards.

    Film ini menceritakan tentang karier, cinta dan timbangan yang diadaptasi dari novel Imperfect: A Journey to Self-Acceptance karya Meira Anastasia, istri Ernst. Film ini mengisahkan tokoh Rara yang diperankan oleh Jessica Mila mengalami bentuk diskriminasi berupa fisik baik itu di lingkungan rumah maupun tempat kerja. Rara yang terlahir dengan gen gemuk dan kulit sawo matang, warisan dari sang ayah. Sementara adiknya Lulu yang diperankan oleh Yasmin Napper terlahir dengan gen sang ibu dengan kulit putih dan kurus. Sehingga membuat dirinya tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya sendiri.

    Salah satu bentuk diskriminasi berupa fisik yang dialami oleh tokoh Rara adalah body shaming. Istilah body shaming sering terjadi saat seseorag mengejek, mengkritik dan menghina bentuk tubuh seseorang yang dinilai kurang menarik. Hal tersebut terlihat saat Rara mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan namun orang-orang disekitarnya terutama tempat bekerja tidak setuju karena mereka mengkritik penampilan Rara sangat tidak pantas untuk menjadi seorang manajer. Bahkan atasan Rara yang notabennya adalah bosnya juga mengkritik dirinya bahwa dalam bekerja bukan hanya otak saja yang diperlukan akan tetapi penampilan juga.

    Berdasarkan laporan ZAP Beauty Index 2020, sekitar 62,2% perempuan di Indonesia pernah menjadi korban body shaming selama hidupnya, mulai dari public figure sampai dengan masyarakat umum. Dari jumlah itu, 47% responden mengalami body shaming karena memiliki kulit yang berjerawat. Lalu 28,1% responden yang menjadi korban body shaming karena memiliki bentuk wajah yang tembam. Adapula 23,3% responden terkena body shaming karena warna kulit gelap. Sementara 19,6% responden terkena body shaming karena dianggap memiliki tubuh yang terlalu kurus.

    Adapun dari perspektif semiotika, film imperfect ini dapat dianalisis menggunakan teori roland Barthes yang terbagi atas denotasi, konotasi dan mitos. Secara denotasi dapat terlihat dari tokoh Rara yang ditandai perempuan bertubuh gemuk dan perempuan yang memiliki kulit gelap. Lalu secara konotasi terlihat dari tokoh Rara dengan penggambaran perempuan yang bertubuh gemuk seringkali mengalami bentuk diskriminasi berupa fisik body shaming dah perempuan dengan kulit gelap selalu dibandingkan dengan perempuan berkulit putih. Dan secara mitos dapat terlihat dari tokoh Rara yang sering dianggap oleh masyarakat sekitar bahwa cantik itu perempuan yang memiliki tubuh langsing dan berkulit putih daripada perempuan yang memiliki tubuh gemuk serta berkulit gelap.

    Dari uraian diatas, dapat terlihat bahwa masih banyak masyarakat terutama perempuan mengalami diskriminasi berupa fisik body shaming. Bahkan beberapa ada juga yang menjadi pelaku dari body shaming sesama perempuan. Bentuk diskriminasi itu mereka alami kebanyakan dari sosial media seperti komentar-komentar negative maupun komentar-komentar yang diarahkan kepada mereka secara langsung sehingga membuat mereka tidak percaya diri. Film yang berdurasi 1 jam 53 menit ini sangat bagus untuk ditonton karena sangat relevan dengan berbagai konsep standar kecantikan perempuan saat ini. Dengan demikian film Imperfect ini dikemas dengan sangat baik sehingga pesan moral dapat tersampikan kepada penonton dan mampu membuat kita untuk sadar pentingnya mencintai diri sendiri.

    Ikuti tulisan menarik Safira Mustafa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.