x

Pemudik yang terdiri dari satu keluarga naik motor di musim libur lebaran 2018 saat melintas di kawasan Karawang, Jawa Barat. Tempo/Fakhri Hermansyah

Iklan

Wahyu Umattulloh AL

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Maret 2022

Selasa, 9 April 2024 16:58 WIB

Kacamata Ideologi Mudik: Berhasil, Gagal, atau Hancur Tetaplah Pulang

Mudik memiliki nilai-nilai transendental. Mudik sejatinya tidak memandang sukses, gagal, ataupun hancur sekaligus di perantauan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

   Runtutan sistem setelah berpuasa adalah Idul Fitri yang menjadi puncak dari kegiatan wajib selama satu bulan puasa bagi umat muslim. Puncak Idul Fitri diawali dengan fenomena budaya sosial yang sudah mengakar bagi seluruh umat muslim, yakni mulih disik atau mudik. Mudik merupakan dorongan yang muncul dari dalam diri untuk kembali ke asal semula atau di mana tepat kita pertama kali terlahir.

    Mudik digambarkan sebagai sarana sublimasi manusia dalam meleburkan dirinya untuk kembali ke “huma berhati”. Huma yang diartikan sebagai rumah kelahiran dengan segala konstalansinya mulai dari ibu hingga nenek dan memori kenangan bersama lingkungan sekitarnya. Rumah tidak hanya diartikan sebagai rumah yang ditinggali manusia saat ini mungkin di kota dan di luar kota, melainkan huma “ rumah” berhatinya para manusia perantau yang hanya ada di kampung halaman.

    Tradisi mudik sangat jarang ditemukan dipelbagai negara, meskipun negara tersebut penduduknya mayoritas muslim. Indonesia menjadi negara yang memiliki penduduk dengan memeluk agama islam terbanyak kedua di dunia setelah negara Pakistan. Indonesia dengan segala keteraturan tradisi menciptakan konsep mudik sebagai bentuk dari antropologi masyarakat Indonesia dalam merayakan idul fitri. Biasanya momentum mudik tidak hanya berlaku bagi umat muslim saja, melainkan momen ini ikut dirayakan oleh seluruh umat beragama lain untuk ikut kembali ke kampung halamannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

      Nilai-nilai mudik tidak hanya terletak dari segi kesuksesan berkarir di luar kota dengan berbagai pencapaian-pencapain mentereng lainnya. Dalam konsep nilai yang ada di dalam diri manusia terdapat nilai-nilai yang bersifat pragmatisime dan materialisme. Niai-nilai tersebut biasa diaktivasikan oleh manusia untuk memenuhi nilai-nilai modernitas seperti individualistik dan konsumeristik. Hal ini dapat merangsang pencarian identitas baru yang mencerminkan perubahan dalam pola kebudayaan, sepiritual, dan perubahan sosial masyarakat.

       Nilai-nilai modernitas seperti pragmatisme dan materialisme seharusnya tidak dimunculkan sebagai cerminan diri ketika akan melakukan kegiatan mudik yang dipenuhi dengan kefitrahan diri untuk kembali ke rumah berhati yakni kampung halaman. Maka sekalipun kita sukses, atau gagal, terlebih lagi hancur lebur di perantauan tetaplah kembali ke rumah berhati. Mudiklah agar sedikit mengobati kegagalan yang sudah kita alami diluar sana, kembalilah karena mudik memiliki nilai-nilai komperhensif sebagai stimulus yang transendental.

Nilai-Nilai Di Dalam Budaya Mudik

    Nilai modernisasi menjadi nilai fundamental yang menyebabkan adanya budaya mudik. Nilai moderinasiasi memunculkan gejala urbanisasi (perpindahan penduduk Desa ke Kota) dengan didasari adanya mobilitas sosial masyarakat desa yang merantau ke Kota besar demi menggapai tujuannya, melalui harapan perubahan nasib secara sosial ekonomi. Nailai kedua yakni nilai religius atau nilai penghayatan sosial yang dipotret melalui penghayatan dalam melaksanakan budaya kembali ke tempat awal alias “mudik”. Nilai tersebut berada di khasanah budaya sungkeman kepada kedua orang tua, kakek, nenek dan saling memaafkan antar saudara, teman sebaya, dan kerabat.

    Proses agar terlahir suci kembali adalah saling memaafkan. Hal tersebut menjadi kunci utama untuk bisa dimaknai sebagai fitrah dalam diri, sehingga bisa mencapai terhadap konsep kembali asal atau merestrat diri menjadi awal yakni suci lahir batin. Menurut Nurcholis madjid, secara rohani semua orang ingin pulang, kembali ke Tuhan. Hidup adalah sebuah perjalanan ingin kembali ke asal. Maka rumah tidak hanya dipandang secara fisik, melainkan dimaknai secara pisikis. Makna pisikis ini dibuktikan dengan adanya kedekatan atau interaksi antar anggota keluarga khususnya dengan orang tua dan saudara di dalam satu rumah, sehingga pulang adalah perjalanan religius penuh hasrat untuk kembali ke asal.

  Nilai empati menjadi nilai terkahir karena nilai ini rawan akan menjalankan manusia untuk melihat satu manusia dengan manusia lainnya hanya berdasarkan sudut pandang standarisasi yang dibuat dan diukur oleh satu orang saja kemudian dibanding-bandingkan dengan orang lainnya, seperti kesuksesan, uang, jabatan, pekerjaan, dan jodoh. Nilai empati sedikit terpolarisasikan oleh hal tersebut. Seharusnya empati sosial diterapkan dengan melakukan tindakan berupa sikap menghargai perbedaan yang ada disekitarnya seperti perbedaan pendapat dan pencapaian masing-masing. Melalui etika berkomunikasi dengan menghidupkan komunikasi kembali antar saudara melalui pengelolahan emosional, dan kemesraan bersaudara untuk memberikan tindakan empati dengan berbicara tanpa adanya standarisasi parsial yang sudah dijelaskan sebelumnya. Komunikasi tersebut akan berkelindan dengan individu yang mudik untuk memperoleh cinta kenyamanan di tengah-tengah keluarga.

     Penerapan empati sosial dianalogikan sebagai hadiah yang diberikan kepada orang lain ketika akan melaksanakan perayaan idul fitri, sehingga kelapangan hati sesama manusia akan terbangun dengan sendirinya tanpa harus adanya tendensius, berupa perbandingan kesuksesaan, uang, jabatan, pekerjaan, dan jodoh.

    Pada dasarnya orang-orang sedikit melupakan bahwa para pemudik atau kaum urban umumnya bukan golongan the have, tetapi golongan the have not. Mereka merupakan orang-orang kecil yang terpinggirkan dari ketidak adilan pemerataan pembangunan, kesulitannya mencari atau membuat  pekerjaan, dan kesulitannya untuk memenuhi ekspetasi masyarakat desa. Para pemudik hanyalah orang-orang yang harus menelan pahit karena hidupnya sebagian besar masih menderita, kekurangan materi, dan ketidak mampuannya menemani orang tua, tetapi mereka tetap mencoba untuk mengisi kekurangannya dengan cara menemukan makna melalui budaya mudik.

       Maka marilah kita memberikan apresiasi kepada kelompok pemudik untuk selalu memberikan nilai-nilai yang positif seperti memberikan implementasi kepedulian empati sosial, sebegai alat religiusitas kita dalam membangun kefitrahan diri kita masing-masing. Menghargai perbedaan pencapaian dalam hal materialisme, jabatan, dan keunggulan lainnya. Sekalipun mereka berhasil, gagal, ataupun hancur sekaligus tetap pulanglah karena mereka adalah  harta yang ditunggu-tunggu oleh masing-masing ibu, bapak, dan saudara-saudaranya. Jangan pernah malu untuk pulang dalam versi apapun karena semua versi akan terlihat mewah bagi ibu dan bapak kita.

Jombang-Bareng 9-04-24.

*Penulis
Wahyu Umattulloh AL*.

Ikuti tulisan menarik Wahyu Umattulloh AL lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

10 jam lalu