x

uang rakyat

Iklan

Wahyu Umattulloh AL

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Maret 2022

Selasa, 26 Juli 2022 06:08 WIB

Aku Ada Uang Maka Aku Ada

Esai mengenai Aku ada uang maka aku ada, ada uang maka aku ada, itulah konsensus pemikiran kali ini, bukan lagi aku berpikir maka aku ada, melainkan aku ada uang maka aku ada.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

AKU ADA UANG MAKA AKU ADA

" Aku ada uang maka aku ada, ada uang maka aku ada,
itulah konsensus pemikiran kali ini,
bukan lagi aku berpikir maka aku ada,
melainkan aku ada uang maka aku ada.
Filsuf Rene Descartes-pun tertawa terpingkal-pingkal
".

       Tertawalah-tertawalah sampai tubuh mu yang ada di dalam kubur terasa sakit-sakit memandang pemikiran mu yang dahulu. Pemikiran Rene Descartes memang menjadi konsep termasyhur yang mendobrak pemikiran Aristotelian, sebab melalui pemikirannya mampu memengaruhi para filsuf-filsuf setelahnya. Pemikiran tersebut sangat terdengar familiar dan umum bagi kalangan akademisi, filsuf, maupun orang-orang non akademisi. Kita tahu bahwa gagasan konsep dari Descartes adalah cogito ergo sum, yang memiliki arti aku berpikir maka aku ada.  Arti dari konsep tersebut memiliki artian mengenai kesadaran sebagai sesuatu yang mendahului ada, dan maksud dari kesadaran adalah menjadikan diri sebagai subjektivitas.

        Urusan mengenai konsep kesadaran paling utama atau paling fundamentalis adalah melalui subjektivitas seseorang, contoh seseorang mengetahui rumah, mobil, dan uang. Berarti akal budi seseorang tersebut menyadari bahwa itu memang rumah, mobil, dan uang. Secara sederhana konsep cogito ergo sum ini adalah berangkat dari kesadaran kemudian dielaborasikan mengenai ada saya, atau bisa berangkat dari kesadaran melalui proses menguji pikiran kita terhadap objek selanjutnya dielaborasikan menjadi saya, shingga muncul konsep saya berpikir maka saya ada. Konsep tersebut memberikan pemahaman bahwa perlunya media berpikir melebihi apapun hingga menjadi unsur pertama untuk mengarungi kehidupan yang beradab.

         Kehidupan beradab dibentuk oleh akal yang mampu menjadi sandaran kita untuk merangkai kehidupan manusia melalui pikiran dan akal yang sudah terkonstruksi  secara rasionalitas untuk melihat apapun   serta memutuskan apapun dalam hidup.  Dalam hidup kali ini tepatnya di zaman serba material, semua hal-hal yang berhubungan dengan materialisme melaju begitu kencang bagai roda yang menggilas apapun serta menerjang apapun demi tujuan material. Tujuan itu menjadi gelombang dalam diri setiap manusia bahkan sebagai subjek utama yang semula adalah diri kita atau akal kita, kini diganti oleh gelombang materialisme yang menjadi tujuan primer sebagai subjek.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

       Perubahan subjektivitas berupa pola pikiran rasionalitas kini digeser oleh gelombang material. Gelombang material yang saya maksudkan adalah gelombang yang memaksa kita untuk terus tancap gas sekencang-kencangnya hingga mampu melewati apapun mulai dari kesabaran, ketakwaan, ketidaktahuan, ketidakpunyaan, kerendahan diri, hingga ranah kontemplasi dalam diri yakni keyakinan akan semua hal. Gelombang tersebut merajai manusia untuk takut meninggalkan sesuatu yang dianggap nikmat, namun perangkap menuju kebatilan secara hakiki. Mengajak kita untuk terus meneguk semua hal yang berlatar belakang materialisme.

      Latar belakang gelombang materialisme meliputi, kekayaan, jabatan, popularitas, uang, stratifikasi harta, pangkat, hingga keunggulan individual. Semua gelombang itu  dirangkap oleh uang, uang menjadi kerak yang hitam bagi gelombang material ini. Uang menjadi alat pengganti hal yang utama yakni diri kita dengan akal pikir secara rasionalitas. Cogito ergo sum-pun tertindih oleh namanya uang, sehingga tidak ada lagi aku berpikir maka aku ada, yang ada saat ini adalah aku ada uang maka aku ada atau ada uang maka aku ada. Itulah konsensus yang menempel dalam diri kita semua.

       Konsensus pergeseran dari akal pikiran yang absolut kini ditelan oleh uang sebagai kerak materialisme. Kita seharusnya menyikapi kerak tersebut hanya sekedar atau hanya sebatas penguji kepercayaan kita kepada Tuhan selama hidup di dunia, namun saat ini kita manusia sebagai gelombang material menganggap uang menjadi skala prioritas utama dan prioritas yang megah dibanding apapun bahkan mengesampingkan ranah kebatinan serta kerohanian murni. Sudut pandang sifat terhadap uang memaksa manusia untuk menghilangkan kesadaran berpikir sebelum dielaborasikan menjadi diri yakni "liyan".

          Kehilangan kesadaran berpikir menjadikan kita melakukan apapun yang penting uang atau materialisme, sebab kita berada digelombang material hingga memaksa kita untuk saling berebut, menyikut, membegal dan bermuka dua demi merangkul banyaknya uang atau jabatan. Entah apa yang kita pikirkan soal uang dan jabatan?. Apakah materialisme adalah segala-galanya?. Mengapa kita saling menyikut atau menjegal orang lain demi uang? ataukah kita ragu dengan Sang Pencipta ataukah kita tidak menerima pembagian-pembagian rezeki oleh Tuhan?, inilah konsep material yang dianggap maju bagi semua orang bahkan negara Indonesia.

            Negara Indonesia sampai saat ini menyempitkan bahwa yang bermakna adalah materi bukan pikiran atau main idea value. Tujuan utama Indonesia materi tapi tetap dianggap sebagai negara tertinggal dan negara berkembang, sekalipun Indonesia setiap hari hingga bertahun-tahun mencari uang atau materialisme. Dilain sisi negara-negara maju lebih mengutamakan nilai-nilai ide dan pikir hingga mampu memanfaatkan negara-negara yang fokus hanya pada uang. Saat ini kita masih berpikir bahwa dengan uang atau materi kita mampu menyawiji kita mampu berkuasa meskipun sebenarnya kita dan negara ini sudah mengerti bahwasannya materi akan meninggalkan kita dan kita akan ditinggalkannya, tetapi kita mengaggap bahwa material adalah satu-satunya pengembaraan menuju keberhasilan yang sejati.

          Pengembaraan menuju kesejatian yakni Ya'Raab, dianggap sebagai perjalanan yang penuh rintangan penuhu dengan duri-duri bengis hingga penuh keblingeran dunia. Keblingeran menganggap bahwa uang adalah paling tinggi dibanding apapun mulai dari sikap, ide, pikiran, budaya, kepercayaan hingga agama-pun lebih rendah dari pada uang. Uang kita anggap sebagai puncak tertinggi dalam hidup hingga uang mampu mengontrol kita, mencuci otak kita untuk sibuk melayani makhluk yang bernama material dunia.

          Saya tidak melarang untuk mencari uang, tetapi saya mengajak teman-teman, saudara-saudara untuk tidak merendah kepada uang. Uang harus kita anggap hanya sebagai efek moralitas dalam bekerja. Jangan menyibukkan kerja, ibadah, dan salat kita untuk mencari material.  Yakinlah bahwa setiap kepribadian kita tidak terbelenggu oleh uang. Semua tidak harus mendapatkan imbalan  berupa material, tetapi imbalan tersebut mampu lebih lembut, lebih halus, lebih megah seperti, kepercayaan, keyakinan,dan amanah. Jadikan uang sebagai cahaya yang menyinari semua orang hingga membawa kita menuju wal akhirah.

                Jangan sampai kita terbawa arus gelombang material hingga menggadaikan moral dan pola pikir kita. Kita adalah manusia yang berakal dan beradab tidak semestinya kita membudak atau membungkuk kepada dunia material, jika memang material disebut oleh semua manusia sebagai peningkatan, maka pasti dan akan terjadi moral serta pikiran ide tidak ada yang ada hanyalah aku ada uang maka aku ada, serta ada uang maka aku ada. Tinggal kita tunggu seberapa kuat diri kita seberapa kuat fisik batin kita memenuhi gelombang material yang tidak pernah ketemu ujungnya.

falya'buduu rabba haadzal bait(i) : (Hendaklah mereka menyembah Rabb, pemilik rumah ini. Al-ladzii ath'amahum min juu'iu(n) Wa aamanahum min khauf(in) : ( Yang telah memberi makan kepada mereka, untuk menghilangkan lapar, dan mengamankan mereka dari ketakutan). 

*Wahyu Umattulloh AL
Jombang-Bareng, 23-7-22*

 

Ikuti tulisan menarik Wahyu Umattulloh AL lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu