Tantangan Gerakan Literasi, Melawan Kaum Belum Berkuku Hendak Mencubit - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Selasa, 26 Juli 2022 06:08 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Tantangan Gerakan Literasi, Melawan Kaum Belum Berkuku Hendak Mencubit

    Tantangan dunia literasi di Indonesia harus berhadapan dengan kaum belum berkuku hendak mencubit. Hanya bisa omong tanpa bisa melakukan. Kok bisa?

    Dibaca : 630 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    KAUM BELUM BERKUKU HENDAK MENCUBIT …

    Itu hanya ungkapan. Untuk orang-orang yang belum sadar. Bahwa dirinya bukan apa-apa dan bukan pula siapa-siapa. Belum berbuat apa-apa tapi sudah banyak bicara tentang apa pun. Hanya tahu sedikit tapi lagkanya tahu segalanya. Orang-orang yang gemar ngurus hidup orang lain. Lalu abai memperbaiki dirinya sendiri.

     

    Peribahasa nenek moyang, “belum berkuku hendak mencubit”. Belum tentu benar tapi mudah menyalahkan orang lain. Belum bisa apa-apa tapi seperti sudah melakukan segalanya. Hanya bisa memlihat keburukan tanpa bisa berbuat kebaikan. Belum punya kuku tapi maunya mencubit.

     

    Itulah realitas yang terjadi di grup-grup WA, di komunitas tukang gibah. Tiap kebaikan yang dilakukan pemimpin atau orang lain selalu dicari salahnya. Lebih senang menghakimi dan bergunjing yang tidak ada manfaatnya. Omong banyak tapi kerjanya kosong. Persis seperti orang-orang frustrasi. Karena mimpi dan harapannya tidak tercapai. Jadi bisanya hanya mencari kesalahan orang lain.

     

    Di taman bacaan pun ada saja orang-orang yang “belum berkuku hendak mencubit”. Bantu tidak peduli tidak. Bahkan injak kaki ke taman bacaan pun tidak. Tapi giliran omong taman bacaan seolah tahu segalanya. Orang-orang yang memaksa pikiran dan perilaku keliru seolah-olah benar. Tidak suka melihat taman bacaan maju, tidak senang pada orang-orang yang ada di taman bacaan. Hidup di dunia nyata tapi tidur dengan takhayul. Isinya kebencian dan ketakutan. Gagal melihat kebaikan di dekatnya sendiri. Boro-boro mau jadi agen kebaikan untuk umat.

     

    Belum berkuku hendak mencubit. Persis seperti pepatah “tidak pandai menari dikatakan lantai yang terjungkat”. Maka jadilah “gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak”. Dia yang tidak lakukan apa-apa, dia yang punya salah. Tapi seolah semua yang dilakukan orang lain salah. Sama sekali tidak literat!

     

    Manusia literat, tentu tidak usah khawatir. Atas apa yang dikatakan orang lain, atas apa yang dipikirkan orang yang tidak berguna. Karena memang, mereka hanya bisa bicara tanpa bisa mengerjakan kebaikan apa pun. Cukup hati-hati saja. Karena di mana pun, selalu ada mana kawan mana lawan. Selalu ada orang yan tidak suka atas perbuatn baik yang kita lakukan.

     

    Tetaplah lakukan yang terbaik dalam hidup. Mumpung masih ada waktu, mumpung ajal belum tiba. Di dunia literasi dan taman bacaan, tidak cukup punya pikiran yang bagus bila tidak mampu menggunakannya dengan baik.

     

    Belum berkuku hendak mencubit. Terkadang dalam hidup, ada saja orang yang gagal “bermain” di antara naluri dan akal. Sehingga terjebak pada hawa nafsu dan kebobrokan. Salam literasi #PegiatLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.