x

Ilustrasi Keong. Foto: azeret33 dari Pixabay.com

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 19 Juli 2022 13:32 WIB

Fabelria: Kamu Suka Damai?  Kamulah Pemenangnya! (1)

Cerita binatang atau fabel, sering menarik disimak. Ada misi moral yang akan dituturkan. Apalagi jika dikemas sedikit jenaka. Maka, simak fabelria berikut!

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

(Bagian 1)

Keong mendarat.  Ia terus merambat.  Setelah semingguan merendam diri,  niatnya sudah bulat.

Ia harus mengembara mencari makanan yang sedap-sedap di darat. Baru selusin tindak, Keong melihat pohon kelapa yang baru tumbuh.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Nah ini dia!” pikirnya,  “Daun yang ada di pucuk itu pasti lezat disantap. Dengan gayanya yang khas,  rambatannya dipercepat.  Ia miringkan badannya dan terus merambat ke pucuk daun pohon kelapa.

Krrk ... krrrkkk! Dalam sekejap mulutnya tampak menguyah daun tersebut. “Aduh,  tega nian kau Ong! Baru mau tumbuh, kau lahap juga. Kasihanilah aku”  rengek Pohon Kelapa.

 

“Tutup bacotmu! Suka-suka aku lah. Mau kumakan atau kukunyah sampai ke batang-batangnya,  itu urusanku.  Bukan urusanmu! Do you know?” bentak Keong sombong.

 Pohon kelapa itu mengerang. Meradang. Menerjang. Hanya itu yang dilakukan. Lain tidak!

Ia sedih lantaran yang ia pikir sebentar lagi bakal mati. Si Keong yang terus menggerogoti daun kelapa itu, semakin sesukanya.  

Musang yang kebetulan melintas melihat ulah serakah si Keong. I damprat si Keong.

“Ong!” bentak Musang. Keong tersentak dan menghentikan aksi gigitnya. Hentikan perbuatanmu!”

“O-o-o kau ternyata Sang! Mau ikut campur urusan dalam negeri orang? Eh binatang.”  

“Apa kau bilang?  Kuperingatkan kau sampai 5 menit.  Jikasampai 5 menit tak kau indahkan kata-kataku,  akan ku pecahkan tubuhmu!”

Keong menyeringai.  Musang sewot. Detik-detik batas waktu yang ditentukan waktu Rimba bagian tengan,  hampir tiba. Akan tetapi,  belum ada tanda-tanda mau menarik keputusannya.  

Musang mulai mengambil ancang-ancang menyerang. Keong kecut juga.  Dengan penyerahan total tanpa syarat, tanpa agunan,  uang jaminan, dan ketentuan yang berlaku, Keong akhirnya meninggalkan batang pohon kelapa. Keong pergi tanpa kesan dan pesan.

(Bersambung)

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu